DI tengah masyarakat, masih ada anggapan bahwa perempuan yang merokok adalah perempuan nakal. Sementara itu, laki-laki yang merokok sering kali dianggap sebagai hal yang biasa. Perbedaan cara pandang ini memunculkan pertanyaan: benarkah kebiasaan merokok dapat dijadikan ukuran untuk menilai akhlak atau kepribadian seseorang?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Merokok Bukan Tolak Ukur Akhlak Seseorang
Seseorang tidak bisa langsung dinilai baik atau buruk hanya karena merokok atau tidak merokok. Akhlak seseorang dinilai dari keseluruhan perilakunya, seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian terhadap orang lain, serta ketaatan kepada nilai-nilai agama dan moral.
BACA JUGA: Tak Mau Pilih Calon Suami Perokok, Apakah Berlebihan?
Ada perempuan yang merokok tetapi tetap menghormati orang tua, bekerja dengan jujur, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, ada pula orang yang tidak merokok tetapi melakukan kebohongan, penipuan, atau tindakan yang merugikan orang lain.
Artinya, kebiasaan merokok tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai karakter seseorang.
Mengapa Perempuan Perokok Sering Mendapat Stigma?
Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, merokok sejak lama lebih sering dikaitkan dengan laki-laki. Akibatnya, ketika perempuan merokok, sebagian masyarakat menganggapnya melanggar norma yang telah lama berlaku.
Stigma ini terbentuk karena faktor budaya dan kebiasaan sosial, bukan karena ada bukti bahwa setiap perempuan yang merokok pasti memiliki akhlak yang buruk.
Namun demikian, setiap orang juga perlu menghormati norma yang berlaku di lingkungan tempat ia tinggal selama norma tersebut tidak bertentangan dengan hukum dan nilai kemanusiaan.
Dari Sudut Pandang Kesehatan
Terlepas dari siapa yang merokok, baik laki-laki maupun perempuan, rokok tetap membawa risiko kesehatan yang serius.
Merokok dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, antara lain:
- Kanker paru-paru.
- Penyakit jantung.
- Stroke.
- Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
- Gangguan kesuburan.
- Komplikasi kehamilan.
- Bayi lahir dengan berat badan rendah jika ibu merokok saat hamil.
Karena itu, alasan utama untuk menghindari rokok adalah demi menjaga kesehatan, bukan karena stigma sosial.
Pandangan dalam Islam
Dalam Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari menjaga amanah yang diberikan Allah. Banyak ulama berpendapat bahwa merokok sebaiknya dihindari karena mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya. Bahkan sebagian ulama memfatwakan haram apabila rokok terbukti membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Prinsip ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan. Dengan kata lain, jika merokok dinilai sebagai perbuatan yang membawa mudarat, maka penilaiannya tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin.
Islam juga mengajarkan agar tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari satu kebiasaan. Seorang muslim dianjurkan untuk menasihati dengan hikmah dan mendoakan kebaikan bagi sesama, bukan memberikan cap buruk yang belum tentu benar.
Hindari Menghakimi, Dorong Perubahan
Memberi label “perempuan nakal” hanya karena seseorang merokok dapat melukai perasaan dan tidak membantu menyelesaikan masalah. Jika memang ingin mengurangi angka perokok, pendekatan yang lebih baik adalah edukasi, dukungan untuk berhenti merokok, dan penyediaan layanan berhenti merokok.
Seseorang bisa berubah menjadi lebih baik ketika mendapatkan lingkungan yang mendukung, bukan ketika terus-menerus dicap negatif.
BACA JUGA: Kalau Perempuan Merokok, Apa Bahayanya?
Anggapan bahwa perempuan yang merokok pasti merupakan perempuan nakal adalah sebuah generalisasi yang tidak tepat. Kebiasaan merokok tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menilai akhlak atau kepribadian seseorang. Yang lebih penting adalah melihat keseluruhan sikap, perilaku, dan tanggung jawabnya.
Meskipun demikian, dari sisi kesehatan maupun banyak pandangan keagamaan, merokok tetap merupakan kebiasaan yang sebaiknya dihindari karena membawa banyak dampak buruk bagi diri sendiri dan orang di sekitarnya. Oleh karena itu, yang perlu dikritisi adalah perilaku merokoknya, bukan memberikan stigma kepada seseorang hanya berdasarkan jenis kelamin atau satu kebiasaannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

