TIDAK semua kegelisahan berasal dari sumber yang sama.
Ada orang yang sulit tidur. Hatinya gelisah. Dadanya terasa sesak. Pikirannya dipenuhi ketakutan. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam hidupnya.
Lalu muncul pertanyaan.
Apakah ini gangguan psikologis?
Ataukah gangguan jin?
Pertanyaan itu sering muncul di tengah masyarakat. Sayangnya, tidak sedikit yang langsung menyimpulkan tanpa memahami perbedaannya.
Padahal keduanya memiliki ciri yang berbeda. Meskipun dalam beberapa keadaan bisa saling berkaitan.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Gangguan psikologis berhubungan dengan kondisi kejiwaan seseorang. Pikiran, emosi, perilaku, dan kemampuan beradaptasi dengan tekanan hidup mengalami gangguan.
Seseorang bisa mengalami kecemasan berlebihan. Merasa sedih berkepanjangan. Sulit berkonsentrasi. Mudah marah. Kehilangan semangat hidup. Bahkan mengalami serangan panik yang datang tiba-tiba.
Semua itu dapat terjadi karena banyak faktor.
Tekanan hidup yang berat.
Trauma masa lalu.
Konflik keluarga.
Kelelahan yang berkepanjangan.
Atau ketidakseimbangan tertentu dalam sistem tubuh dan otak.

Gangguan psikologis adalah kondisi yang nyata. Bukan sekadar kurang iman. Bukan pula tanda seseorang lemah.
Sebagaimana tubuh bisa sakit, pikiran dan emosi pun bisa mengalami gangguan.
Karena itu, seseorang yang mengalami gangguan psikologis membutuhkan pertolongan yang tepat. Dukungan keluarga. Konseling. Terapi. Dan bila diperlukan, penanganan medis.
Di sisi lain, Islam juga mengakui adanya gangguan yang berasal dari jin.
Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa jin memang ada, dan dalam kondisi tertentu dapat mengganggu manusia dengan izin Allah.
Gangguan jin tidak selalu mudah dikenali. Tidak setiap rasa takut, sedih, atau gelisah berarti seseorang diganggu jin.
Namun sebagian ulama menyebutkan bahwa di antara tanda yang terkadang menyertai gangguan jin adalah munculnya rasa tidak nyaman yang sangat kuat ketika mendengar ayat-ayat ruqyah, mimpi buruk yang berulang, atau gangguan tertentu yang tidak ditemukan penyebab medis maupun psikologis setelah dilakukan pemeriksaan. Semua itu tidak bisa dijadikan kepastian, melainkan memerlukan kehati-hatian dalam menilainya.
Karena itu, gangguan jin tidak boleh didiagnosis hanya berdasarkan dugaan atau cerita yang beredar di masyarakat.
Jika memang ada dugaan gangguan jin, maka pendekatan yang diajarkan syariat adalah memperbanyak dzikir.
Membaca Al-Qur’an.
Membaca ayat-ayat perlindungan seperti Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Memperbanyak doa.
Menjaga shalat.
Dan bila diperlukan, melakukan ruqyah syar’iyyah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Namun masalahnya tidak selalu sesederhana itu.
Ada orang yang mengalami gangguan psikologis tetapi dianggap terkena gangguan jin.
Akibatnya ia hanya diruqyah berulang kali tanpa mendapatkan bantuan psikologis atau medis yang sebenarnya dibutuhkan.
Sebaliknya, ada pula orang yang menolak kemungkinan adanya gangguan jin, padahal Islam menetapkan bahwa gangguan semacam itu memang bisa terjadi dengan kehendak Allah.
Kedua sikap yang berlebihan ini sama-sama tidak tepat.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Tubuh memiliki hak.
Akal memiliki hak.
Dan agama memberikan petunjuk untuk menjaga keduanya.
Karena itu, pendekatan yang bijak adalah melihat seseorang secara menyeluruh.
Jika seseorang mengalami trauma, kecemasan, depresi, atau gangguan emosi yang jelas, maka pendekatan psikologis perlu dilakukan.
Jika terdapat indikasi yang kuat adanya gangguan jin, maka ruqyah syar’iyyah dan amalan perlindungan yang diajarkan Nabi ﷺ dapat dilakukan.
Dalam banyak kasus, keduanya bahkan bisa berjalan bersamaan.
Seseorang dapat mengalami tekanan psikologis sekaligus tetap membutuhkan penguatan ibadah dan dzikir.
Oleh karena itu, tidak perlu mempertentangkan antara pendekatan psikologis dan ikhtiar syar’i.
Keduanya dapat saling melengkapi selama dilakukan sesuai tuntunan.
Seorang muslim dapat berkonsultasi kepada tenaga profesional sekaligus memperbanyak doa.
Ia dapat menjalani terapi sambil menjaga dzikir pagi dan petang.
Ia dapat mencari bantuan psikolog sambil tetap membaca Al-Qur’an.
Ia dapat berikhtiar secara medis sekaligus bertawakal kepada Allah.
BACA JUGA: Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?
Karena kesembuhan adalah proses yang melibatkan banyak aspek.
Tubuh yang sehat.
Pikiran yang sehat.
Dan iman yang kuat.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar menghilangkan rasa cemas atau sedih.
Tujuan yang lebih besar adalah memperoleh ketenangan.
Ketenangan yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Ketenangan yang membuat ujian dapat dihadapi dengan sabar.
Ketenangan yang membuat hati tetap kuat meski dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dan ketenangan yang sejati hanya akan sempurna ketika manusia bertawakal kepada Allah, Sang Pencipta seluruh makhluk, yang di tangan-Nya lah segala kesembuhan dan ketenangan. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


