Pertanyaan Heraklius tentang Rasulullah Muhammad ﷺ

Umar Faqih
6 Min Read
Foto: Islampos AI

ANGIN padang pasir membawa kabar itu melintasi bukit-bukit tandus, menyeberangi lautan, lalu mengetuk pintu-pintu istana yang megah.

Di Makkah, seorang lelaki bernama Muhammad ﷺ mengajak manusia menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Ia tidak membawa pedang untuk memaksa.

Ia tidak membawa emas untuk membeli hati.

Ia hanya membawa wahyu.

Namun, justru itulah yang mengguncang dunia.

Orang-orang yang mencintai kebenaran mendekat kepadanya.

Orang-orang yang mencintai kekuasaan menjauh dan memusuhinya.

Mereka mencela namanya.

Mereka menuduhnya pendusta.

Mereka menghinanya dengan berbagai cara.

BACA JUGA: Saat Heraklius Meninggalkan Palestina

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak sanggup mereka sangkal.

Muhammad adalah manusia yang paling jujur di tengah kaumnya.

Sejak muda ia dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Bahkan musuh-musuhnya pun menitipkan harta kepadanya.

Kabar tentang lelaki mulia itu akhirnya sampai ke telinga Heraklius, Kaisar Romawi Timur.

Seorang penguasa besar yang kerajaannya membentang luas.

Ia bukan orang Arab.

Ia tidak mengenal Muhammad secara langsung.

https://s.shopee.co.id/9fJETsTwwy

Namun, berita tentang munculnya seorang nabi baru membuatnya ingin mengetahui kebenaran.

Pada saat itu, Abu Sufyan sedang memimpin rombongan dagang Quraisy di wilayah Syam.

Heraklius memanggil mereka ke Baitul Maqdis.

Di dalam aula istana yang dipenuhi para bangsawan Romawi, Abu Sufyan berdiri menghadap sang kaisar.

Ironisnya, Abu Sufyan adalah salah seorang yang paling keras memusuhi Nabi Muhammad ﷺ.

Andai ada kesempatan menjatuhkan nama Muhammad, tentu dialah orang pertama yang melakukannya.

Namun, Heraklius memberi peringatan tegas.

“Jangan berdusta.”

Ucapan itu membuat Abu Sufyan terdiam.

Di hadapan seorang raja besar, ia tidak berani memutarbalikkan kenyataan.

Ia pun bersumpah akan menjawab apa adanya.

Heraklius mulai bertanya satu demi satu.

“Berasal dari keluarga seperti apakah Muhammad?”

Abu Sufyan menjawab pelan.

“Ia berasal dari keturunan yang mulia.”

Heraklius mengangguk.

Ia kembali bertanya.

“Adakah sebelum dia seseorang yang membawa ajaran seperti itu?”

“Tidak.”

“Apakah nenek moyangnya seorang raja?”

“Tidak.”

“Siapa yang paling banyak mengikutinya? Orang-orang terpandang atau rakyat biasa?”

“Orang-orang biasa.”

“Apakah pengikutnya terus bertambah?”

“Ya. Mereka terus bertambah.”

“Apakah ada di antara mereka yang meninggalkan agamanya karena kecewa?”

“Tidak ada.”

“Apakah Muhammad pernah berdusta?”

Abu Sufyan menarik napas panjang.

Meskipun kebenciannya begitu besar, lidahnya tetap mengucapkan kebenaran.

“Tidak.”

“Pernahkah ia mengingkari janji?”

“Tidak.”

“Lalu, apa yang dia ajarkan?”

Abu Sufyan menjawab dengan jujur.

“Ia memerintahkan kami menyembah Allah semata.”

“Ia melarang kami menyembah berhala.”

“Ia menyuruh kami mendirikan shalat.”

“Ia memerintahkan kami berkata jujur.”

“Ia mengajarkan kesopanan.”

“Dan ia memerintahkan kami menjaga tali persaudaraan.”

Ruangan itu menjadi hening.

Heraklius tidak segera berbicara.

Seolah setiap jawaban sedang disusunnya menjadi sebuah kesimpulan.

Lalu perlahan ia berkata,

“Jika benar ia berasal dari keturunan yang mulia, begitulah para nabi diutus kepada kaumnya.”

“Jika sebelumnya tidak ada seorang pun yang membawa ajaran itu, berarti ia bukan sedang meniru siapa pun.”

“Jika ia tidak pernah berdusta kepada manusia, bagaimana mungkin ia berdusta atas nama Allah?”

Heraklius menatap Abu Sufyan dengan tajam.

“Engkau mengatakan bahwa pengikutnya kebanyakan orang-orang lemah.”

“Itulah yang selalu terjadi pada para rasul.”

“Engkau mengatakan bahwa pengikutnya terus bertambah.”

“Begitulah iman.”

“Ia tumbuh sedikit demi sedikit hingga memenuhi hati manusia.”

“Engkau mengatakan tidak ada yang meninggalkan agamanya karena membencinya.”

“Itulah tanda ketika iman telah meresap ke dalam jiwa.”

Kelebihan Bangsa Arab, Heraklius
Foto: Freepik

“Engkau mengatakan Muhammad tidak pernah mengingkari janji.”

“Itulah sifat para nabi.”

Setiap kalimat Heraklius terasa seperti kepingan-kepingan yang akhirnya menyatu menjadi satu gambaran utuh.

Ia seakan sedang membaca tanda-tanda yang telah dikenalnya dari kitab-kitab terdahulu.

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat semua orang terdiam.

“Jika semua yang engkau katakan benar, maka kelak ia akan menguasai negeri hingga ke tempat kedua kakiku berpijak.”

Ucapan itu keluar dari mulut seorang kaisar yang menguasai salah satu kerajaan terbesar di muka bumi.

Ia belum pernah bertemu Muhammad ﷺ.

Namun, ia mampu mengenali cahaya kenabian melalui kejujuran musuh-musuh beliau sendiri.

Lalu Heraklius menghela napas panjang.

Matanya menerawang jauh.

Seolah sedang membayangkan seseorang yang belum pernah ia jumpai.

“Aku sebenarnya telah mengetahui bahwa seorang nabi akan muncul.”

“Tetapi aku tidak menyangka ia berasal dari bangsa Arab.”

BACA JUGA:  Ketika Heraklius Memaksa Ibnu Hudzafah Tinggalkan Islam

Kemudian ia berkata dengan penuh kerendahan hati,

“Seandainya aku yakin dapat bertemu dengannya, niscaya aku akan mendatanginya, walaupun harus menempuh perjalanan yang sangat berat.”

“Dan jika aku berada di hadapannya, sungguh akan kucuci kedua telapak kakinya.”

Begitulah kejujuran.

Ia memiliki kekuatan yang bahkan tidak mampu dikalahkan oleh kebencian.

Abu Sufyan datang sebagai musuh.

Namun, ia pulang sebagai saksi.

Sementara Heraklius tidak melihat Nabi Muhammad ﷺ dengan matanya.

Tetapi melalui jawaban-jawaban yang jujur itu, ia melihat tanda-tanda seorang utusan Allah.

Sebab cahaya kebenaran tidak selalu dikenali oleh mereka yang paling dekat.

Kadang justru tampak paling jelas bagi hati yang mau mendengar dengan jujur. []

Referensi: 101 Kisah Hebat Bersama Rasulullah, Menanamkan Pendidikan Karakter Anak Melalui Kisah-Kisah Bermanfaat / Penulis Rina Novia / Penerbit Zikrul Hakim (Anggota IKAPI / Cetakan I, Mei 2015

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *