Ketika Suami Ingin Poligami karena Sudah Tak Berhasrat kepada Istri Pertama

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Freepik

DALAM kehidupan rumah tangga, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk. Salah satu yang paling sensitif adalah ketika seorang suami merasa hasratnya kepada istri pertama mulai memudar, lalu menjadikan poligami sebagai solusi. Persoalannya, benarkah hilangnya hasrat menjadi alasan yang tepat untuk berpoligami? Ataukah ada hal lain yang perlu diluruskan terlebih dahulu?

Poligami dalam Islam: Boleh, Tapi Tidak Sembarangan

Islam tidak menutup pintu poligami. Dalam Al-Qur’an, Allah memberi kelonggaran bagi laki-laki untuk menikahi hingga empat wanita, dengan syarat mampu berlaku adil. Namun, izin ini bukan perintah, apalagi pembenaran untuk mengikuti hawa nafsu.

Banyak ulama menjelaskan bahwa poligami adalah rukhsah (keringanan), bukan kewajiban. Ia hadir sebagai solusi dalam kondisi tertentu: misalnya ketika istri sakit keras dan tak mampu menjalankan kewajiban rumah tangga, atau dalam situasi sosial tertentu yang menuntut perlindungan bagi perempuan.

BACA JUGA: Hukum Lelaki yang Suka Bercanda Pengen Poligami

Jika alasan utamanya hanya “sudah tidak berhasrat lagi”, maka perlu ditanya: apakah hasrat memang hilang secara alami, atau karena hati yang mulai berpaling?

Mengapa Hasrat Bisa Memudar?

Dalam pernikahan yang telah berjalan lama, wajar jika gejolak cinta tak lagi seperti masa awal. Namun, hasrat yang menurun sering kali bukan semata-mata karena faktor fisik. Ada beberapa sebab yang sering terjadi:

  1. Kurangnya komunikasi emosional.
    Hubungan suami istri bukan hanya soal fisik, tapi juga kedekatan hati. Jika komunikasi renggang, kehangatan pun perlahan memudar.

  2. Masalah yang tak pernah diselesaikan.
    Luka batin, pertengkaran lama, atau kekecewaan yang dipendam dapat membunuh ketertarikan secara perlahan.

  3. Perbandingan yang tidak sehat.
    Media sosial dan lingkungan pergaulan kadang membuat seseorang membandingkan istrinya dengan wanita lain.

  4. Faktor usia dan kesehatan.
    Perubahan hormon, kelelahan, atau stres juga memengaruhi hasrat.

Sebelum memutuskan poligami, seorang suami perlu jujur bertanya pada diri sendiri: apakah ia sudah berusaha memperbaiki hubungan dengan istrinya?

Dampak Psikologis pada Istri Pertama

Bagi seorang istri, mendengar suaminya ingin menikah lagi karena “sudah tak berhasrat” adalah pukulan berat. Ia bisa merasa tidak dihargai, tidak cantik lagi, atau gagal sebagai istri. Luka ini bukan sekadar cemburu, tapi menyentuh harga diri dan perasaan terdalam.

Jika poligami dilakukan tanpa empati dan persiapan matang, bukan hanya istri yang terluka, tapi juga anak-anak yang merasakan perubahan suasana rumah.

https://shopee.co.id/product/37419605/4717466921?affiliate_seller_voucher_token=2ijYYWYXMuo1SwznL7QgKokJbgwpgv6RW353tLMJc&gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVEg0SDd3VWo1MDQyT052d3EvY1B4WVlFNHJuV0RxbnJxRFM5QUhhOHZBMThDY1RNQi9rNDJ1UUFnZlF6M04yYmlORm5ySXE1YlRBTFJyQURWajZiNU56N0s3Qi9VcHVtRmIyWUY1VXE3OXJxZEZhSzNtRFk2STAyWVBDb3dhVFd3PT0&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54jsa4mp00lu&utm_campaign=id_xIyvvSHmLh&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8nvgpb1hph5

Introspeksi Sebelum Melangkah

Dalam sejarah Islam, ada banyak rumah tangga yang diuji. Bahkan dalam keluarga para sahabat Nabi, dinamika itu ada. Namun, mereka menempatkan tanggung jawab dan keadilan di atas keinginan pribadi.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan dalam memperlakukan istri-istrinya dengan adil dan penuh kasih. Dalam kehidupan beliau bersama para ummul mukminin seperti Aisyah dan Khadijah, terlihat bagaimana cinta, penghormatan, dan perhatian menjadi fondasi utama rumah tangga.

Perlu diingat, Rasulullah tidak pernah menikah lagi selama Khadijah masih hidup. Ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan penghargaan terhadap pasangan memiliki nilai yang sangat tinggi.

Poligami: Solusi atau Pelarian?

Jika seorang suami merasa tidak lagi tertarik kepada istrinya, mungkin yang perlu diperbaiki bukan pasangannya, melainkan kualitas hubungan mereka.

Beberapa langkah yang bisa ditempuh sebelum berpikir tentang poligami:

  • Melakukan komunikasi terbuka tanpa menyakiti.

  • Mengajak istri memperbaiki kualitas hubungan, termasuk dalam aspek fisik dan emosional.

  • Berkonsultasi dengan konselor pernikahan atau ustaz yang bijak.

  • Memperbaiki kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah.

Sering kali, ketika spiritualitas meningkat, pandangan terhadap pasangan pun berubah. Yang dulu dianggap biasa, bisa kembali terasa istimewa.

Keadilan Bukan Sekadar Nafkah

Banyak orang mengira adil dalam poligami hanya soal pembagian waktu dan materi. Padahal, keadilan juga mencakup perasaan, perhatian, dan penghormatan. Bahkan Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia sulit berlaku adil sepenuhnya dalam urusan hati.

Jika sejak awal alasan poligami adalah karena tidak lagi berhasrat kepada istri pertama, maka potensi ketidakadilan sangat besar. Istri pertama bisa merasa tersisih secara emosional.

BACA JUGA: Poligami, Apa Saja Sih Syaratnya?

Poligami adalah bagian dari syariat Islam, namun ia bukan solusi instan untuk masalah hasrat. Jika suami ingin berpoligami karena sudah tak lagi tertarik kepada istri pertama, hendaknya ia berhenti sejenak dan melakukan muhasabah.

Pernikahan bukan hanya tentang gairah, tetapi tentang komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab. Hasrat bisa naik turun, tetapi cinta yang dirawat dengan iman dan usaha akan menemukan jalannya kembali.

Sebelum mengambil keputusan besar yang akan mengubah hidup banyak orang, tanyakan pada hati dan iman: apakah ini benar-benar solusi terbaik, atau hanya pelarian dari masalah yang belum diselesaikan? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *