Liku-liku Umar bin Khattab Bersama Istri-Istrinya

Nasrulloh Baksolahar
11 Min Read
Foto: Freepik

UMAR bin Khattab dikenal sebagai khalifah yang tegas, adil, dan berwibawa. Namun di balik ketegasannya sebagai pemimpin, kehidupan rumah tangganya memperlihatkan sisi lain dari kepribadiannya: seorang suami, ayah, dan kepala keluarga yang hidup di tengah dinamika sosial serta perubahan besar pada masa awal Islam.

Pernikahan-pernikahan Umar tidak hanya berlandaskan hubungan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan dakwah. Sebagian menjadi sarana mempererat hubungan antarkabilah, sebagian lagi memperkuat ikatan di antara keluarga para sahabat utama Rasulullah ﷺ.

Berikut adalah beberapa istri Umar bin Khattab dan kisah penting di balik pernikahan-pernikahan tersebut.

—

Daftar Istri Umar bin Khattab

Nama Istri Keterangan Singkat

Zaynab bint Maz’un Ibu dari Hafsa, Abdullah, dan Abdurrahman bin Umar
Qurayba bint Abi Umayyah Diceraikan setelah turunnya larangan mempertahankan pernikahan dengan wanita musyrik
Mulayka bint Jarwal Ibu dari Ubayd Allah bin Umar
Umm Hakim bint al-Harith Ibu dari Fatimah binti Umar
Jamilah bint Asim Ibu dari Asim bin Umar
Atiqa bint Zayd Wanita cerdas yang dikenal sebagai “istri para syahid”
Umm Kulthum bint Ali Putri Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra

BACA JUGA:  Rintihan Cinta dan Rindu Perempuan dalam Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khattab

Zaynab bint Maz’un: Penopang Awal Rumah Tangga Umar

Zaynab bint Maz’un adalah salah satu wanita Muhajirah generasi awal yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam.

Ia berasal dari Bani Jumah, salah satu kabilah Quraisy, dan merupakan saudari dari Utsman bin Maz’un, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ. Kedekatan keluarganya dengan dakwah Islam membuat Zaynab termasuk wanita yang teguh mempertahankan keimanannya di tengah tekanan Quraisy.

Pernikahannya dengan Umar berlangsung sejak masa awal Islam dan melewati fase-fase sulit di Makkah hingga hijrah ke Madinah. Bersama Umar, Zaynab menjalani kehidupan sederhana sebagai bagian dari kaum Muhajirin.

Dari pernikahan ini lahirlah tiga anak yang kelak menjadi tokoh penting:

  • Hafsa binti Umar, Ummul Mukminin dan penjaga mushaf Al-Qur’an.
  • Abdullah bin Umar, sahabat terkenal dalam bidang hadis dan fikih.
  • Abdurrahman bin Umar.

Keberhasilan anak-anak tersebut menjadi cerminan kualitas pendidikan Zaynab di dalam rumah. Ia membangun keluarga yang menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai pusat teladan.

Dalam banyak riwayat, hubungan Umar dan Zaynab digambarkan harmonis. Zaynab mendampingi Umar pada fase transisi penting: dari seorang Quraisy yang keras menjadi Muslim yang sepenuhnya tunduk kepada Allah.

Wafatnya Zaynab di Madinah meninggalkan duka mendalam bagi Umar dan menandai berakhirnya fase awal kehidupan rumah tangganya.

—

Qurayba bint Abi Umayyah: Ketika Akidah Mengalahkan Ikatan Dunia

Qurayba bint Abi Umayyah berasal dari keluarga Quraisy terpandang. Pernikahannya dengan Umar berlangsung sebelum Islam berkembang luas di Makkah.

Namun, perjalanan rumah tangga mereka mengalami titik balik setelah Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu turun firman Allah dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 10 yang melarang kaum Muslimin mempertahankan pernikahan dengan wanita musyrik.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا جَاۤءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّۗ اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِهِنَّ فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِۗ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ وَاٰتُوْهُمْ مَّآ اَنْفَقُوْاۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۗ وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقُوْاۗ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِۗ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝١٠yâ

ayyuhalladzîna âmanû idzâ jâ’akumul-mu’minâtu muhâjirâtin famtaḫinûhunn, allâhu a‘lamu bi’îmânihinna fa in ‘alimtumûhunna mu’minâtin fa lâ tarji‘ûhunna ilal-kuffâr, lâ hunna ḫillul lahum wa lâ hum yaḫillûna lahunn, wa âtûhum mâ anfaqû, wa lâ junâḫa ‘alaikum an tangkiḫûhunna idzâ âtaitumûhunna ujûrahunn, wa lâ tumsikû bi‘ishamil-kawâfiri was’alû mâ anfaqtum walyas’alû mâ anfaqû, dzâlikum ḫukmullâh, yaḫkumu bainakum, wallâhu ‘alîmun ḫakîm

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih tahu tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui (keadaan) mereka bahwa mereka (benar-benar sebagai) perempuan-perempuan mukmin, janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. Berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu membayar mahar kepada mereka. Janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir. Hendaklah kamu meminta kembali (dari orang-orang kafir) mahar yang telah kamu berikan (kepada istri yang kembali kafir). Hendaklah mereka (orang-orang kafir) meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”  (QS. Al-Mumtahanah: 10)

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Ayat tersebut menjadi ujian besar bagi banyak sahabat, termasuk Umar. Sebagai sosok yang sangat tunduk kepada syariat, Umar segera menceraikan Qurayba karena ia belum memeluk Islam.

Perpisahan itu bukan disebabkan kebencian pribadi, melainkan bentuk kepatuhan kepada Allah. Umar tidak menzalimi Qurayba dan tetap menjaga kehormatannya sebagai wanita Quraisy.

Kisah ini memperlihatkan bahwa bagi generasi sahabat, ikatan iman berada di atas ikatan duniawi.

—

Mulayka bint Jarwal: Pengorbanan dalam Masa Transisi Islam

Mulayka bint Jarwal berasal dari Bani Khuza’ah. Dari pernikahan ini lahir Ubayd Allah bin Umar.

Sebagaimana Qurayba, perpisahan Umar dengan Mulayka terjadi setelah turunnya hukum yang melarang mempertahankan pernikahan dengan wanita musyrik.

Bagi Umar, ketaatan kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh kenyamanan pribadi atau hubungan keluarga. Meski demikian, perceraian itu tidak menghilangkan tanggung jawabnya sebagai ayah bagi Ubayd Allah.

Kisah ini menggambarkan betapa beratnya fase transisi hukum Islam pada masa awal dakwah. Para sahabat tidak hanya berkorban harta dan kedudukan, tetapi juga harus menghadapi ujian dalam kehidupan keluarga mereka sendiri.

—

Umm Hakim bint al-Harith: Wanita Tangguh dari Bani Makhzum

Umm Hakim bint al-Harith berasal dari keluarga besar Bani Makhzum. Ia adalah putri al-Harith bin Hisyam dan sebelumnya merupakan istri Ikrimah bin Abi Jahl.

Ikrimah gugur sebagai syahid dalam Perang Yarmuk. Setelah masa iddahnya selesai, Umar menikahi Umm Hakim sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga pejuang Islam.

Umm Hakim dikenal sebagai wanita pemberani. Dalam sejumlah riwayat, ia digambarkan ikut mendampingi perjuangan kaum Muslimin di medan perang.

Dari pernikahannya dengan Umar lahir Fatimah binti Umar. Kehidupan rumah tangga mereka menunjukkan perpaduan dua karakter kuat: Umar yang tegas dan Umm Hakim yang tangguh.

Pernikahan ini juga menjadi simbol penyatuan berbagai kabilah Quraisy di bawah naungan Islam.

Tata Cara Mandi Junub bagi Wanita, Akhlak, Umar bin Khattab
Foto: Freepik

Jamilah bint Asim: Mata Rantai Lahirnya Umar bin Abdul Aziz

Jamilah bint Asim berasal dari kaum Ansar. Ayahnya, Asim bin Thabit, adalah syahid dalam peristiwa Ar-Raji’.

Pernikahan Umar dengan Jamilah memperkuat hubungan Muhajirin dan Ansar di Madinah. Dari pernikahan ini lahir Asim bin Umar.

Asim kemudian menjadi mata rantai penting dalam sejarah Islam karena dari garis keturunannya lahir Umar bin Abdul Aziz, pemimpin yang sering disebut sebagai khalifah kelima Khulafaur Rasyidin.

Kisah Jamilah memperlihatkan bahwa pengaruh seorang ibu bisa melampaui zamannya. Dari rumah tangga yang dibangun atas dasar iman dan ketakwaan, lahirlah generasi yang membawa keadilan bagi umat.

—

Atiqa bint Zayd: Istri Para Syahid

Atiqa bint Zayd dikenal sebagai wanita cerdas, ahli syair, dan memiliki keteguhan prinsip.

Sebelum menikah dengan Umar, ia adalah istri Abdullah bin Abu Bakar yang wafat akibat luka perang. Setelah Umar wafat, Atiqa menikah dengan Az-Zubayr bin al-Awwam yang juga gugur sebagai syahid.

Salah satu kisah terkenal tentang Atiqa adalah dialognya dengan Umar mengenai shalat di masjid. Umar yang sangat protektif sebenarnya lebih suka jika Atiqa beribadah di rumah, tetapi beliau tidak melarangnya karena mengingat sabda Rasulullah ﷺ agar wanita tidak dicegah pergi ke masjid.

Kisah ini menunjukkan sisi manusiawi Umar: cemburu sebagai suami, namun tetap tunduk kepada ajaran Nabi ﷺ.

Atiqa juga menjadi saksi tragis saat Umar ditikam ketika mengimami shalat Subuh. Ia menyaksikan langsung akhir hayat suaminya yang wafat sebagai syahid.

Umm Kulthum binti Ali: Simbol Persatuan Dua Keluarga Besar

Umm Kulthum binti Ali adalah putri Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra.

Pernikahan Umar dengan Umm Kulthum memiliki makna historis yang sangat besar karena menyatukan keluarga Umar dengan Ahlul Bait Rasulullah ﷺ.

Ketika Umar melamar Umm Kulthum, Ali awalnya merasa ragu karena usia putrinya masih muda. Namun Umar menjelaskan bahwa ia ingin memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Rasulullah ﷺ.

Akhirnya Ali menerima lamaran tersebut. Dari pernikahan ini lahir dua anak:

Zayd bin Umar

Ruqayyah binti Umar

Pernikahan ini menjadi simbol kuatnya persaudaraan antara Umar dan Ali, sekaligus bantahan terhadap narasi yang berusaha menggambarkan adanya permusuhan pribadi di antara para sahabat utama Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA: Seberapa Kaya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf?

Hikmah dari Kehidupan Rumah Tangga Umar

Kehidupan keluarga Umar bin Khattab memperlihatkan bahwa para sahabat Nabi juga menjalani dinamika rumah tangga yang penuh ujian, cinta, pengorbanan, dan keputusan sulit.

Dari kisah-kisah tersebut, tampak beberapa pelajaran penting:

Akidah menjadi fondasi utama dalam kehidupan keluarga.

Pernikahan dipandang sebagai sarana memperkuat ukhuwah dan stabilitas umat.

Ketegasan Umar dalam memegang syariat selalu diimbangi dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap keluarganya.

Para istri Umar bukan sekadar pendamping, tetapi juga wanita-wanita kuat yang turut membentuk generasi terbaik Islam.

Di balik sosok Umar yang dikenal keras di ruang publik, terdapat kehidupan domestik yang memperlihatkan sisi kasih sayang, penghormatan terhadap perempuan, dan perhatian besar terhadap pendidikan keluarga. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *