DI era modern, kemudahan akses pembiayaan membuat banyak orang merasa bahwa memiliki sesuatu harus melalui kredit. Rumah, kendaraan, hingga barang elektronik kini mudah didapat dengan sistem cicilan. Sayangnya, sebagian orang memegang prinsip: “kalau tidak kredit, saya tidak akan pernah punya.” Prinsip ini terlihat realistis, tetapi tanpa disadari bisa menjerumuskan pada praktik Riba yang dilarang dalam Islam.
Pola Pikir yang Perlu Diluruskan
Prinsip tersebut sering muncul dari rasa takut tertinggal, tekanan sosial, atau keinginan untuk segera menikmati hasil. Padahal, tidak semua kepemilikan harus dipaksakan sekarang. Dalam banyak kasus, keinginan lebih dominan daripada kebutuhan.
BACA JUGA: Apa Hukum Kredit dalam Islam?
Keyakinan bahwa kredit adalah satu-satunya jalan sering membuat seseorang mengabaikan konsekuensi jangka panjang, seperti beban bunga, ketergantungan finansial, dan stres akibat cicilan yang menumpuk.
Riba dan Dampaknya
Dalam ajaran Islam, riba bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga spiritual. Ia dipandang sebagai praktik yang merugikan dan tidak adil. Dampaknya tidak hanya terasa pada keuangan, tetapi juga pada ketenangan hidup.
Orang yang terjebak dalam riba sering mengalami:
- Tekanan finansial berkepanjangan
- Sulit menabung atau berinvestasi secara sehat
- Kecemasan karena kewajiban cicilan
- Hilangnya rasa cukup (qana’ah)
Gaya Hidup Konsumtif sebagai Pemicu
Budaya konsumtif memperkuat prinsip “harus punya sekarang.” Media sosial dan lingkungan sekitar sering menampilkan standar hidup tinggi, sehingga seseorang merasa tertinggal jika tidak mengikuti.
Padahal, memaksakan diri untuk memiliki sesuatu di luar kemampuan justru memperbesar risiko masalah keuangan. Kredit menjadi jalan pintas yang tampak mudah, tetapi membawa konsekuensi panjang.
Alternatif yang Lebih Sehat
Menghindari riba bukan berarti menolak kemajuan, tetapi memilih cara yang lebih bijak dalam mengelola keuangan. Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:
- Menabung secara bertahap sebelum membeli sesuatu
- Membedakan kebutuhan dan keinginan
- Mencari alternatif pembiayaan yang sesuai syariat
- Hidup sederhana dan realistis sesuai kemampuan
Dengan pola pikir ini, kepemilikan menjadi lebih berkah dan tidak membebani di kemudian hari.
Mengubah Prinsip Hidup
Mengganti prinsip “tidak akan punya kalau tidak kredit” menjadi “punya ketika mampu” adalah langkah penting. Ini bukan berarti menunda selamanya, tetapi menyesuaikan dengan kemampuan dan prioritas.
BACA JUGA: Kenapa Banyak Muslim Tak Peduli dengan Riba?
Kesadaran bahwa rezeki datang secara bertahap dapat membantu seseorang lebih sabar dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan finansial.
Terjebak dalam riba sering kali bukan karena keterpaksaan, tetapi karena pola pikir yang keliru. Prinsip yang mengharuskan kredit untuk memiliki sesuatu perlu dikaji ulang. Dengan memperbaiki cara pandang, mengelola keuangan secara bijak, dan menjaga nilai-nilai yang diyakini, seseorang dapat terhindar dari jerat riba dan menjalani hidup yang lebih tenang serta berkah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

