RIBA merupakan salah satu dosa besar yang mendapat peringatan sangat keras dalam Islam. Al-Qur’an dan hadits menjelaskan bahwa praktik riba bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan keadilan, keberkahan harta, dan kehidupan masyarakat. Namun, jika melihat kondisi saat ini, banyak orang yang justru menganggap riba sebagai sesuatu yang biasa. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Berikut beberapa penyebab yang patut direnungkan.
1. Riba Sudah Menjadi Hal yang Dianggap Normal
Salah satu penyebab terbesar adalah karena riba telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Pinjam Uang ke Bank Konvensional Itu Riba, Lalu Harus Pinjam ke Mana?
Mulai dari pinjaman berbunga, kartu kredit, hingga berbagai bentuk pembiayaan, masyarakat begitu sering melihat praktik tersebut sehingga lama-kelamaan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika suatu perbuatan sering dilakukan oleh banyak orang, rasa takut terhadapnya bisa berkurang, meskipun hukumnya tidak berubah.
2. Kurangnya Pemahaman Tentang Riba
Tidak sedikit orang yang mengetahui bahwa riba dilarang, tetapi tidak memahami apa saja bentuk-bentuknya.
Sebagian mengira riba hanya berlaku pada rentenir. Padahal dalam fikih Islam, pembahasan riba jauh lebih luas dan memiliki rincian tersendiri. Kurangnya ilmu membuat seseorang mudah terjerumus tanpa menyadarinya.
3. Gaya Hidup Lebih Besar daripada Penghasilan
Keinginan memiliki rumah mewah, kendaraan baru, gawai terbaru, atau mengikuti tren sering kali lebih besar daripada kemampuan finansial.
Ketika penghasilan tidak mencukupi, sebagian orang memilih jalan yang paling cepat, yaitu berutang dengan bunga. Akhirnya, riba dianggap sebagai solusi instan untuk memenuhi gaya hidup.
4. Ingin Serba Cepat
Budaya instan juga berpengaruh.
Banyak orang tidak ingin menunggu hingga memiliki uang yang cukup. Mereka ingin menikmati sesuatu sekarang dan memikirkan cara membayarnya nanti.
Padahal, keputusan yang terburu-buru sering kali berujung pada beban cicilan yang panjang.
5. Lingkungan Menganggap Riba Biasa
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir seseorang.
Jika hampir semua teman, rekan kerja, atau anggota keluarga menggunakan pinjaman berbunga dan menganggapnya biasa, seseorang akan lebih mudah mengikuti tanpa mempertanyakan hukumnya.
Karena itu, penting untuk memilih lingkungan yang dapat saling mengingatkan dalam kebaikan.
6. Dakwah Tentang Riba Masih Kurang Dipahami
Pembahasan tentang riba terkadang dianggap terlalu rumit karena berkaitan dengan akad dan transaksi keuangan.
Akibatnya, sebagian masyarakat lebih memahami hukum ibadah seperti shalat dan puasa dibandingkan hukum muamalah, padahal keduanya sama-sama penting dalam Islam.
7. Menganggap yang Penting Bisa Membayar Cicilan
Sebagian orang beranggapan, “Selama saya mampu membayar, tidak ada masalah.”
Padahal, dalam Islam, kemampuan membayar bukan satu-satunya ukuran. Cara memperoleh dan menggunakan harta juga harus sesuai dengan syariat.
8. Tergiur Kemudahan Pinjaman
Saat ini, mengajukan pinjaman dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit melalui aplikasi.
Kemudahan tersebut membuat banyak orang tidak lagi mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, baik dari sisi keuangan maupun dari sisi hukum agama.
9. Kurangnya Kesadaran Akan Dampak Jangka Panjang
Riba tidak hanya dapat memberatkan kondisi keuangan seseorang melalui bunga dan denda, tetapi juga berpotensi memicu stres, konflik keluarga, dan kesulitan ekonomi apabila utang tidak dikelola dengan baik.
Dalam perspektif Islam, selain dampak duniawi tersebut, seorang Muslim juga diajak mempertimbangkan dampak spiritual dan pentingnya mencari penghasilan serta bertransaksi dengan cara yang halal.
10. Lemahnya Rasa Takut kepada Allah
Pada akhirnya, setiap larangan agama berkaitan dengan ketakwaan.
Ketika seseorang lebih mengutamakan keuntungan sesaat daripada ketaatan kepada Allah, larangan yang jelas pun bisa dianggap ringan.
Karena itu, memperkuat iman dan memperdalam ilmu agama menjadi benteng agar tidak mudah meremehkan perkara yang diharamkan.
Bagaimana Sikap Seorang Muslim?
Jika memungkinkan, seorang Muslim hendaknya berusaha:
- Mempelajari hukum-hukum muamalah agar memahami bentuk-bentuk riba.
- Menghindari utang yang mengandung unsur riba ketika ada alternatif yang sesuai syariat.
- Hidup sesuai kemampuan dan tidak memaksakan gaya hidup.
- Menabung sebelum membeli kebutuhan yang bukan bersifat mendesak.
- Memohon kepada Allah agar diberi rezeki yang halal dan berkah.
Bagi orang yang pernah terlibat transaksi riba, pintu taubat tetap terbuka. Ia dapat menyesali perbuatannya, berhenti dari praktik tersebut, serta berusaha memperbaiki transaksi keuangan di masa depan sesuai kemampuannya.
BACA JUGA: Pinjam Uang ke Bank Sudah Dianggap Biasa, Bukannya Riba?
Semakin banyak orang yang tidak peduli terhadap riba bukan berarti riba menjadi benar. Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat, kurangnya pemahaman agama, gaya hidup konsumtif, kemudahan akses pinjaman, dan lemahnya kesadaran akan dampak dunia maupun akhirat.
Islam mengajarkan bahwa harta yang baik bukan hanya banyak jumlahnya, tetapi juga diperoleh dengan cara yang halal dan membawa keberkahan. Rezeki yang berkah mungkin tidak selalu datang dengan cepat, tetapi memberikan ketenangan hati dan manfaat yang lebih besar bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

