Lailatul Qadar Menurut Hamka

5 Min Read
Foto: Historia.id

PADA suatu hari,
seorang musyrik dari zaman jahiliyah
mencari Nabi ﷺ.

Ia datang dengan niat membunuh.
Sebab dalam pandangannya,
Muhammad ﷺ adalah pengacau.

Di tengah jalan,
seseorang bertanya kepadanya,
“Engkau hendak ke mana?”

Ia menjawab tegas.
Ia mencari Muhammad.
Ia hendak membunuhnya.

Sebab telah banyak pemuda, katanya,
yang tersesat dari ajaran nenek moyang.
Semua itu, menurutnya,
kerana mengikuti ajaran Muhammad.

Orang itu lalu menasihatinya.
Sebelum mencari Muhammad, katanya,
pergilah dahulu melihat adik perempuanmu.

BACA JUGA: Apakah Seseorang Bisa Merasakan Datangnya Lailatul Qadar?

Sebab adiknya pun telah “berubah”.

Dengan marah,
ia segera menuju rumah adiknya.

Ketika sampai,
ia melihat sesuatu yang mengejutkan.

Adiknya sedang membaca sebuah catatan.
Dengan sangat khusyuk.

Suaminya duduk mendengarkan.
Juga dengan khusyuk.

Mereka tahu dia datang.
Tetapi mereka tidak peduli.

Dengan garang,
ia meminta catatan itu.
Ia ingin tahu isinya.

“Tidak mahu,” kata adiknya.

“Abang tidak boleh.
Jangankan membaca,
menyentuhnya pun tidak.”

Murka pun meledak.
Adiknya ditempeleng.

Pipi berdarah.
Catatan itu terjatuh.

Ia memungutnya.
Lalu membaca.

Pangkal ayat Surah Thaha:

“Tidaklah kami turunkan kepada engkau Al-Quran supaya engkau sengsara.
Melainkan peringatan bagi orang yang takut.
Diturunkan oleh yang menjadikan bumi dan langit yang tinggi.
Iaitu Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arasy.”
(Surah Thaha ayat 1–5)

https://s.shopee.co.id/LhtgZhWNW

Ayat itu dibacanya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.

Diulang-ulangnya.

Lalu datanglah suasana
yang menentukan arah hidup manusia
seribu bulan itu.

Ayat-ayat itu masuk
ke seluruh tubuhnya.
Ke seluruh jiwaraganya.

Wajahnya berubah.

Ia berkata kepada adiknya,

“Di mana Muhammad sekarang?
Bawa aku kepadanya!
Aku akan masuk Islam!”

Dialah
Umar bin Khattab.

—

Seorang pemuda merayap malam-malam.
Ia mencari perempuan.

Perempuan yang dapat diajak
berbuat jahat.
Berzina.

Tiba-tiba ia melihat sebuah rumah.
Lampunya terang.

Dari dalam terdengar suara perempuan.
Suara merdu.

Seperti orang bernyanyi.

Ia tahu rumah itu.
Di sana ada perempuan cantik.
Tidak bersuami.

Ia menyelinap masuk.

Di depan bilik perempuan itu
ia terpegun.

Wajah perempuan itu cantik.
Suaranya merdu.

Tetapi sebenarnya
perempuan itu tidak bernyanyi.

Ia sedang membaca Al-Quran.
Dengan sangat khusyuk.

Tiba-tiba terdengar oleh pemuda itu
sebuah ayat:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman
buat tunduk hati mereka mengingat Allah
dan kebenaran yang telah Dia turunkan.”
(Surah Al-Hadid ayat 16)

Ayat itu seakan-akan
dipukulkan kepadanya.

Padahal perempuan itu
tidak tahu
ada orang yang mengintip.

Telah datang saat itu.

Satu saat
yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Pemuda itu merasakan
di lubuk jiwanya,
di hati sanubarinya,

bahawa iman itu sebenarnya ada.

Hanya selama ini
diselubungi hawa nafsu.

Runtuhlah pada saat itu
segala angkara syahwat.

Timbullah kesedaran malu.
Dan berbagai perasaan kemanusiaan.

Dengan langkah lambat
ia turun.

Ia menuju masjid.
Lalu shalat.

Sejak malam itu
hidupnya berubah.

Seratus persen berubah.

Dialah orang salih yang terkenal,
Fudhail bin Ayyad.

—

Di Bukittinggi,
kira-kira delapan puluh tahun yang lalu,

seorang pemuda parewa
dikejar-kejar orang.

Kira-kira pukul tiga
tengah malam.

Ia bersembunyi
di tebat
di perkarangan sebuah surau.

Orang-orang mencari.
Tetapi tidak menemukannya.

Akhirnya mereka pergi.

Ia tetap bersembunyi.
Sampai datang waktu subuh.

Tiba-tiba ia mendengar
azan subuh.

Setiap kalimat azan itu
seakan dituangkan
ke seluruh jiwaraganya.

Telah datang kepadanya
saat yang nilainya
lebih dari seribu bulan.

Sejak waktu itu
hidupnya berubah.

Ia meminta kepada ayahnya
agar dihantar ke Mekah.

Beberapa tahun
ia belajar di Mekah.

Lalu ia pulang.

Ia menjadi
ulama besar.

Dialah
Almarhum
Syeikh Muhammad Jamil Jambek.

BACA JUGA: Ketika Malaikat Turun di Lailatul Qadar: Tenteram yang Tidak Dilahirkan oleh Dunia

Maka,
untuk mendapatkan anugerah
suasana pendek Lailatul Qadar,

yang nilainya lebih
dari seribu bulan,

yang diperlukan
adalah hati yang ikhlas.

Hati yang dihadapkan
semata-mata kepada Allah.

Mulailah dengan kesedaran
akan diri sendiri.

Lalu lihatlah.
Renungkanlah
alam di sekeliling.

“Wahai jiwa yang telah mencapai ketenteramannya,
pulanglah kembali kepada Tuhanmu,
dalam keadaan redha dan diredhai.

Maka masuklah
dalam golongan hamba-Ku,

dan masuklah
ke dalam syurga-Ku.” []

RUJUKAN:  BKM AT-TAQWA

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *