Membaca Dolanan Anak Karya Walisongo sebagai Instrumen Pendidikan

Nasrulloh Baksolahar
10 Min Read
Foto: Islampos

KEBUDAYAAN Jawa tradisional memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyerap, mengadaptasi, dan mentransformasikan nilai-nilai baru tanpa kehilangan jati dirinya. Salah satu bentuk sintesis paling genial tampak dalam metode dakwah kultural (cultural approach) yang diterapkan oleh Walisongo, terutama oleh Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Kalijaga.

Para wali tidak menempatkan agama semata sebagai dogma yang kaku, tetapi menyebarkannya melalui pendekatan pedagogis yang kreatif dan dekat dengan psikologi perkembangan anak (child psychology).

Masa kanak-kanak dipahami sebagai fase emas (golden age) yang dipenuhi dorongan alami untuk bermain dan mengeksplorasi dunia. Walisongo memanfaatkan momentum ini dengan mengintegrasikan pendidikan tauhid, moralitas, dan karakter ke dalam dolanan bocah (permainan anak). Bermain tidak lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi medium internalisasi nilai-nilai Islam yang berlangsung secara halus dan menyenangkan.

Melalui pendekatan ini, anak-anak belajar tanpa merasa digurui, sementara nilai spiritual tertanam kuat dalam kesadaran mereka.

BACA JUGA: Masjid Demak dan Kota Cirebon: Konseptor Walisongo, Arsitek dari Majapahit

1. Konteks Historis dan Metodologi Dakwah Kultural Walisongo

Dalam manuskrip seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Walisana, Giri Kedaton tidak hanya dicatat sebagai pusat kekuasaan keagamaan, tetapi juga sebagai laboratorium pendidikan Islam yang inklusif. Sunan Giri dan para wali memahami bahwa struktur kognitif anak lebih mudah menerima konsep abstrak—seperti ketuhanan, dosa, pahala, dan godaan setan—jika diwujudkan dalam bentuk konkret, kinestetik, dan empiris.

Metode ini selaras dengan konsep Dolanan Bocah yang berabad-abad kemudian juga diadopsi oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem Taman Siswa, yaitu menjadikan permainan sebagai sarana belajar yang paling alami bagi anak.

Walisongo membangun pendekatan dakwah melalui tiga pilar utama:

1. Tontonan — menarik secara visual dan rekreatif.

2. Tuntunan — mengandung pendidikan moral dan spiritual.

3. Tatanan — membentuk karakter sosial yang harmonis dan komunal.

Pemanfaatan ruang publik seperti lapangan desa pada sore hari atau malam terang bulan semakin memperkuat dimensi sosial dari metode dakwah ini.

—

2. Dekonstruksi Filosofis Permainan “Umpetan” atau “Jelungan”

Mekanisme Permainan

Permainan Umpetan atau Jelungan dimainkan secara berkelompok. Salah satu pemain yang kalah undian (pingsut) menjadi penjaga atau posisi Dadi. Ia menutup mata di pangkalan—biasanya pohon, tiang, atau tembok—sambil menghitung angka tertentu. Sementara itu, pemain lain bersembunyi di area sekitar.

Setelah hitungan selesai, penjaga mulai mencari para pemain. Namun, pemain yang bersembunyi dapat menyelamatkan diri dengan kembali menyentuh pangkalan sebelum tertangkap. Dalam beberapa variasi permainan, cukup dengan memegang erat pangkalan, pemain sudah dianggap aman.

Pemain pertama yang tertangkap akan menjadi Dadi pada putaran berikutnya.

https://s.shopee.co.id/BQAMIEKDQ

Alegori Kosmis dan Spiritualitas Tauhid

Jika dibaca melalui pendekatan strukturalisme simbolik, elemen-elemen permainan ini memuat pesan teologis yang mendalam:

Elemen Permainan Simbol Spiritual Makna Filosofis

Penjaga (Dadi) Setan / Nafsu Kekuatan destruktif yang terus memburu manusia
Pemain yang bersembunyi Manusia Makhluk lemah yang rentan terhadap kesesatan
Pangkalan / Tiang Tauhid / Agama Allah Tempat perlindungan dan keselamatan sejati

Ketika seorang anak berlari ketakutan lalu memegang erat pangkalan sambil berteriak “Jelungan!”, sesungguhnya ia sedang mempraktikkan konsep i’tisham—berpegang teguh kepada agama Allah.

Makna ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103:

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai.”

Selama anak itu memegang “pilar” tersebut, ia tidak dapat disentuh oleh penjaga. Di sinilah Sunan Giri menanamkan ajaran tauhid secara subliminal: keselamatan manusia hanya diperoleh ketika ia berlindung kepada Allah.

—

3. Makna Sosio-Spiritual Permainan “Jamuran”

Mekanisme Permainan

Permainan Jamuran dimainkan oleh beberapa anak yang membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan. Satu anak berada di tengah sebagai Dadi. Mereka berputar sambil menyanyikan tembang:

> Jamuran ya gégé thok
Jamur apa ya gégé thok
Jamur gajih mbejijih sa-ara-ara
Sira mbadhé jamur
Sira badhe jamur opo?

Pada kalimat terakhir, permainan berhenti. Anak di tengah kemudian menyebutkan bentuk tertentu, seperti jamur motor, jamur kethek, atau jamur patung. Anak-anak lain harus segera menirukan bentuk tersebut. Siapa yang terlambat atau salah gerakan akan menjadi Dadi berikutnya.

Tafsir Filosofis dan Sosial

Dalam simbolisme Jawa-Islam, “jamur” melambangkan dunia yang cepat tumbuh, menggoda, tetapi juga cepat rusak dan fana. Dunia digambarkan seperti jamur: tampak indah sesaat, lalu membusuk ketika waktu berlalu.

Pertanyaan “Sira badhe jamur opo?” menggambarkan bahwa manusia selalu dihadapkan pada pilihan hidup dan berbagai bentuk ujian duniawi.

Walisongo
Foto: Islampos

Melalui permainan ini, Sunan Giri menanamkan dua nilai utama:

1. Fleksibilitas Sosial (Social Adaptability)

Anak-anak dilatih untuk cepat beradaptasi terhadap perubahan situasi. Lingkaran yang semula menyatu lalu pecah menggambarkan dinamika sosial masyarakat yang terus berubah.

2. Kendali Diri dan Ketahanan Mental

Anak yang gagal menyesuaikan diri akan terkena konsekuensi. Ini menjadi metafora bahwa manusia yang tidak mampu mengendalikan diri di tengah perubahan zaman akan mudah terjebak dalam kesulitan hidup.

—

4. Hermeneutika Sufistik Permainan “Cublak-Cublak Suweng”

Permainan ini termasuk karya Sunan Giri yang paling kaya simbolisme spiritual. Satu anak tengkurap di tengah, sementara pemain lain memindahkan kerikil kecil (suweng) dari satu tangan ke tangan lain sambil menyanyikan tembang:

> Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter
Mambu ketundhung gudhel
Pak empo lera-lere, sapa ngguyu ndelikake
Sir-sir pong dele kopong

Makna Filosofis

Suweng sebagai Simbol Kebahagiaan Hakiki

Suweng (anting) melambangkan kebahagiaan sejati atau hikmah ilahi. Pesannya: kebahagiaan tidak berada jauh dari manusia, tetapi tersebar di sekitar kehidupannya.

Gudhel sebagai Lambang Kebodohan Spiritual

Gudhel (anak kerbau) menggambarkan manusia yang mencari kebahagiaan hanya dengan naluri dan hawa nafsu.

Pak Empo Lera-Lere

Melambangkan manusia yang terus melirik ke kanan dan kiri, mengejar dunia tanpa pernah menemukan ketenangan hati.

Sapa Ngguyu Ndelikake

Kebahagiaan sejati tidak dipamerkan. Orang yang benar-benar tenang justru menyembunyikan kedamaian itu di dalam kalbu.

Sir-Sir Pong Dele Kopong

Dalam tradisi tasawuf Jawa, sir berarti inti rasa terdalam manusia. Dele kopong (kedelai kosong) menggambarkan hati yang hampa dari cahaya ketuhanan akibat terlalu sibuk mengejar dunia.

 

5. Pendidikan Karakter melalui “Jaranan” dan “Menthok-Menthok”

Jaranan: Pengendalian Nafsu dan Kepemimpinan Diri

Permainan Jaranan menggunakan anyaman bambu berbentuk kuda (jaran kepang). Anak-anak bergerak mengikuti irama lagu:

> Jaranan, jaranan, jarane jaran teji
Sing numpak jaran teji, sing ngiring para menteri

Dalam simbolisme Walisongo:

Kuda melambangkan hawa nafsu dan ego manusia.

Menunggangi kuda melambangkan kemampuan mengendalikan diri.

Anak-anak diajarkan bahwa kemuliaan hanya dapat diraih ketika manusia mampu menjadi pemimpin atas dirinya sendiri, bukan diperbudak hawa nafsu.

Walisongo
Foto: Islampos

Menthok-Menthok: Kritik terhadap Kemalasan

Permainan ini diiringi tembang:

> Menthok, menthok, tak kandhani
Mung lakumu angisin-isini
Mbok ya aja ngetok, ana kandhang wae
Enak-enak ngorok, ora nyambut gawe

Entok (menthok) dijadikan simbol manusia yang malas, lamban, dan enggan bekerja.

Melalui permainan yang jenaka ini, Sunan Kalijaga menyampaikan kritik sosial secara halus: kemalasan adalah sifat memalukan dan bertentangan dengan etos kerja Islam.

Anak-anak dididik agar tumbuh menjadi pribadi yang tangkas, disiplin, dan produktif.

BACA JUGA: Kasih Sayang Nabawi terhadap Anak-anak: Tradisi Doa, Sentuhan, dan Tabarruk

6. Relevansi dengan Pendidikan Modern

Jika dibandingkan dengan teori pendidikan modern, metode Walisongo sesungguhnya sangat maju untuk zamannya.

Experiential Learning (David Kolb)

Anak tidak hanya mendengar teori, tetapi mengalami langsung nilai-nilai spiritual melalui aktivitas fisik dan emosional.

Multiple Intelligences (Howard Gardner)

Permainan tradisional ini menggabungkan kecerdasan kinestetik, musikal, sosial, dan emosional secara bersamaan.

Social-Emotional Learning (SEL)

Anak belajar sportivitas, kerja sama, empati, kepatuhan pada aturan, dan kemampuan membaca emosi sosial.

—

Kesimpulan

Dolanan anak karya Walisongo merupakan masterpiece dakwah kultural yang berhasil menyatukan teologi, pendidikan, dan antropologi bermain.

Melalui Umpetan, anak-anak diajarkan tentang perlindungan tauhid. Melalui Jamuran dan Cublak-Cublak Suweng, mereka diperkenalkan pada hakikat dunia dan pentingnya kebersihan hati. Sementara melalui Jaranan dan Menthok-Menthok, mereka ditempa menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri dan memiliki etos kerja yang kuat.

Warisan ini membuktikan bahwa Islamisasi di Nusantara tidak dilakukan dengan penghancuran budaya lokal, melainkan melalui proses transformasi yang lembut, kreatif, dan penuh hikmah. Walisongo meminjam kegembiraan masa kecil untuk menanamkan fondasi keimanan dan karakter yang bertahan sepanjang hayat []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *