Imam Syafi‘i: Mesir, Wasiat, dan Surat Ali ‘Imran

7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos Media

MALAM itu, angin gurun Mesir berhembus lirih. Lampu-lampu minyak bergetar ditiup angin yang menyusup dari celah jendela rumah sederhana di Fusthat. Di ruang itu, seorang ulama besar dunia Islam, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i, tengah terbaring lemah. Tubuhnya digerogoti sakit yang lama, tetapi jiwanya tetap bercahaya. Dari kota inilah, di ujung hidupnya, beliau menorehkan sebuah wasiat—pesan terakhir yang akan abadi sepanjang zaman.

Ziarah Pertama

Sebelum sampai pada detik-detik perpisahan, mari kita mundur sedikit. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Mesir, Imam Syafi‘i tidak langsung menuju mimbar masjid atau majelis ilmu. Langkah awalnya justru terhenti di sebuah pusara: makam Imam Laits bin Sa‘ad.

Jarak usia keduanya terpaut lebih dari tiga dekade. Imam Syafi‘i selama di Irak sering mendengar kabar tentang kebesaran Imam Laits—seorang ulama agung Mesir yang menggabungkan ilmu, amal, kezuhudan, dan kemuliaan. Hati Imam Syafi‘i begitu ingin berjumpa, namun takdir mendahului: Imam Laits wafat sebelum pertemuan itu sempat terjadi.

Di hadapan pusara itu, Imam Syafi‘i berdiri khusyuk. Matanya basah, bibirnya bergetar menuturkan syair:

“Demi Allah, engkau adalah mutiara, wahai Imam.
Engkau telah mendapatkan empat hal yang tidak dimiliki ulama:
ilmu, amal, kezuhudan, dan kemuliaan.”

Sejak hari itu, Imam Syafi‘i memilih tinggal di dekat makam Imam Laits. Dan kelak, ketika ajal menjemput, ia pun meminta agar jasadnya dikebumikan di sisi ulama besar itu. Sebuah ikatan ruhani yang tak terwujud di dunia, namun dipertemukan dalam keabadian.

Wasiat di Senja Umur

Tahun 203 Hijriah, bulan Sya‘ban. Malam demi malam sakit semakin menggerogoti tubuh Imam Syafi‘i. Namun dalam kesakitan itu, ia masih menggenggam qalam. Murid-muridnya duduk di sekeliling, menahan tangis, menyaksikan sang guru menulis dengan tangan yang bergetar.

Udara malam terasa dingin. Lampu minyak berkelip kecil. Suasana sunyi, hanya terdengar tarikan nafas yang makin berat. Dengan penuh khidmat, Imam Syafi‘i menuliskan kalimat wasiat yang kelak menjadi pelita bagi umat.

Ia menorehkan:

“Aku bersaksi bahwa Allah mengetahui apa-apa yang tidak dapat dilihat mata,
dan mengetahui apa yang tersimpan dalam hati.
Cukuplah Allah menjadi saksi.”

Tangannya kembali bergerak:

“Barangsiapa mendengar, maka saksikanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah,
Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya,
dan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.
Dengan keyakinan inilah aku hidup, dengan keyakinan ini aku mati,
dan dengan keyakinan ini pula aku akan dibangkitkan.”

Para murid menunduk. Suasana berubah menjadi ruang sakral: kata-kata berbaur dengan air mata.

Peringatan dan Batas-Batas Allah

Imam Syafi‘i melanjutkan wasiatnya dengan suara lirih namun tegas:

“Aku berwasiat kepada diriku sendiri dan setiap yang mendengar:
tetaplah menghalalkan apa yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya,
dan mengharamkan apa yang Allah haramkan dalam Kitab-Nya
serta melalui Sunnah Nabi-Nya.
Janganlah melampaui batas-batas itu dengan hawa nafsu.
Barangsiapa melampaui batas, ia meninggalkan kewajiban
yang telah Allah tetapkan.”

Beliau berhenti sejenak. Matanya terpejam. Lalu salah seorang murid membacakan ayat sebagai penguat wasiat itu. Bacaan yang menggetarkan dada semua yang hadir:

“(Ingatlah) pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang dikerjakannya dihadirkan, begitu pula kejahatan yang telah diperbuatnya, ia ingin kalau kiranya ada jarak yang jauh antara dia dan amal buruk itu. Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 30)

Imam Syafi‘i menangis. Ia tahu, wasiat ini bukan sekadar tulisan. Ia adalah persiapan menghadap hari yang pasti.

Dunia dan Akhirat

Dalam lembaran yang sama, beliau menulis:

“Hendaklah dunia ditempatkan sebagaimana Allah telah menentukannya.
Dunia hanyalah tempat berteduh sementara, ladang amal.
Sedangkan akhirat adalah negeri keabadian, tempat balasan
atas amal terpuji maupun tercela.”

Kalimat itu mengalir dari hati yang telah jernih dari cinta dunia. Beliau menambahkan:

“Allah tidak pernah salah dalam hisab-Nya.
Yang salah hanyalah manusia,
ketika berani menabrak batas ketentuan-Nya.”

Doa di Ambang Kematian

Tinta terakhir berubah menjadi doa, penuh kepasrahan:

“Aku memohon kepada Allah agar diberi ilmu yang bermanfaat,
akhlak yang mulia, dan pemahaman terhadap zaman.
Aku memohon agar hatiku hanya mencintai Allah,
dan dibersihkan dari keburukan perangai.”

Beliau berhenti, menatap kosong ke langit-langit rumah. Lalu melanjutkan dengan suara yang hampir tak terdengar:

“Tatkala kematian yang pasti itu datang,
aku mohon kepada Allah pertolongan,
agar diselamatkan dari jilatan api neraka,
dan dimasukkan ke dalam surga berkat rahmat-Nya.”

Air mata para murid menetes. Mereka merapatkan duduk, lalu bershalawat:

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad
wa ‘ala aalihi wa sahbihi ajma‘in.

Shalawat itu mengalun, bagai iringan cahaya yang menghantarkan ruh sang imam kepada Kekasihnya ﷺ.

BACA JUGA:  Ibrahim bin Al-Muhallab dan Seorang Pemuda yang Mengatakan: Surga Saya Adalah Memandang kepada-Nya

Permintaan Terakhir

Setelah menuliskan wasiat, Imam Syafi‘i memanggil sahabatnya, Abu Musa. Dengan suara lemah, ia berpesan:

“Bacakanlah untukku Surat Ali ‘Imran, mulai dari ayat 120 hingga akhir.
Agar aku berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, sahabat-sahabat beliau,
dan orang-orang shalih.”

Abu Musa pun membuka mushaf, lalu membacakan ayat demi ayat. Suara itu mengisi ruang yang sunyi, menenangkan jiwa sang imam. Bacaan terus mengalun hingga selesai. Dan tepat setelah itu, Imam Syafi‘i menghembuskan nafas terakhir.

Penutup

Di Mesir—tempat pertama kali ia menziarahi pusara Imam Laits, di tempat itulah pula jasadnya beristirahat. Wasiatnya tetap tertulis, syairnya tetap abadi, dan madzhabnya terus hidup hingga hari ini.

Imam Syafi‘i meninggalkan pesan yang tidak pernah pudar:
bahwa hidup hanyalah persinggahan,
bahwa hukum Allah adalah batas yang tak boleh dilampaui,
bahwa rahmat Allah lebih luas dari dosa manusia,
dan bahwa kematian yang indah adalah ketika lisan masih bersaksi,
hati masih berharap, dan jiwa pasrah dalam shalawat. []

Sumber:
Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, Pustaka Al-Kautsar
Muhammad Al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar, Pustaka Al-Kautsar

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *