Kenapa Pelat Nomor C Tidak Digunakan di Indonesia?

6 Min Read
Foto: Islampos

PERNAHKAH kamu sadar kalau di Indonesia hampir semua huruf dipakai sebagai kode pelat nomor kendaraan, mulai dari A, B, D, E, F, sampai Z, tetapi huruf C justru seperti “hilang”? Tidak ada kendaraan pribadi dengan awalan pelat C sebagaimana pelat B untuk Jakarta atau D untuk Bandung. Ternyata, hal ini punya sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kolonial Belanda, sistem administrasi lama, hingga alasan teknis dalam penomoran kendaraan.

Awal Mula Sistem Pelat Nomor di Indonesia

Sistem pelat nomor kendaraan di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial mulai membuat kode wilayah untuk mempermudah pendataan kendaraan bermotor. Sistem itu kemudian diwariskan hingga Indonesia merdeka, bahkan banyak pola penomorannya masih dipakai sampai sekarang.

Menariknya, kode wilayah pelat nomor di Indonesia tidak dibuat berdasarkan urutan provinsi modern. Karena itu, pelat A justru dipakai di Banten, bukan Aceh. Begitu juga pelat B untuk Jakarta dan sekitarnya, serta D untuk Bandung. Sistem tersebut mengikuti pembagian wilayah administratif pada masa kolonial.

BACA JUGA:  Penyebab Busi Motor Rusak, Apa Saja Sih?

Pengaruh Bahasa Belanda dan Ejaan Lama

Salah satu alasan paling populer mengapa huruf C tidak dipakai adalah pengaruh bahasa Belanda dan ejaan lama bahasa Indonesia.

Pada masa itu, huruf C tidak lazim digunakan dalam penulisan sehari-hari. Dalam Ejaan Soewandi maupun ejaan lama, bunyi “c” biasanya ditulis dengan “tj”. Misalnya:

“Cantik” ditulis “Tjantik”
“Cuci” ditulis “Tjoetji”

Karena itulah, huruf C dianggap kurang umum dipakai dalam sistem administrasi kendaraan saat itu.

Beberapa peneliti otomotif dan diskusi sejarah juga menyebut bahwa sistem TNKB Indonesia mengikuti pola pelat nomor Belanda yang memang hanya memakai huruf-huruf tertentu. Huruf seperti C, I, dan J tidak digunakan karena dianggap jarang dipakai atau terlalu mirip dengan huruf lain.

https://s.shopee.co.id/BQAMIEKDQ

Alasan Teknis: Menghindari Kesalahan Pembacaan

Selain faktor sejarah, ada juga alasan teknis. Huruf C dianggap cukup mirip dengan huruf G ketika dilihat sekilas, terutama pada pelat nomor lama dengan desain sederhana. Dalam kondisi hujan, malam hari, atau kendaraan melaju cepat, huruf-huruf tertentu bisa sulit dibedakan.

Karena itu, beberapa huruf memang sengaja dihindari agar tidak menimbulkan kekeliruan identifikasi kendaraan. Hal serupa juga terjadi pada beberapa negara lain yang menghindari penggunaan huruf tertentu seperti I dan O karena mirip angka 1 dan 0.

Apakah Huruf C Benar-Benar Tidak Dipakai?

Sebenarnya, huruf C tetap digunakan, tetapi bukan untuk kendaraan pribadi biasa. Huruf ini dipakai untuk kendaraan diplomatik dan konsulat asing di Indonesia.

Beberapa contohnya:

CD = Corps Diplomatique
CC = Corps Consulaire
CH = Consul Honoraire

Pelat-pelat ini digunakan oleh perwakilan negara asing dan penerbitannya harus melalui rekomendasi Kementerian Luar Negeri.

Jadi, huruf C memang “disimpan” untuk kebutuhan khusus, bukan dihapus sepenuhnya.

Sistem Pelat Nomor di Luar Negeri

Kalau dibandingkan dengan negara lain, sistem penomoran kendaraan di Indonesia sebenarnya cukup unik karena masih mempertahankan pola lama dari era kolonial.

Di Belanda sendiri, sistem pelat nomor kini memakai kombinasi acak huruf dan angka tanpa kode wilayah khusus. Dulu, Belanda juga menggunakan sistem regional seperti Hindia Belanda, tetapi sistem itu sudah diganti sejak tahun 1951.

Di Amerika Serikat, setiap negara bagian memiliki desain dan format sendiri. Misalnya, California, Texas, atau New York punya warna, slogan, dan susunan angka yang berbeda-beda. Pelat nomor di sana juga sering menjadi identitas budaya daerah.

Tips Beli Motor Bekas, Ban Luar Motor, Pelat Nomor C
Foto: Freepik

Sementara itu, di Jerman, pelat nomor langsung menunjukkan kota asal kendaraan. Misalnya:

B untuk Berlin
M untuk München
HH untuk Hamburg

Setelah kode kota, biasanya diikuti kombinasi huruf dan angka.

Di Inggris, pelat nomor bahkan bisa menunjukkan tahun registrasi kendaraan. Dua angka tertentu menandakan kapan mobil itu pertama kali didaftarkan.

Adapun di Jepang, pelat nomor memuat kode wilayah, jenis kendaraan, hingga klasifikasi mesin. Bahkan warna dasar pelat bisa membedakan kendaraan pribadi dan kendaraan komersial.

BACA JUGA:  Kenapa Harus Hindari Injak Rem dengan Kaki Kiri saat Kendari Mobil Matik?

Sistem Indonesia Termasuk yang Tua

Menariknya, banyak pengamat menyebut sistem TNKB Indonesia termasuk salah satu sistem pelat nomor tertua di dunia yang masih mempertahankan pola aslinya sejak awal abad ke-20.

Karena itulah, beberapa “keanehan” seperti tidak adanya pelat C tetap bertahan sampai sekarang. Meski terlihat sederhana, ternyata ada sejarah kolonial, perkembangan bahasa, dan pertimbangan teknis di baliknya.

Jadi, lain kali ketika melihat pelat B, D, atau F di jalan, kamu sekarang tahu bahwa hilangnya huruf C bukan karena lupa dibuat, melainkan karena warisan sejarah yang masih hidup hingga hari ini. []

Sumber:
IDN Times
Kumparan Otomotif
Reddit Indonesia Discussion
YouTube Pembahasan Sejarah Pelat Nomor

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *