Agar Anak Lebih Mudah Berbicara: Menelusuri Tradisi, Tauhid, dan Ilmu Perkembangan Anak

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

SETIAP orang tua menantikan satu momen yang sama: saat anak mulai mengucapkan kata-kata pertamanya.

Karena itu, berbagai ikhtiar dilakukan untuk membantu perkembangan bicara anak. Sebagian berasal dari pengalaman turun-temurun, sebagian lagi dari hasil penelitian modern. Di antara tradisi yang dikenal dalam sebagian masyarakat adalah mengoleskan madu dan garam (andrani) pada lidah anak yang telah mendekati masa berbicara. Praktik ini diyakini dapat membantu membersihkan lendir yang dianggap menghambat kelancaran bicara.

Namun, benarkah kemampuan berbicara ditentukan hanya oleh perlakuan tersebut?

Untuk menjawabnya, perlu ditelusuri persoalan ini lebih jauh: apa yang sebenarnya membentuk kemampuan bicara seorang anak? Apakah faktor fisik semata, atau ada unsur pendidikan dan pembentukan jiwa yang lebih mendasar?

Tradisi Lama dan Pertanyaan yang Lebih Besar

Dalam literatur pendidikan Islam klasik, perhatian terhadap perkembangan lisan anak memang mendapatkan tempat yang penting. Namun jika dicermati, fokus para ulama sebenarnya tidak berhenti pada kelancaran berbicara secara fisik.

Mereka lebih menaruh perhatian pada apa yang pertama kali memenuhi pendengaran dan kesadaran seorang anak.

Sebab yang terpenting bukan hanya anak mampu berbicara, tetapi apa yang akan diucapkannya ketika kemampuan berbicara itu telah berkembang.

BACA JUGA:  Penyusuan Anak: Pengalaman dari Imam Haramain dan Ratu Elizabeth II

Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar kalimat-kalimat tauhid menjadi bagian dari lingkungan pertama yang didengar anak.

Ketika seorang anak mulai menirukan kata-kata, kalimat yang paling utama untuk dikenalkan adalah:

«La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.»

Tujuannya bukan sekadar melatih pengucapan, tetapi membangun fondasi keimanan sejak awal perkembangan bahasa.

Pendidikan Tauhid Dimulai Sebelum Anak Memahaminya

Anak kecil belum memahami konsep ketuhanan secara mendalam. Namun para pendidik muslim meyakini bahwa pembentukan jiwa dimulai jauh sebelum anak mampu berpikir abstrak.

Karena itu, sebagian ulama menganjurkan agar anak dibiasakan mendengar tentang Allah, mengenal kebesaran-Nya, serta memahami bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui segala perbuatannya.

Pengulangan yang terus-menerus akan membentuk kesadaran yang perlahan tumbuh seiring perkembangan akalnya.

Ketika kemampuan berpikirnya matang, anak tidak lagi sekadar menghafal kalimat tauhid. Ia mulai memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa seluruh kehidupannya berada di bawah pengawasan dan kasih sayang-Nya.

Dengan demikian, pendidikan bahasa dan pendidikan akidah berjalan beriringan.

https://s.shopee.co.id/BQAMIEKDQ

Menelusuri Jejak Para Nabi

Untuk memahami pentingnya kemampuan berbicara dalam pandangan Islam, menarik untuk melihat dua kisah yang tampak bertolak belakang dalam sejarah para nabi.

Nabi Isa a.s.: Ketika Lisan Menjadi Mukjizat

Al-Qur’an mengisahkan bahwa Nabi Isa a.s. berbicara ketika masih berada dalam buaian.

Di hadapan kaumnya, beliau berkata:

«”Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.”»

Peristiwa ini merupakan mukjizat yang Allah berikan untuk membela kesucian Maryam.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berbicara pada hakikatnya adalah anugerah Allah. Jika Allah menghendaki, seorang bayi pun dapat berbicara sebelum waktunya.

Namun mukjizat bukanlah hukum umum yang berlaku bagi seluruh manusia.

Karena itu, orang tua tetap diperintahkan menempuh sebab-sebab yang wajar dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan anak.

Nabi Musa a.s.: Ketika Kelancaran Lisan Menjadi Doa

Jika Isa a.s. menunjukkan sisi mukjizat, maka Musa a.s. menunjukkan sisi perjuangan.

Ketika diperintahkan menghadapi Fir’aun, Musa a.s. memohon kepada Allah:

«”Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”»

Doa ini menjadi pelajaran bahwa kemampuan berbicara tidak hanya membutuhkan latihan, tetapi juga pertolongan Allah.

Musa a.s. mengajarkan bahwa hambatan komunikasi harus dihadapi dengan dua cara sekaligus: usaha dan doa.

Di sinilah kedua kisah tersebut bertemu. Isa a.s. mengingatkan bahwa kemampuan berbicara adalah karunia Allah, sedangkan Musa a.s. mengajarkan bahwa karunia itu harus diupayakan dan dimohonkan.

Apa Kata Ilmu Perkembangan Anak?

Penelitian modern menunjukkan bahwa kemampuan berbicara berkembang terutama melalui interaksi sosial yang intensif.

Anak belajar bahasa bukan dari mendengar suara semata, tetapi dari hubungan yang hidup dengan orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, para ahli perkembangan anak menekankan beberapa hal.

Ilmu Perkembangan Anak

Percakapan Dua Arah

Ketika anak mengeluarkan suara atau menunjuk sesuatu, respons orang tua sangat menentukan.

Setiap respons yang diberikan membantu otak anak membangun jalur komunikasi yang kelak menjadi dasar kemampuan berbicara.

Menarasikan Aktivitas Sehari-hari

Anak memperoleh kosakata melalui paparan bahasa yang berulang.

Semakin sering orang tua menjelaskan apa yang sedang dilakukan, semakin banyak kata yang tersimpan dalam memori anak.

Membacakan Buku dan Al-Qur’an

Membacakan buku cerita maupun Al-Qur’an membantu anak mengenali bunyi bahasa, ritme kalimat, dan pola komunikasi.

Meskipun belum memahami maknanya secara utuh, otak anak sedang menyusun fondasi kemampuan berbahasa.

Mengurangi Ketergantungan pada Layar

Para ahli juga mengingatkan bahwa layar tidak dapat menggantikan interaksi manusia.

Anak membutuhkan kontak mata, ekspresi wajah, sentuhan, dan respons emosional yang tidak dapat diberikan oleh perangkat elektronik.

Ilmu Perkembangan Anak

Nama sebagai Identitas dan Doa

Dalam sejarah disebutkan bahwa sebagian Bani Israil memberi nama anak-anak mereka dengan nama yang mengandung makna kedekatan dengan Tuhan.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan anak bahkan dimulai sejak pemberian nama.

Karena itu Rasulullah saw. menyebutkan bahwa nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.

Nama bukan sekadar identitas administratif. Nama adalah doa, harapan, dan arah pendidikan yang terus diulang sepanjang hidup seseorang.

BACA JUGA:  6 Kisah Ibu bersama Anaknya dalam Al-Qur’an

Kesimpulan: Bukan Sekadar Cepat Berbicara

Ketika membahas cara membantu anak agar mudah berbicara, perhatian sering tertuju pada lidah dan mulutnya. Padahal persoalan yang lebih besar adalah bagaimana membentuk isi dari ucapan tersebut.

Tradisi mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap perkembangan anak. Ilmu perkembangan modern menjelaskan bahwa bahasa tumbuh melalui interaksi yang kaya dan penuh kasih sayang. Sementara Islam mengajarkan bahwa kemampuan berbicara adalah nikmat yang harus diarahkan untuk mengenal Allah dan menyampaikan kebenaran.

Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membantu anak mengucapkan kata pertama, tetapi juga memastikan bahwa kata-kata yang tumbuh dari lisannya kelak menjadi jalan menuju ilmu, akhlak, dan penghambaan kepada Allah.

Sebab keberhasilan seorang anak bukan diukur dari seberapa cepat ia berbicara, melainkan dari bagaimana lisannya digunakan ketika ia telah mampu berbicara. []

Sumber: Ibnu Qayyim, Kado sang buah hati, Al-Qowam, 2017

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *