DI banyak keluarga, masih ada anggapan bahwa kesuksesan seorang perempuan diukur dari karier dan penghasilan. Akibatnya, tidak sedikit istri yang memilih fokus mengurus anak justru mendapat komentar merendahkan dari saudara sendiri—disebut “tidak produktif”, “cuma di rumah”, atau “tidak berkembang”. Padahal, pandangan seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga menyakitkan dan tidak adil.
Tekanan Sosial terhadap Perempuan
Perempuan sering berada di persimpangan ekspektasi: di satu sisi didorong untuk mandiri dan sukses secara profesional, di sisi lain diharapkan menjadi ibu yang hadir penuh untuk keluarga. Ketika seorang istri memilih untuk fokus pada anak, keputusan tersebut kerap dianggap sebagai kegagalan memenuhi standar “wanita modern”.
BACA JUGA: Suami Sering (Maaf!) Mencium di Depan Anak-anak, Apa yang Harus Dilakukan Istri?
Komentar dari saudara atau keluarga besar bisa terasa lebih menyakitkan karena datang dari orang terdekat. Kritik seperti ini sering tidak mempertimbangkan konteks: kondisi anak, kesepakatan dalam rumah tangga, atau prioritas pribadi yang sudah dipikirkan matang.
Mengurus Anak Bukan Pekerjaan “Kecil”
Mengasuh anak adalah pekerjaan penuh waktu yang menuntut energi fisik, emosional, dan mental. Seorang ibu (atau ayah) yang fokus di rumah menjalankan banyak peran sekaligus:
- Pengasuh utama
- Pendidik pertama
- Pengatur rumah tangga
- Penjaga kesehatan dan emosi anak
Pekerjaan ini tidak bergaji, tetapi memiliki dampak jangka panjang yang besar terhadap perkembangan anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua di masa awal kehidupan anak sangat berpengaruh terhadap kecerdasan, kepercayaan diri, dan stabilitas emosional mereka.
Mengapa Stigma Ini Terus Ada?
Ada beberapa alasan mengapa stigma terhadap ibu rumah tangga masih bertahan:
- Budaya lama yang menilai nilai seseorang dari penghasilan
- Perbandingan sosial, terutama di era media sosial
- Kurangnya pemahaman tentang kompleksitas peran domestik
- Pandangan sempit tentang kesuksesan perempuan
Padahal, setiap keluarga memiliki dinamika dan pilihan yang berbeda. Tidak ada satu model kehidupan yang cocok untuk semua orang.
Dampak Psikologis dari Hinaan
Komentar merendahkan bisa menimbulkan:
- Rasa tidak percaya diri
- Perasaan tidak dihargai
- Stres dalam rumah tangga
- Konflik dengan pasangan atau keluarga besar
Jika dibiarkan, hal ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hubungan dalam keluarga.
Cara Menyikapi Hinaan dengan Bijak
Menghadapi komentar seperti ini memang tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Tegaskan nilai diri
Sadari bahwa keputusan mengurus anak adalah pilihan yang sah dan bernilai. Tidak perlu pembenaran dari semua orang.
2. Komunikasi dengan pasangan
Pastikan suami/istri mendukung dan memahami keputusan tersebut. Dukungan pasangan sangat penting sebagai fondasi utama.
3. Batasi pengaruh negatif
Jika komentar saudara terlalu menyakitkan, tidak ada salahnya menjaga jarak atau membatasi topik pembicaraan.
4. Jawab dengan tegas tapi santun
Misalnya: “Saya memilih fokus pada anak saat ini, dan itu keputusan terbaik untuk keluarga kami.”
5. Bangun lingkungan positif
Cari komunitas atau teman yang saling mendukung, bukan menghakimi.
BACA JUGA: Apa Hukum Suami Meminta Istri Bekerja?
Menghargai Pilihan Hidup Perempuan
Sudah saatnya kita berhenti membandingkan dan mulai menghargai setiap pilihan perempuan—baik yang berkarier, menjadi ibu rumah tangga, atau menjalani keduanya. Nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan yang menghasilkan uang, tetapi juga oleh kontribusi nyata dalam kehidupan orang lain.
Mengurus anak bukanlah pekerjaan “kelas dua”. Itu adalah investasi jangka panjang yang tidak selalu terlihat hasilnya secara instan, tetapi sangat menentukan masa depan generasi berikutnya. Hinaan dari saudara seharusnya tidak menjadi tolok ukur nilai diri. Yang terpenting adalah kesejahteraan keluarga dan keyakinan bahwa setiap peran memiliki arti. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

