Abu Idris al-Khawlani, Lebih Menyukai Menjadi Storyteller

Nasrulloh Baksolahar
2 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ABU Idris al-Khawlani—yang bernama lengkap A’idzu billah bin Abdullah—adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di wilayah Syam. Ia dikenal sebagai ahli fikih, qadhi (hakim), sekaligus perawi hadis yang terpercaya.

Ia lahir pada tahun Fathu Makkah, ia berguru kepada para sahabat besar seperti Abu Dzar al-Ghifari, Hudzaifah bin al-Yaman, dan Abu Darda. Riwayatnya pun tercatat dalam kitab-kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari dan Muslim.

Salah satu sisi menarik dari kepribadiannya adalah kecintaannya pada penyampaian kisah—sebuah metode dakwah yang hidup dan menggerakkan hati.

Dikisahkan oleh ayahnya Khalid bin Yazid bin Abdul Malik, “Kami pernah duduk bersama Abu Idris al-Khawlani, lalu ia mulai bercerita kepada kami.”

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Pada suatu majelis, ia mengisahkan berbagai peperangan yang terjadi pada masa Nabi Muhammad. Ceritanya mengalir rinci dan penuh penghayatan. Hingga salah seorang yang hadir bertanya, “Apakah engkau ikut dalam peperangan itu?”

Abu Idris menjawab singkat, “Tidak.”

Namun orang itu terkejut dan berkata, “Aku ikut langsung dalam peperangan itu bersama Rasulullah, tetapi engkau lebih hafal dan lebih rinci dalam menceritakannya daripada aku sendiri.”

Kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan Abu Idris bukan pada pengalaman langsung, tetapi pada kedalaman ilmu dan kemampuannya menghidupkan sejarah melalui tutur kata.

Dalam riwayat lain, Abdul Malik bin Marwan pernah mencopot Abu Idris dari perannya sebagai penyampai kisah dan mengangkatnya menjadi hakim. Namun keputusan itu justru membuatnya gelisah. Ia berkata, “Apakah kalian tega menjauhkan diriku dari sesuatu yang aku cintai, lalu menempatkanku pada sesuatu yang tidak aku sukai?”

BACA JUGA:  Imam Syafi‘i: Mesir, Wasiat, dan Surat Ali ‘Imran

Pernyataan ini menyingkap sisi batin seorang ulama: bahwa baginya, menyampaikan ilmu dengan cara bercerita bukan sekadar aktivitas, tetapi panggilan jiwa.

Menurut Al-Walid bin Muslim, Abu Idris adalah sosok pencerita masa lalu yang memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu dan amal. Ia tidak sekadar meriwayatkan, tetapi menghidupkan kembali makna sejarah dalam hati para pendengarnya.

Dari sini tampak bahwa storytelling bukan sekadar seni berbicara, tetapi metode pendidikan—yang mampu mengikat ilmu, emosi, dan keteladanan dalam satu rangkaian yang utuh. []

Sumber: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2008

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *