DALAM Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan. Selain puasa lahir dengan menahan makan dan minum, terdapat pula puasa batin, yaitu puasanya hati. Pada tingkatan ini, hati tidak dibiarkan bebas memikirkan apa saja, tetapi diarahkan sepenuhnya kepada Allah dan kehidupan akhirat.
Puasanya hati berarti menahan diri dari cita-cita yang rendah, ambisi duniawi yang berlebihan, serta pikiran-pikiran yang melalaikan. Hati dijaga agar tidak bergantung kepada selain Allah, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Dalam kerangka tazkiyatun nafs yang dibahas Al-Ghazali, pengosongan hati dari selain-Nya merupakan inti penyucian jiwa dan jalan menuju keikhlasan.
Adapun batalnya puasa hati terjadi ketika ia terus-menerus dipenuhi pikiran tentang selain Allah dan hari kemudian, terutama jika tenggelam dalam urusan dunia karena kurangnya keyakinan terhadap karunia dan rezeki yang telah dijanjikan-Nya. Ketika hati lebih percaya pada perhitungan dunia daripada janji Allah, ruh puasa melemah. Karena itu, Ramadhan menjadi latihan untuk meneguhkan tawakal dan memusatkan orientasi hidup kepada-Nya. []
Sumber: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Asy-Syifa Press, 2009
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

