Janin di Dalam Rahim Sudah Bisa Mendengar dan Melihat?

Nasrulloh Baksolahar
5 Min Read
Foto: Freepik

SEBAGIAN orang yang membahas penciptaan manusia beranggapan bahwa pendengaran dan penglihatan baru diberikan kepada manusia setelah ia lahir dari rahim ibunya. Mereka mendasarkan pendapat ini pada firman Allah:

QS. An-Nahl ayat 78

«”Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”»

Menurut mereka, karena janin berada dalam kegelapan rahim dan belum berinteraksi dengan dunia luar, maka pendengaran dan penglihatan baru diciptakan setelah kelahiran. Mereka beralasan bahwa tidak ada manfaat memberikan kemampuan mendengar dan melihat ketika janin masih berada di dalam kandungan.

Namun, benarkah demikian?

Jika diteliti lebih dalam, ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa pendengaran dan penglihatan baru diciptakan setelah manusia lahir. Kesimpulan tersebut lahir dari pemahaman yang kurang tepat terhadap susunan kalimat ayat.

BACA JUGA:  Penyusuan Anak: Pengalaman dari Imam Haramain dan Ratu Elizabeth II

Dalam bahasa Arab, huruf wawu (و) yang digunakan pada frasa “dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani” tidak selalu menunjukkan urutan waktu. Huruf ini sering kali hanya berfungsi menggabungkan beberapa nikmat Allah tanpa menjelaskan mana yang lebih dahulu dan mana yang kemudian.

Justru ayat ini mengisyaratkan bahwa ketika manusia keluar dari rahim dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, ia sebenarnya telah dibekali perangkat untuk belajar dan mengenal dunia: pendengaran, penglihatan, dan hati.

Fakta ini sejalan dengan hadis Nabi ﷺ yang menjelaskan perkembangan janin di dalam rahim.

https://id.shp.ee/5ckKhZJe

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setelah nutfah melewati empat puluh dua malam, Allah mengutus seorang malaikat untuk membentuk rupa janin serta menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, daging, dan tulangnya.

Hadis ini menunjukkan bahwa organ-organ tersebut telah diciptakan ketika manusia masih berada di dalam kandungan, jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia.

Tentu muncul pertanyaan: jika pendengaran dan penglihatan telah diciptakan sejak dalam rahim, mengapa bayi lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa?

Di sinilah pentingnya membedakan antara keberadaan organ dan kesempurnaan fungsinya.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa meskipun yang dimaksud dalam hadis adalah telinga dan mata sebagai organ fisik, kemampuan dasar untuk mendengar dan melihat telah ada sejak masa janin. Adapun kemampuan untuk menangkap realitas secara sempurna baru berkembang ketika penghalang-penghalang yang melindungi janin hilang setelah kelahiran.

Dengan kata lain, bayi tidak memperoleh pendengaran dan penglihatan saat lahir. Ia hanya mulai menggunakan perangkat yang sebelumnya telah Allah ciptakan dan sempurnakan selama berada di dalam rahim.

Penjelasan ini ternyata sejalan dengan temuan ilmu pengetahuan modern.

Penelitian embriologi menunjukkan bahwa janin mulai merespons suara ketika usia kehamilan memasuki sekitar 24 minggu. Ia dapat mengenali detak jantung ibunya, aliran darah, bahkan suara-suara dari luar rahim. Setelah lahir, bayi sering kali lebih tenang ketika mendengar suara yang telah akrab didengarnya selama dalam kandungan.

Sementara itu, meskipun hidup dalam lingkungan yang gelap, janin juga mampu merespons perubahan intensitas cahaya pada tahap akhir kehamilan. Ini menunjukkan bahwa sistem penglihatannya telah berkembang sebelum kelahiran.

Temuan-temuan tersebut tidak menjadi dasar penafsiran Al-Qur’an, tetapi menjadi bukti tambahan bahwa keberadaan pendengaran dan penglihatan pada janin bukanlah sesuatu yang mustahil.

Tafsir Kementerian Agama RI juga menjelaskan bahwa ketika masih berada dalam rahim, Allah telah menganugerahkan berbagai potensi kepada manusia. Setelah lahir, potensi-potensi tersebut berkembang sedikit demi sedikit melalui bimbingan Allah.

Karena itu, makna ayat “kamu tidak mengetahui sesuatu pun” bukanlah bahwa manusia lahir tanpa perangkat untuk mengetahui, melainkan bahwa ia lahir tanpa pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman. Allah telah membekalinya dengan alat-alat untuk memperoleh pengetahuan tersebut, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati.

Lebih jauh lagi, para ulama memandang bahwa pendengaran dan penglihatan bukan sekadar organ biologis. Keduanya merupakan amanah yang harus digunakan untuk mengenal Allah dan memahami tanda-tanda kebesaran-Nya.

BACA JUGA:  6 Kisah Ibu bersama Anaknya dalam Al-Qur’an

Karena itu, Allah menutup ayat ini dengan kalimat:

«”…agar kamu bersyukur.”»

Tanpa pendengaran, manusia tidak dapat mendengar wahyu. Tanpa penglihatan, ia tidak dapat menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Tanpa hati, ia tidak dapat merenungkan keduanya.

Dengan demikian, rahim bukanlah ruang hampa yang menunggu kehidupan dimulai. Rahim adalah tempat Allah menyiapkan manusia. Di sanalah Allah membentuk tubuhnya, menanamkan berbagai potensi, dan menciptakan perangkat yang kelak akan membantunya mengenal dunia dan Tuhannya.

Kelahiran bukanlah awal penciptaan pendengaran dan penglihatan. Kelahiran adalah awal berfungsinya secara lebih sempurna nikmat-nikmat yang telah Allah persiapkan sejak manusia masih berada dalam kegelapan rahim ibunya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *