GODAAN kedua di bulan Ramadhan adalah bisikan halus yang terdengar masuk akal. Shalat tarawih, katanya, tidak harus berjamaah di masjid. Bisa dilakukan sendiri di rumah. Lebih tenang. Lebih santai. Tidak perlu keluar malam.
Secara hukum, memang benar. Shalat tarawih tetap sah jika dikerjakan sendirian di rumah. Tidak ada yang mengharamkan. Tidak ada yang membatalkan. Dari sisi fikih, itu dibolehkan.
Tetapi ibadah bukan hanya soal sah atau tidak sah.
Jika kita melihat praktik di masa Rasulullah ﷺ, gambaran yang muncul berbeda. Pada tiga malam beliau melaksanakan tarawih di bulan Ramadhan, para sahabat datang dan mengikuti beliau. Mereka shalat berjamaah. Tempatnya bukan di rumah masing-masing. Tetapi di Masjid Nabawi.
BACA JUGA: Akibat Menyepelekan Maksiat di Siang Hari Ramadhan
Jumlah jamaah semakin banyak setiap malam. Justru karena itulah beliau menghentikannya setelah tiga malam. Bukan karena tidak penting. Tetapi karena khawatir shalat itu akan diwajibkan kepada umatnya.
Setelah beliau wafat dan kekhawatiran itu tidak ada lagi, sebagian sahabat melaksanakan shalat malam sendiri-sendiri. Ada yang shalat, ada yang membaca Al-Qur’an, berpencar di masjid. Melihat kondisi ini, Umar bin Al-Khattab mengambil keputusan penting.
Beliau mengumpulkan kaum muslimin dalam satu jamaah. Satu imam. Dilaksanakan bersama di masjid. Beliau ingin menghidupkan kembali sunnah yang pernah dicontohkan Nabi ﷺ. Para sahabat sepakat dengan kebijakan itu. Tidak ada penolakan. Terjadilah ijma’.
Sejak saat itu, tarawih berjamaah di masjid menjadi syiar Ramadhan. Berjalan dari generasi ke generasi. Menyebar ke seluruh negeri Islam. Bertahan lebih dari 14 abad.
Sekarang muncul lagi godaan. Tarawih sendiri saja di rumah. Alasannya praktis. Alasannya nyaman.
BACA JUGA: Imam Syafi’i Khattamkan Al-Quran 60 Kali selama Ramadhan, Gimana Bisa?
Memang sah. Tetapi sah tidak selalu berarti lebih utama.
Kalau tanpa uzur, memilih rumah dan meninggalkan jamaah berarti meninggalkan semangat syiar. Meninggalkan kebersamaan. Meninggalkan tradisi mulia yang diwariskan para sahabat.
Kalau memang ada alasan kuat, silakan. Tetapi kalau hanya karena malas atau ingin nyaman, jujurlah pada diri sendiri. Jangan bungkus kemalasan dengan dalih fikih.
Ramadhan adalah bulan perjuangan. Bukan bulan mencari alasan. []
RUJUKAN: RUMAH FIQIH
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

