Bolehkah Salaman Setelah Shalat Berjamaah?

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Islampos AI

DI banyak masjid di Indonesia, saling berjabat tangan atau salaman setelah shalat berjamaah sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum. Sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk ukhuwah dan saling memaafkan, sementara sebagian lainnya mempertanyakan apakah amalan tersebut memiliki dasar dari syariat. Lantas, bolehkah salaman setelah shalat berjamaah?

Jawabannya, boleh dilakukan selama tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah yang diwajibkan atau sunnah khusus setelah shalat. Para ulama memiliki penjelasan yang cukup rinci mengenai masalah ini.

BACA JUGA: Hukum Shalat Berjamaah tapi Shaff-nya Jarang-jarang

Hukum Asal Berjabat Tangan dalam Islam

Berjabat tangan merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam ketika dua orang muslim bertemu. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh banyak ulama).

Hadis ini menunjukkan bahwa berjabat tangan adalah amalan yang baik ketika bertemu sesama muslim.

Apakah Rasulullah ﷺ Selalu Salaman Setelah Shalat?

Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ secara rutin berjabat tangan dengan para sahabat setiap selesai shalat fardu berjamaah.

Setelah shalat, beliau lebih banyak berdzikir, beristighfar, membaca tasbih, tahmid, takbir, dan doa-doa yang diajarkan. Karena itu, menjadikan salaman sebagai amalan yang dianggap selalu harus dilakukan setelah setiap shalat berjamaah tidak memiliki dalil khusus.

Mengapa Banyak Ulama Membolehkannya?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa salaman setelah shalat tetap diperbolehkan apabila dilakukan sebagai bentuk keramahan, mempererat persaudaraan, dan bukan karena meyakini bahwa itu merupakan sunnah khusus setelah shalat.

Misalnya:

  • Bertemu teman yang belum sempat disapa sebelum shalat.
  • Menyambung silaturahmi.
  • Menghilangkan rasa tidak enak di antara sesama muslim.
  • Menumbuhkan kasih sayang dan persaudaraan.

Dalam kondisi seperti ini, salaman tetap termasuk kebiasaan baik (‘urf) yang tidak bertentangan dengan syariat.

https://s.shopee.co.id/gODiEsGCE

Kapan Salaman Menjadi Kurang Tepat?

Salaman setelah shalat menjadi kurang tepat apabila:

  • Diyakini sebagai ibadah yang wajib dilakukan setiap selesai shalat.
  • Dianggap memiliki pahala khusus yang tidak memiliki dasar dalil.
  • Menyalahkan orang yang tidak ikut salaman.
  • Sampai mengganggu dzikir setelah shalat.
  • Membuat orang harus berkeliling menyalami seluruh jamaah sehingga suasana masjid menjadi gaduh.

Hal-hal seperti ini sebaiknya dihindari agar tidak menambah sesuatu dalam tata cara ibadah yang tidak diajarkan.

Dahulukan Dzikir Setelah Shalat

Islam mengajarkan berbagai dzikir yang sangat dianjurkan setelah shalat, seperti:

  • Membaca istighfar tiga kali.
  • Membaca Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam…
  • Membaca tasbih 33 kali.
  • Membaca tahmid 33 kali.
  • Membaca takbir 34 kali atau masing-masing 33 kali.
  • Membaca Ayat Kursi.
  • Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas pada waktu-waktu tertentu.

Dzikir-dzikir tersebut memiliki landasan yang kuat dari hadis-hadis sahih sehingga sebaiknya tidak ditinggalkan karena sibuk bersalaman.

Menghormati Perbedaan Pendapat

Masalah salaman setelah shalat termasuk persoalan yang diperselisihkan para ulama dalam rinciannya, maka, hendaknya setiap muslim bersikap bijak.

Jika di suatu masjid terdapat tradisi salaman setelah shalat sebagai bentuk silaturahmi, tidak perlu langsung mencela selama tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah yang diwajibkan.

Sebaliknya, orang yang memilih langsung berdzikir atau keluar masjid tanpa salaman juga tidak boleh dianggap sombong atau menyelisihi agama. Setiap muslim berhak mengikuti pendapat ulama yang diyakininya berdasarkan ilmu.

Menjaga Persaudaraan Lebih Utama

Perbedaan dalam masalah cabang seperti ini tidak seharusnya menjadi penyebab perpecahan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga persatuan umat, saling menghormati, dan tidak mudah menuduh amalan orang lain tanpa ilmu.

BACA JUGA: Bolehkah Shalat Tahajud Berjamaah?

Apabila ingin bersalaman, lakukan dengan niat mempererat ukhuwah. Apabila ingin fokus berdzikir terlebih dahulu, itu pun merupakan pilihan yang baik.

Salaman setelah shalat berjamaah pada dasarnya boleh dilakukan sebagai bentuk silaturahmi dan mempererat persaudaraan. Namun, tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai amalan rutin yang khusus dilakukan setiap selesai shalat fardu berjamaah. Oleh karena itu, salaman tidak boleh diyakini sebagai bagian dari tata cara shalat atau sunnah khusus setelah shalat. Yang paling utama adalah mendahulukan dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ, lalu menjaga ukhuwah dengan saling menghormati perbedaan pendapat di antara sesama muslim. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *