Kenapa Banyak Anak SMP dan SMA yang Sudah Tidak Pernah Mengaji?

Yudi
By Yudi
6 Min Read
Foto: Unsplash

MENGAJI merupakan salah satu amalan penting bagi seorang muslim. Melalui Al-Qur’an, seseorang belajar membaca ayat-ayat Allah, memahami petunjuk hidup, sekaligus mendekatkan diri kepada-Nya. Sayangnya, di tengah perkembangan zaman, tidak sedikit anak usia SMP dan SMA yang mulai meninggalkan kebiasaan mengaji. Bahkan, ada yang hanya membuka Al-Qur’an saat bulan Ramadhan atau ketika diminta oleh orang tuanya.

Fenomena ini tentu tidak terjadi tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang membuat remaja semakin jauh dari Al-Qur’an. Memahami penyebabnya dapat menjadi langkah awal untuk mencari solusi yang tepat.

BACA JUGA: Tidak Bisa Shalat Karena dari Kecil Tidak Pernah Ngaji, Bagaimana?

1. Kesibukan Sekolah yang Semakin Padat

Memasuki jenjang SMP dan SMA, beban pelajaran biasanya semakin banyak. Tugas sekolah, pekerjaan rumah, ujian, hingga kegiatan ekstrakurikuler menyita cukup banyak waktu.

Akibatnya, sebagian remaja merasa sudah kelelahan ketika tiba di rumah. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengaji akhirnya tergeser oleh aktivitas lain atau sekadar beristirahat.

Padahal, mengaji tidak harus dilakukan dalam waktu lama. Membaca beberapa ayat setiap hari secara rutin jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

2. Terlalu Sibuk dengan Gadget

Smartphone telah menjadi bagian dari kehidupan remaja. Banyak waktu dihabiskan untuk bermain gim, menonton video pendek, berselancar di media sosial, atau mengobrol melalui aplikasi pesan.

Tanpa disadari, penggunaan gadget yang berlebihan membuat waktu luang habis begitu saja. Ketika seseorang mampu menghabiskan dua hingga empat jam sehari di depan layar, sebenarnya ia juga memiliki kesempatan untuk meluangkan 10–15 menit membaca Al-Qur’an.

3. Lingkungan yang Tidak Lagi Membiasakan Mengaji

Lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap kebiasaan seseorang. Jika teman-teman sebaya tidak pernah mengaji, seseorang cenderung ikut meninggalkannya.

Sebaliknya, remaja yang berada di lingkungan keluarga, sekolah, atau komunitas yang membiasakan membaca Al-Qur’an biasanya lebih mudah menjaga rutinitas tersebut.

4. Orang Tua Tidak Lagi Mengingatkan

Ketika anak masih kecil, orang tua biasanya aktif mengantar ke TPA atau mengingatkan waktu mengaji. Namun setelah memasuki usia remaja, sebagian orang tua mulai menganggap anak sudah mampu mengatur dirinya sendiri.

Akibatnya, kebiasaan mengaji perlahan memudar karena tidak ada lagi yang mengingatkan atau memberikan teladan di rumah.

5. Merasa Sudah Bisa Membaca Al-Qur’an

Sebagian remaja berpikir bahwa belajar mengaji hanya untuk anak-anak. Setelah merasa sudah lancar membaca Al-Qur’an, mereka menganggap tidak perlu lagi mengaji secara rutin.

Padahal, mengaji bukan hanya belajar mengeja huruf hijaiyah. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang dianjurkan sepanjang hidup, sekaligus sarana untuk terus memperbaiki bacaan dan memahami maknanya.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

6. Kurangnya Pemahaman tentang Keutamaan Al-Qur’an

Banyak remaja mengetahui bahwa membaca Al-Qur’an itu baik, tetapi belum memahami betapa besar keutamaannya.

Dalam hadis dijelaskan bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca bernilai pahala, bukan hanya setiap ayat. Pemahaman seperti ini dapat menjadi motivasi agar seseorang lebih semangat membaca Al-Qur’an setiap hari.

7. Tidak Memiliki Jadwal yang Tetap

Sebagian orang hanya mengaji ketika sedang semangat. Saat rasa malas datang, kebiasaan itu langsung terhenti.

Padahal, kebiasaan yang baik biasanya dibangun melalui jadwal yang konsisten. Misalnya, membaca satu atau dua halaman setelah shalat Maghrib atau Subuh setiap hari.

8. Merasa Al-Qur’an Sulit Dipahami

Ada remaja yang mulai kehilangan minat karena merasa tidak mengerti arti ayat-ayat yang dibaca.

Padahal, membaca Al-Qur’an tetap bernilai ibadah meskipun seseorang belum memahami seluruh maknanya. Setelah itu, ia dapat mulai mempelajari tafsir atau terjemahan secara bertahap agar semakin mencintai Al-Qur’an.

9. Kurangnya Teladan dari Orang Dewasa

Anak-anak dan remaja belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari contoh. Jika di rumah mereka jarang melihat orang tua membaca Al-Qur’an, motivasi untuk mengaji juga bisa berkurang.

Sebaliknya, ketika ayah dan ibu membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari, anak cenderung lebih mudah mengikuti kebiasaan tersebut.

10. Pengaruh Gaya Hidup Modern

Di era digital, hiburan tersedia selama 24 jam. Film, musik, media sosial, hingga gim menawarkan kesenangan yang instan. Tanpa pengelolaan waktu yang baik, aktivitas-aktivitas ini dapat membuat ibadah, termasuk mengaji, semakin tersisih.

Bukan berarti teknologi harus dijauhi. Justru teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebiasaan baik, seperti mendengarkan murattal, mengikuti kelas tahsin daring, atau menggunakan aplikasi pengingat tilawah.

Bagaimana Solusinya?

Mengembalikan kebiasaan mengaji tidak harus dimulai dengan target yang berat. Yang terpenting adalah membangun konsistensi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

BACA JUGA: Kenapa Pengajian Kaum Salaf Semakin Banyak Sekarang Ini?

  • Menetapkan target membaca Al-Qur’an 10–15 menit setiap hari.
  • Mengurangi waktu bermain gadget yang tidak bermanfaat.
  • Mengaji bersama keluarga setelah Maghrib.
  • Bergabung dengan halaqah atau kelompok tahsin di masjid.
  • Membaca terjemahan dan tafsir agar lebih memahami isi Al-Qur’an.
  • Memohon kepada Allah agar diberikan hati yang mencintai Al-Qur’an.

Banyaknya anak SMP dan SMA yang mulai meninggalkan kebiasaan mengaji dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kesibukan sekolah, penggunaan gadget yang berlebihan, lingkungan, kurangnya teladan, serta minimnya kesadaran akan keutamaan Al-Qur’an. Fenomena ini tidak sepatutnya hanya disalahkan kepada remaja semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan para pembimbing agama.

Membiasakan kembali membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa menit setiap hari, dapat menjadi langkah sederhana yang membawa perubahan besar. Sebab, hubungan yang terus dijaga dengan Al-Qur’an bukan hanya memperindah bacaan, tetapi juga membentuk akhlak, menenangkan hati, dan menjadi bekal berharga bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *