MENURUT Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa memiliki tingkatan-tingkatan. Pada level yang paling tinggi, seseorang bukan hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mampu “mempuasakan” hatinya—mengendalikan bisikan batin dari dorongan nafsu dan pikiran-pikiran duniawi.
Pada tingkatan ini, hati dan pikiran sepenuhnya tertuju kepada Allah. Pandangannya terhadap dunia pun berubah: ia tidak lagi melihat dunia sebagai tujuan, melainkan sekadar tempat beramal saleh—ladang untuk menanam bekal menuju kehidupan akhirat.
Seorang sufi pernah berkata, “Siapa saja yang pada siang hari di bulan Ramadhan hatinya sibuk memikirkan makanan dan minuman untuk berbuka, niscaya dicatat baginya satu cela atas nilai puasanya.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa puasa yang istimewa bukan sekadar menahan fisik, melainkan juga membebaskan hati dari keterikatan yang berlebihan pada kenikmatan dunia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

