Menimbang Risiko Perjalanan bagi Bayi di Bawah 3 Bulan

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

BOLEHKAH bayi yang baru lahir diajak bepergian jauh?

Pertanyaan ini sering muncul di tengah kebutuhan keluarga modern. Ada yang harus pulang kampung, menghadiri urusan keluarga, berpindah tempat tinggal, atau sekadar memenuhi kebutuhan perjalanan yang dianggap penting. Namun di sisi lain, muncul nasihat yang cukup populer di kalangan tenaga kesehatan: sebisa mungkin jangan membawa bayi bepergian sebelum berusia tiga bulan.

Apakah nasihat tersebut memiliki dasar ilmiah? Dan bagaimana seorang muslim memandangnya dalam kerangka iman dan tawakal?

Untuk menjawabnya, perlu ditelusuri fakta-fakta medis yang melatarbelakangi anjuran tersebut.

Menelusuri Akar Persoalan: Mengapa Tiga Bulan Menjadi Batas Penting?

Dalam dunia kedokteran anak, tiga bulan pertama kehidupan sering disebut sebagai masa yang sangat rentan. Pada fase ini, bayi masih berada dalam proses adaptasi besar-besaran dari kehidupan di dalam rahim menuju dunia luar.

Kerentanan tersebut setidaknya terlihat pada tiga aspek utama: sistem kekebalan tubuh, kestabilan fisiologis, dan perlindungan imunisasi.

BACA JUGA: 6 Kisah Ibu bersama Anaknya dalam Al-Qur’an

Sistem Kekebalan Tubuh yang Masih Belajar

Ketika lahir, bayi belum memiliki sistem kekebalan yang matang. Mereka masih mengandalkan antibodi yang diperoleh dari ibunya selama masa kehamilan.

Perlindungan ini memang membantu, tetapi sifatnya sementara. Pada saat yang sama, sistem imun bayi sendiri belum cukup terlatih untuk menghadapi berbagai virus dan bakteri yang beredar di lingkungan.

Inilah sebabnya mengapa paparan di tempat ramai seperti bandara, terminal, stasiun, pusat perbelanjaan, atau transportasi umum menjadi perhatian serius. Apa yang bagi orang dewasa hanya berupa infeksi ringan, pada bayi baru lahir dapat berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih berbahaya.

Memasuki usia sekitar tiga bulan, sistem kekebalan tubuh bayi mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Tubuhnya mulai memproduksi antibodi sendiri dan merespons ancaman infeksi secara lebih efektif dibandingkan masa-masa awal kelahiran.

https://s.shopee.co.id/40aPuqbkTl

Tubuh yang Masih Beradaptasi dengan Dunia Luar

Kerentanan bayi bukan hanya soal kuman.

Secara fisiologis, bayi baru lahir masih memiliki kemampuan yang terbatas dalam mengatur suhu tubuh. Mereka lebih mudah mengalami kedinginan maupun kepanasan ketika berada di lingkungan yang berubah-ubah.

Perjalanan jauh sering kali mempertemukan bayi dengan berbagai kondisi yang sulit diprediksi: suhu ruangan yang terlalu dingin, cuaca yang panas, kebisingan, perubahan tekanan udara, hingga gangguan pola tidur dan menyusu.

Selain itu, otot leher bayi yang masih lemah membuat posisi duduk terlalu lama di kursi bayi atau gendongan memerlukan pengawasan yang ketat.

Memasuki usia tiga bulan, kontrol kepala mulai membaik, pengaturan suhu tubuh lebih stabil, dan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan juga meningkat. Meskipun tetap membutuhkan perhatian, kondisi ini membuat risiko perjalanan relatif lebih rendah dibandingkan pada masa neonatal.

Imunisasi: Benteng Pertahanan yang Belum Lengkap

Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah jadwal imunisasi.

Berbagai vaksin penting mulai diberikan pada bulan-bulan awal kehidupan, seperti vaksin untuk pertusis, polio, Hib, pneumokokus, dan penyakit infeksi lainnya.

Sebelum perlindungan dasar ini terbentuk, bayi berada pada posisi yang lebih rentan apabila terpapar penyakit menular.

Karena itu, dokter anak umumnya memandang usia tiga bulan sebagai salah satu titik penting ketika bayi telah memperoleh lapisan perlindungan yang lebih baik dibandingkan saat baru lahir.

Ketika Sejarah Menghadirkan Pertanyaan Lain

Di tengah berbagai pertimbangan medis tersebut, sebagian muslim mengingat kisah yang sangat terkenal dalam sejarah Islam.

Nabi Ibrahim a.s. pernah membawa Siti Hajar dan bayi Ismail menuju lembah tandus yang kelak menjadi Kota Makkah. Secara kasat mata, perjalanan itu tampak jauh lebih berat daripada perjalanan modern mana pun.

Lalu mengapa perjalanan tersebut dapat terjadi?

Pertanyaan ini membawa kita pada perbedaan mendasar antara peristiwa sejarah kenabian dan kehidupan manusia pada umumnya.

Bayi Baru Lahir, Anak Perempuan
Foto: Freepik

Perjalanan yang Berdiri di Atas Wahyu

Perjalanan Hajar dan Ismail bukanlah keputusan pribadi yang lahir dari pertimbangan biasa.

Perjalanan itu terjadi karena perintah Allah kepada Nabi Ibrahim. Dengan kata lain, dasar tindakan tersebut bukanlah perhitungan manusia, melainkan wahyu.

Di sinilah letak perbedaannya.

Seorang muslim tidak diperintahkan meniru seluruh tindakan para nabi secara harfiah, melainkan memahami konteks dan hikmah yang melatarbelakanginya.

Ketika Ikhtiar Bertemu Mukjizat

Kisah Hajar juga menunjukkan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif.

Ketika bekal air habis, Hajar tidak hanya menunggu pertolongan datang. Ia berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah untuk mencari solusi. Setelah ikhtiar manusia mencapai batas maksimalnya, Allah menghadirkan pertolongan melalui mata air Zamzam.

Pelajaran terbesarnya bukanlah keberanian menempatkan bayi dalam risiko, melainkan keteguhan berusaha sebelum berserah diri kepada Allah.

Islam Tidak Mempertentangkan Iman dan Sains

Sebagian orang memandang nasihat medis seolah bertentangan dengan tawakal. Padahal, dalam Islam keduanya justru saling melengkapi.

Rasulullah saw. bersabda:

«”Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.”»

Hadis ini menjadi prinsip penting dalam menghadapi berbagai urusan kehidupan.

Menggunakan ilmu kedokteran, mengikuti anjuran dokter anak, menjaga kebersihan, melengkapi imunisasi, dan menghindari risiko yang tidak perlu merupakan bagian dari ikhtiar yang diperintahkan agama.

Tawakal bukan berarti mengabaikan sebab-sebab yang telah Allah ciptakan. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah sebab-sebab tersebut diupayakan semaksimal mungkin.

BACA JUGA:  Penyusuan Anak: Pengalaman dari Imam Haramain dan Ratu Elizabeth II

Kesimpulan: Memilih yang Paling Aman bagi Amanah Allah

Perjalanan bagi bayi di bawah usia tiga bulan bukanlah sesuatu yang mustahil. Dalam kondisi tertentu, perjalanan mungkin memang tidak dapat dihindari.

Namun jika tidak ada kebutuhan yang mendesak, menunda perjalanan hingga bayi mencapai usia sekitar tiga bulan merupakan pilihan yang lebih aman dan lebih sejalan dengan pertimbangan medis.

Jika perjalanan harus dilakukan, orang tua perlu melakukan persiapan yang matang, berkonsultasi dengan dokter anak, memastikan jadwal imunisasi terpenuhi, menjaga kebersihan, serta meminimalkan paparan terhadap kerumunan.

Kisah Hajar dan Ismail mengajarkan kekuatan iman ketika menghadapi keadaan yang tidak dapat dihindari. Sementara ilmu kedokteran mengajarkan cara mengurangi risiko yang dapat dicegah.

Keduanya tidak saling bertentangan. Justru keduanya bertemu pada satu titik yang sama: menjaga amanah yang Allah titipkan kepada manusia.

Sebab melindungi kesehatan seorang bayi bukanlah tanda lemahnya tawakal, melainkan salah satu bentuk syukur dan tanggung jawab atas nikmat yang telah Allah karuniakan. []

Sumber: Ibnu Qayyim, Kado sang buah hati, Al-Qowam, 2017

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *