PENYAKIT jantung sering dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang laki-laki. Namun kenyataannya, penyakit jantung juga menjadi salah satu penyebab kematian terbesar pada perempuan. Meski begitu, para ahli menemukan bahwa perempuan yang masih mengalami menstruasi atau haid cenderung memiliki risiko penyakit jantung yang lebih rendah dibandingkan perempuan yang sudah menopause. Benarkah demikian?
Jawabannya adalah ya, secara umum benar, tetapi bukan karena haid itu sendiri yang melindungi jantung. Faktor utama yang berperan adalah hormon estrogen yang masih diproduksi tubuh selama masa reproduksi.
BACA JUGA: Haid Lebih dari 2 Minggu, Apa yang Harus Dilakukan oleh Wanita?
Mengapa Perempuan yang Masih Haid Lebih Terlindungi?
Selama perempuan masih mengalami siklus menstruasi, ovarium menghasilkan hormon estrogen dalam jumlah yang relatif tinggi. Hormon ini memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan pembuluh darah dan jantung.
Beberapa manfaat estrogen antara lain:
- Membantu menjaga kelenturan pembuluh darah.
- Meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL).
- Menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).
- Membantu mengurangi peradangan pada pembuluh darah.
- Membantu menjaga tekanan darah tetap lebih stabil.
Karena alasan inilah, perempuan usia produktif umumnya mengalami serangan jantung lebih sedikit dibandingkan laki-laki dengan usia yang sama.
Haid Bukan Penyebab Langsung Jantung Sehat
Banyak orang salah paham dengan mengira darah haid yang keluar setiap bulan membersihkan darah kotor sehingga membuat jantung lebih sehat. Anggapan ini tidak benar.
Menstruasi adalah proses alami pelepasan lapisan dinding rahim yang tidak digunakan karena tidak terjadi kehamilan. Darah haid bukanlah proses membuang racun atau membersihkan pembuluh darah.
Perlindungan terhadap jantung berasal dari hormon estrogen yang aktif selama masa reproduksi, bukan dari keluarnya darah haid.
Apa yang Terjadi Setelah Menopause?
Ketika perempuan memasuki masa menopause, produksi estrogen menurun drastis. Akibatnya, perlindungan alami terhadap pembuluh darah juga ikut berkurang.
Karena itu, risiko penyakit jantung mulai meningkat dan mendekati risiko yang dimiliki laki-laki.
Itulah sebabnya banyak kasus penyakit jantung pada perempuan muncul setelah usia 50 tahun atau setelah menopause.
Tetap Bisa Terkena Penyakit Jantung Meski Masih Haid
Walaupun risikonya lebih rendah, bukan berarti perempuan yang masih mengalami menstruasi kebal terhadap penyakit jantung.
Risiko tetap meningkat apabila memiliki faktor-faktor seperti:
- Merokok.
- Diabetes.
- Tekanan darah tinggi.
- Kolesterol tinggi.
- Obesitas.
- Kurang olahraga.
- Kurang tidur.
- Stres berkepanjangan.
- Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
Bahkan perempuan muda pun dapat mengalami serangan jantung apabila memiliki kombinasi beberapa faktor risiko tersebut.
Gejala Serangan Jantung pada Perempuan Bisa Berbeda
Salah satu hal yang sering terlambat disadari adalah gejala penyakit jantung pada perempuan tidak selalu berupa nyeri dada hebat.
Gejala yang sering muncul antara lain:
- Mudah lelah tanpa sebab jelas.
- Sesak napas.
- Nyeri di punggung, leher, rahang, atau bahu.
- Mual atau muntah.
- Keringat dingin.
- Pusing.
- Rasa tidak nyaman di dada yang tidak terlalu berat.
Karena gejalanya sering dianggap sebagai masuk angin atau kelelahan biasa, banyak perempuan terlambat mendapatkan pertolongan.
Cara Menjaga Jantung Tetap Sehat
Baik masih haid maupun sudah menopause, kesehatan jantung tetap harus dijaga dengan kebiasaan hidup sehat.
Beberapa langkah yang dianjurkan:
- Berolahraga minimal 150 menit setiap minggu.
- Perbanyak konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan ikan.
- Batasi makanan tinggi gula, garam, serta lemak jenuh.
- Hindari rokok dan asap rokok.
- Jaga berat badan tetap ideal.
- Tidur cukup setiap malam.
- Kelola stres dengan baik.
- Lakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala.
Apakah Terapi Hormon Bisa Mencegah Penyakit Jantung?
Sebagian orang mengira terapi hormon estrogen setelah menopause dapat mencegah penyakit jantung. Namun penelitian menunjukkan bahwa terapi hormon tidak dianjurkan khusus untuk tujuan mencegah penyakit jantung. Penggunaannya harus dipertimbangkan secara individual bersama dokter karena memiliki manfaat dan risiko yang perlu dinilai sesuai kondisi masing-masing.
BACA JUGA: Adakah Shalat yang Wajib Diqadha Perempuan saat Haid?
Perempuan yang masih mengalami haid memang cenderung memiliki risiko penyakit jantung yang lebih rendah dibandingkan perempuan yang sudah menopause. Namun, perlindungan tersebut berasal dari hormon estrogen, bukan dari proses keluarnya darah haid.
Meski demikian, perempuan usia produktif tetap dapat terkena penyakit jantung apabila memiliki faktor risiko seperti merokok, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, atau gaya hidup yang tidak sehat. Oleh karena itu, menjaga pola makan, rutin berolahraga, menghindari rokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan jantung sepanjang hidup. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

