DALAM Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu adab dalam berpuasa adalah tidak memperbanyak tidur pada siang hari. Tujuannya agar orang yang berpuasa benar-benar merasakan lapar dan dahaga, sekaligus menyadari melemahnya kekuatan jasmani.
Pengalaman fisik ini bukan sekadar efek biologis, melainkan sarana untuk menundukkan hawa nafsu dan menjernihkan hati. Dengan merasakan kelemahan tersebut, jiwa menjadi lebih lembut dan lebih mudah menerima cahaya ketakwaan.
Al-Ghazali menekankan bahwa rasa lemah itu tidak seharusnya dihindari dengan tidur berlebihan. Justru melalui kesadaran atas keterbatasan diri, seseorang dilatih untuk bersikap rendah hati dan semakin bergantung kepada Allah.
Jika siang hari diisi dengan kesungguhan dan pengendalian diri, maka hikmah puasa akan lebih terasa secara batiniah.
Keadaan ini kemudian dilanjutkan pada malam hari dengan tidak memperbanyak tidur, melainkan menghidupkannya dengan shalat dan wirid. Ketika tubuh terkendali dan jiwa terlatih, shalat malam terasa lebih ringan dan khusyuk.
Dalam kondisi demikian, hati lebih terjaga sehingga tidak mudah dikelilingi oleh godaan setan, dan tujuan puasa sebagai penyucian jiwa pun tercapai. []
Sumber: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Asy-Syifa Press, 2009
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

