Suami Tidak Shalat, Bolehkah Menolak Permintaan Jima?

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Freepik

DALAM rumah tangga, hubungan suami istri bukan hanya tentang cinta dan kebutuhan lahiriah. Ada juga tanggung jawab agama yang harus dijaga bersama. Karena itu, ketika seorang suami mulai meninggalkan shalat, banyak istri merasa sedih, bingung, bahkan kecewa. Tidak sedikit pula yang bertanya, apakah istri boleh menolak ajakan jima dari suami yang tidak shalat?

Pertanyaan seperti ini cukup sensitif, tetapi penting dibahas dengan ilmu. Sebab urusan rumah tangga dan agama tidak boleh dipisahkan. Islam mengajarkan keseimbangan antara memenuhi hak pasangan dan menjaga ketaatan kepada Allah.

Shalat Adalah Kewajiban yang Sangat Besar

Shalat merupakan tiang agama dan kewajiban paling utama setelah syahadat. Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya shalat. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja termasuk dosa besar yang sangat berat.

Karena itu, ketika seorang suami malas shalat atau sengaja meninggalkannya, tentu hal tersebut bukan masalah kecil. Istri wajar merasa sedih dan khawatir terhadap keadaan agama suaminya.

Namun dalam menghadapi kondisi seperti ini, tetap dibutuhkan sikap yang bijak dan tidak emosional.

BACA JUGA: Di Usia Berapa Suami Istri Tak Lagi Melakukan Jima’?

Hubungan Suami Istri Tetap Memiliki Hak

Dalam Islam, suami dan istri memiliki hak masing-masing. Salah satunya adalah hak hubungan suami istri. Pada dasarnya, seorang istri dianjurkan memenuhi ajakan suami selama tidak ada uzur syar’i.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan shalat tidak otomatis membuat semua hak suami langsung gugur begitu saja, terutama bila status pernikahan masih tetap berlangsung dan belum ada keputusan hukum lain.

Artinya, masalah ini tidak bisa disikapi hanya dengan emosi atau hukuman sepihak.

Kapan Istri Boleh Menolak?

Istri boleh menolak ajakan jima jika ada alasan syar’i atau keadaan yang benar-benar memberatkan. Misalnya sedang haid, sakit, kelelahan berat, atau ada mudarat tertentu.

Namun jika penolakan dilakukan semata-mata untuk melampiaskan kemarahan karena suami tidak shalat, maka hal itu perlu dipikirkan dengan hati-hati. Sebab dikhawatirkan justru memperkeruh hubungan rumah tangga dan menjauhkan suami dari perbaikan.

Meski demikian, sebagian ulama membolehkan istri mengambil sikap tertentu sebagai bentuk pendidikan atau teguran, selama tujuannya untuk memperbaiki dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Karena itu, kondisi setiap rumah tangga bisa berbeda. Ada suami yang luluh dengan pendekatan lembut, ada juga yang justru makin keras jika diperlakukan kasar.

https://s.shopee.co.id/60M1zoHWHp

Dahulukan Nasihat dan Pendekatan yang Baik

Hal paling penting adalah terus mengingatkan suami tentang kewajiban shalat dengan cara yang baik. Jangan bosan menasihati, mengajak, dan mendoakannya.

Kadang seorang suami justru makin jauh dari agama karena terus disalahkan dan dihina di rumah. Sebaliknya, ada juga yang perlahan berubah karena melihat kesabaran dan akhlak baik istrinya.

Pilih waktu yang tepat saat berbicara. Hindari menegur ketika emosi sedang tinggi. Sampaikan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi penyelamat hidup seorang Muslim.

Kalimat yang lembut sering lebih mudah menyentuh hati dibanding pertengkaran panjang.

Jangan Sampai Putus Asa

Menghadapi pasangan yang lalai dalam agama memang tidak mudah. Kadang istri merasa lelah karena sudah sering mengingatkan tetapi belum melihat perubahan. Namun jangan buru-buru putus asa.

Hidayah milik Allah. Tugas manusia adalah terus berusaha dan berdoa. Banyak orang yang dulunya jauh dari shalat akhirnya berubah menjadi rajin karena doa dan kesabaran pasangannya.

Meski begitu, jika kondisi semakin parah, misalnya suami benar-benar menolak kewajiban shalat dan meremehkannya secara terang-terangan, maka sebaiknya meminta nasihat kepada ustaz atau pihak yang berilmu agar mendapat arahan yang tepat.

BACA JUGA: Bolehkah Menceraikan Istri karena Menolak Diajak Jima’?

Introspeksi dan Perbaikan Bersama

Dalam rumah tangga, perbaikan agama seharusnya dilakukan bersama. Istri juga perlu menjaga shalat, akhlak, dan cara berbicara. Jangan sampai mengajak suami kepada agama tetapi dengan sikap yang kasar dan menyakitkan.

Rumah yang penuh ibadah biasanya lebih mudah menghadirkan ketenangan. Karena itu, bangun suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an, doa, dan nasihat yang baik.

Kadang perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Penutup

Suami yang tidak shalat memang melakukan kesalahan besar. Namun menghadapi kondisi itu tetap membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kebijaksanaan. Menolak ajakan jima tidak boleh dilakukan sekadar karena emosi atau ingin menghukum pasangan.

Yang paling utama adalah terus mengajak suami kembali menjaga shalat dengan cara yang baik. Sebab tujuan rumah tangga bukan hanya hidup bersama di dunia, tetapi juga saling membantu menuju keselamatan di akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *