Mana Dulu, Puasa 6 Hari Syawal ataukah Qadha Ramadhan?

Dini Koswarini
2 Min Read
Foto: Freepik

PUASA enam hari di bulan Syawal berkaitan erat dengan kesempurnaan puasa Ramadhan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no. 1164).

Kata “kemudian” dalam hadits tersebut menunjukkan urutan. Artinya, seseorang harus menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu—termasuk mengganti (qadha) hari yang terlewat—baru setelah itu melaksanakan puasa enam hari Syawal agar memperoleh keutamaan yang disebutkan.

Orang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan tidak dapat dikatakan telah menyempurnakan puasa Ramadhan secara penuh. Karena itu, ia belum termasuk dalam cakupan hadits tersebut hingga ia menunaikan qadha yang wajib.

https://shopee.co.id/product/146266274/19989707042?affiliate_seller_voucher_token=8bCnE5QAm6iR2WjyYue2wtRa9DCMLatZPgassd7jTy&gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkWVp3RFo3Mkw5czd4Z0hzdEF1WVFibmRNdmxzQ1libytWb1EyM01Ja0JSaG8rc1VQKzNRMklnUVFNQWR1MTE3WU5GWXAxd1VxWThXWS96dnI0QmhJbXREQWVIcjg4eW1ZU3ZVeXdKcWZlakhPaFptU2d3eVE1azBpTlVHN2VyaytNeEF2d3pmU2ZkajR3Uk41UHhhdVpvPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54kctt0m00ko&utm_campaign=id_9GGGTm4ed7&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8zwqcxepm8t

Namun, terdapat keringanan bagi orang yang memiliki uzur. Misalnya, seorang wanita yang mengalami nifas sehingga tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, lalu menghabiskan seluruh bulan Syawal untuk mengqadha puasanya. Dalam kondisi seperti ini, ia boleh melaksanakan puasa enam hari Syawal di bulan Dzulqa’dah. Ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukannya di bulan Syawal, karena penundaan tersebut disebabkan oleh uzur yang dibenarkan.

Hal serupa berlaku bagi siapa saja yang memiliki alasan syar’i sehingga tidak sempat melaksanakan puasa Syawal tepat waktu. Namun, bagi orang yang sengaja melewatkan puasa enam hari Syawal tanpa alasan, maka ia tidak akan mendapatkan keutamaannya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله menegaskan bahwa seseorang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan wajib mendahulukan qadha sebelum melaksanakan puasa sunnah Syawal. Sebab, ia belum dianggap telah menyempurnakan puasa Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam hadits.

BACA JUGA: Bolehkah Puasa Syawal Dilakukan Tidak Berurutan Hari?

Selain itu, mengqadha puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang termasuk rukun Islam, sehingga harus diprioritaskan. Adapun puasa enam hari Syawal hukumnya sunnah (dianjurkan). Maka, mendahulukan kewajiban lebih utama daripada amalan sunnah.

Kesimpulannya, yang paling tepat adalah menyelesaikan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, kemudian melaksanakan puasa enam hari Syawal. Jika ada uzur hingga tertunda, maka boleh menggantinya di bulan berikutnya dan tetap berharap pahala dari Allah.

Wallahu a’lam. []

SUMBER: HUMAYRO

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *