DOA merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Melalui doa, seorang hamba mencurahkan segala harapan, kesulitan, dan permohonannya kepada Allah SWT. Tidak hanya ketika mendapatkan nikmat, seseorang juga dianjurkan untuk berdoa saat menghadapi ujian atau kezaliman dari orang lain.
Namun, muncul pertanyaan yang sering dibahas di kalangan umat Islam, yaitu bolehkah mendoakan keburukan bagi orang lain? Terlebih jika orang tersebut telah menyakiti, memfitnah, atau mengambil hak kita. Sebagian orang merasa tidak tega mendoakan keburukan, sementara yang lain menganggap hal itu sebagai bentuk pembelaan diri. Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut?
Orang yang Dizalimi Diberi Kelonggaran
Islam adalah agama yang mengajarkan keadilan. Allah SWT mengetahui bahwa ada kalanya seseorang menjadi korban kezaliman sehingga hatinya dipenuhi rasa sedih, marah, dan kecewa. Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan keringanan kepada orang yang dizalimi untuk mengadukan perkaranya kepada Allah.
BACA JUGA: Apakah Berdoa Harus Mengangkat Kedua Tangan?
Allah SWT berfirman: “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan dengan terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi.” (QS. An-Nisa’: 148)
Ayat ini menjadi salah satu dasar bahwa orang yang benar-benar dizalimi diperbolehkan memohon kepada Allah agar diberikan keadilan. Jika ia berdoa agar pelaku mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya, maka hal tersebut dibolehkan selama tidak melampaui batas.
Namun, perlu dipahami bahwa kebolehan ini berlaku bagi orang yang benar-benar menjadi korban kezaliman, bukan sekadar karena rasa benci, iri, atau persoalan sepele.
Jangan Sampai Melampaui Batas
Meskipun diperbolehkan, Islam tetap melarang seseorang berbuat zalim, termasuk dalam doa. Jangan sampai seseorang mendoakan kehancuran yang berlebihan atau keburukan yang tidak sebanding dengan kesalahan orang lain.
Allah SWT berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. Asy-Syura: 40)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam menjunjung tinggi prinsip keadilan. Seorang muslim tidak boleh membalas secara berlebihan hanya karena didorong oleh emosi. Apabila memilih untuk berdoa, hendaknya ia menyerahkan urusan tersebut kepada Allah Yang Maha Adil, bukan karena ingin melampiaskan dendam.
Karena itu, doa seperti, “Ya Allah, berikanlah balasan yang adil sesuai dengan perbuatannya,” lebih baik daripada mendoakan sesuatu yang melampaui batas.
Memaafkan Lebih Mulia
Walaupun Islam membolehkan orang yang dizalimi berdoa meminta keadilan, memaafkan tetap menjadi pilihan yang lebih utama. Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang mampu menahan amarah dan memberi maaf.
Allah SWT berfirman: “Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”
(QS. Asy-Syura: 40)
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan yang luar biasa. Ketika beliau disakiti oleh penduduk Thaif, Malaikat Jibril menawarkan agar mereka ditimpa azab. Namun, Rasulullah ﷺ tidak memilih hal tersebut. Beliau justru berharap agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman kepada Allah.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa hati yang penuh kasih sayang sering kali lebih dicintai Allah daripada hati yang dipenuhi kebencian.
Berdoalah dengan Adab yang Baik
Saat hati sedang terluka, seseorang memang mudah terbawa emosi. Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang muslim tetap menjaga lisannya, termasuk ketika berdoa.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, anak-anak kalian, ataupun harta kalian. Jangan sampai doa itu bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa sehingga Allah mengabulkannya.” (HR. Muslim No. 3009)
Hadis ini menunjukkan bahwa doa memiliki kekuatan yang besar. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam mengucapkan doa, terutama ketika sedang marah.
BACA JUGA: Bolehkah Berdoa dalam Hati tanpa Menggerakkan Bibir?
Daripada mendoakan keburukan, akan lebih baik jika seseorang berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada pelaku, memperbaiki keadaannya, atau memberikan balasan yang paling adil menurut hikmah-Nya. Dengan demikian, hati juga akan menjadi lebih tenang dan terhindar dari rasa dendam yang berkepanjangan.
Mendoakan keburukan bagi orang lain pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam. Akan tetapi, apabila seseorang benar-benar menjadi korban kezaliman, ia diperbolehkan memohon kepada Allah agar diberikan keadilan atau balasan yang setimpal kepada pelaku. Kebolehan ini harus tetap berada dalam batas-batas syariat dan tidak didasari oleh kebencian yang berlebihan.
Di sisi lain, memaafkan tetap menjadi pilihan yang lebih utama. Selain mendatangkan pahala yang besar, sikap memaafkan juga mencerminkan akhlak mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, ketika menghadapi perlakuan yang menyakitkan, hendaknya kita menyerahkan segala urusan kepada Allah, karena hanya Dia Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil dalam memberikan balasan kepada setiap hamba-Nya.[]
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

