RAMADHAN dalam sejarah kenabian bukan hanya bulan ibadah dan ketenangan spiritual. Ia juga mencatat momentum genting ketika peta kekuasaan berubah dan para penentang utama Rasulullah ﷺ satu per satu tumbang.
Peristiwa paling menentukan terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah dalam Perang Badar. Di padang pasir Badar, sekitar 300 kaum Muslimin berhadapan dengan lebih dari 1.000 pasukan Quraisy. Namun yang gugur bukan tokoh biasa. Yang tewas justru inti kekuatan politik Mekah.
Di antara mereka adalah Abu Jahal, arsitek utama persekusi terhadap kaum Muslimin. Ia bukan sekadar penolak dakwah, melainkan penggerak propaganda, intimidasi, dan kekerasan sistematis terhadap Nabi ﷺ. Bersamanya gugur Utbah bin Rabi’ah, elite terpandang Quraisy, serta saudaranya Syaibah bin Rabi’ah dan putranya Walid bin Utbah.
Tokoh lain yang tewas adalah Umayyah bin Khalaf, dikenal luas karena penyiksaannya terhadap Bilal bin Rabah. Juga Uqbah bin Abi Mu’ith, yang pernah meletakkan kotoran di punggung Nabi saat beliau sujud di depan Ka’bah.
Kematian mereka bukan sekadar angka korban perang. Ia memutus mata rantai kepemimpinan oposisi Mekah. Struktur kekuasaan yang selama ini menopang penindasan terhadap Islam runtuh dalam satu pertempuran.
BACA JUGA: Puasa Ramadhan di Badar, Kelaparan di Ahzab
Enam tahun kemudian, Ramadhan kembali menjadi saksi perubahan sejarah melalui Fathu Makkah. Namun berbeda dengan Badar, penaklukan ini berlangsung hampir tanpa pertumpahan darah. Mayoritas musuh justru mendapat amnesti.
Ramadhan, dengan demikian, mencatat dua wajah sejarah: kejatuhan simbol-simbol kezaliman di Badar dan kemenangan moral penuh pemaafan di Mekah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

