DI Madinah, Rasulullah ﷺ bukan hanya pemimpin umat, panglima perang, dan pembawa wahyu. Di sela semua itu, beliau adalah pangkuan yang aman bagi bayi-bayi kecil. Tangannya yang sama yang mengangkat doa ke langit, juga mengangkat tubuh mungil yang belum mengenal dunia.
Sejarah sering menulis Nabi ﷺ di medan besar. Tetapi ada medan lain yang lebih sunyi, lebih lembut: pangkuan beliau.
Ibrahim: Bayi yang Datang dan Pergi
Ibrahim, putra Rasulullah ﷺ dari Mariyah al-Qibthiyyah, lahir di Madinah. Nabi ﷺ menyambutnya dengan kegembiraan yang tenang. Beliau mengadzani telinganya, mendoakannya, dan memangkunya.
Anas bin Malik meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ sering mengunjungi Ibrahim, menggendongnya, mencium kepalanya.
Namun usia Ibrahim singkat. Ketika ia wafat, Rasulullah ﷺ memangkunya dalam keadaan terakhir. Air mata mengalir dari mata beliau. Seorang sahabat heran, “Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di pangkuan itu, kita belajar: iman tidak membunuh rasa. Bahkan Nabi ﷺ tidak menolak kesedihan seorang ayah. Pangkuan beliau menjadi tempat terakhir seorang bayi—dan tempat pertama kita belajar tentang keseimbangan iman dan kemanusiaan.
Ibn Qayyim dalam Zād al-Ma‘ād menegaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah dalil bolehnya menangis karena cinta, selama tidak melampaui batas takdir.
Hasan dan Husain: Bayi yang Naik ke Dada Kenabian
Hasan dan Husain bukan hanya cucu. Mereka adalah bayi-bayi yang sering berada di dada Rasulullah ﷺ. Beliau menggendong mereka, mencium mereka, bahkan membiarkan mereka menaiki punggungnya ketika shalat.
Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah ﷺ mencium Hasan. Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Aku punya sepuluh anak, tak satu pun pernah kucium.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pelukan itu bukan kebiasaan budaya semata. Ia adalah pernyataan nilai. Bayi tidak dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah. Mereka justru bagian dari keberkahan ibadah itu sendiri.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa mencium dan memangku bayi adalah sunnah yang menunjukkan kesempurnaan akhlak, bukan tanda kelemahan.
Bayi yang Mengencingi Pakaian Nabi ﷺ
Suatu hari, seorang bayi dipangku Rasulullah ﷺ. Bayi itu kencing di pakaian beliau. Para sahabat terkejut dan hendak menegur bayi itu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jangan kalian hentikan kencingnya.”
(HR. Bukhari)
Setelah selesai, beliau hanya meminta air dan membasuhnya.
Ini bukan sekadar adab fiqh. Ini pendidikan jiwa. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa bayi tidak boleh diperlakukan dengan kemarahan. Pangkuan Nabi ﷺ bukan tempat takut—tetapi tempat aman.
Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menafsirkan hadits ini sebagai dalil bahwa rahmat harus mendahului reaksi, terutama kepada anak kecil yang belum memahami apa-apa.
Bayi-Bayi yang Dibawa untuk Didoakan
Banyak sahabat membawa bayi mereka kepada Rasulullah ﷺ. Mereka diletakkan di pangkuan beliau. Nabi ﷺ mendoakan, mentahnik (mengunyahkan kurma lalu mengoleskannya ke mulut bayi), dan memberi nama.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mentahnik bayi dengan kurma, sambil mendoakan keberkahan.
Pangkuan Nabi ﷺ menjadi gerbang pertama kehidupan spiritual. Sebelum bayi mengenal dunia, ia diperkenalkan dengan doa, sentuhan, dan keberkahan.
Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn menyebut tahnik dan doa Nabi ﷺ sebagai simbol bahwa iman ditanamkan bahkan sebelum akal sempurna—melalui rasa, bukan logika.
BACA JUGA: Anak-Anak yang Bermain Bersama Rasulullah ﷺ
Refleksi: Pangkuan yang Hilang dari Pendidikan Kita
Hari ini, banyak anak tumbuh dengan aturan, jadwal, dan target. Tetapi sedikit yang tumbuh dengan pangkuan yang menenangkan. Kita sering ingin anak cepat paham, cepat patuh, cepat dewasa—tetapi lupa bahwa Rasulullah ﷺ memulai dari memangku, mencium, dan menenangkan.
Bayi-bayi di pangkuan Rasulullah ﷺ tidak menghafal ayat. Mereka tidak mengerti tauhid. Tetapi mereka merasakan iman—lewat sentuhan yang penuh kasih.
Mungkin pertanyaan kita hari ini bukan:
“Sudah sejauh mana anak memahami agama?”
Tetapi:
“Sudah sejauh mana anak merasa aman bersama agama?”
Karena di Madinah, agama pertama kali dikenalkan bukan lewat perintah, tetapi lewat pangkuan Nabi ﷺ—pangkuan yang membuat iman terasa hangat, manusiawi, dan layak dicintai.
Dan barangkali, dari situlah peradaban dimulai:
dari bayi yang dipeluk,
bukan dari anak yang ditakuti. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

