PERNAHKAH kita mendengar tentang shalat tasbih? Sebagian umat Islam mungkin sudah sering mendengarnya, tetapi belum pernah mengerjakannya. Ada pula yang pernah melakukannya, tetapi belum mengetahui mengapa shalat ini disebut-sebut dianjurkan untuk dikerjakan, bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan: jika tidak mampu setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, atau setiap tahun, maka setidaknya sekali dalam seumur hidup.
Lalu, apa sebenarnya shalat tasbih? Shalat tasbih adalah shalat sunnah empat rakaat yang di dalam setiap rakaatnya terdapat bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir dengan jumlah tertentu.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mengajarkan shalat ini kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib. Dalam riwayat tersebut disebutkan tata cara empat rakaat dan anjuran mengerjakannya dengan berbagai pilihan waktu, termasuk sekali seumur hidup jika tidak mampu lebih sering.
BACA JUGA: Shalat Sunnah Rawatib Harus Baca Niat Khusus?
Mengapa Disebut Shalat Tasbih?
Karena di dalam shalat ini terdapat bacaan:
“Subhanallahi walhamdulillahi wa la ilaha illallahu wallahu akbar.”
Artinya:
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Mahabesar.”
Bacaan tersebut diulang dalam beberapa posisi shalat sehingga dalam satu rakaat terdapat 75 kali bacaan tasbih, dan dalam empat rakaat menjadi 300 kali.
Inilah yang menjadi ciri khas shalat tasbih sebagaimana disebutkan dalam riwayat tersebut.
Apakah Benar Harus Sekali Seumur Hidup?
Nah, bagian ini perlu dijelaskan dengan hati-hati. Dalam hadis Abu Dawud disebutkan anjuran mengerjakan shalat tersebut setiap hari. Jika tidak mampu, maka setiap Jumat. Jika tidak mampu, setiap bulan. Jika tidak mampu, setiap tahun. Dan jika masih tidak mampu, maka setidaknya sekali seumur hidup.
Tetapi shalat tasbih bukan shalat wajib yang harus dilakukan oleh setiap Muslim sekali seumur hidup seperti kewajiban haji bagi orang yang mampu.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai status hadis dan pensyariatan shalat tasbih. Sebagian ulama menerima hadisnya dan membolehkan atau menganjurkan pelaksanaannya, sedangkan sebagian ulama lain menilai hadisnya lemah sehingga tidak menganggap shalat tasbih sebagai sunnah yang secara khusus disyariatkan.
Karena itu, kita tidak seharusnya menyalahkan orang yang mengerjakannya, dan tidak pula gegabah menyalahkan orang yang memilih tidak mengerjakannya karena mengikuti pendapat ulama yang berbeda.
Lalu Apa Keutamaannya?
Dalam hadis yang menjadi dasar shalat tasbih tersebut, terdapat penyebutan keutamaan berupa ampunan Allah terhadap dosa-dosa.
Riwayat tersebut menyebutkan berbagai ungkapan tentang dosa: yang terdahulu dan yang kemudian, yang tidak sengaja dan yang disengaja, yang kecil dan yang besar, serta yang tersembunyi dan yang terang-terangan.
Namun, kita tidak boleh memahami hadis tersebut secara sembarangan.
Ampunan Allah bukan berarti seseorang boleh melakukan dosa dengan sengaja kemudian merasa cukup dengan satu kali shalat tasbih.
Taubat tetap memiliki kedudukan yang sangat penting. Kalau seseorang melakukan dosa, ia harus menyesal, meninggalkan dosa tersebut, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha tidak mengulanginya. Shalat sunnah bukanlah alasan untuk meremehkan dosa.
Shalat Tasbih Juga Mengingatkan Kita untuk Banyak Berdzikir
Salah satu hal menarik dari shalat ini adalah banyaknya bacaan dzikir yang dilakukan. Kita hidup dalam dunia yang sangat ramai.
Setiap hari pikiran dipenuhi pekerjaan, uang, keluarga, media sosial, berita, dan berbagai persoalan kehidupan. Kadang-kadang kita begitu sibuk mengejar dunia sampai lupa memberikan waktu untuk mengingat Allah.
Shalat tasbih, bagi orang yang memilih mengamalkannya, bisa menjadi salah satu kesempatan untuk memperbanyak dzikir sekaligus menenangkan hati.
Kita berdiri menghadap Allah. Kita membaca Al-Qur’an. Kita rukuk. Kita sujud. Dan di sela-sela gerakan tersebut kita memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
Ada kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mengingat siapa sebenarnya yang memberikan kehidupan kepada kita.
Jangan Hanya Mengejar Jumlah Bacaan
Ada satu hal penting yang sering terlupakan. Jangan sampai kita hanya sibuk menghitung jumlah bacaan, tetapi tidak memahami maknanya.
Ketika kita mengucapkan Subhanallah, kita sedang menyucikan Allah dari segala kekurangan. Ketika mengucapkan Alhamdulillah, kita mengakui bahwa segala pujian adalah milik Allah. Ketika mengucapkan La ilaha illallah, kita memperbarui pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Dan ketika mengucapkan Allahu Akbar, kita mengingat bahwa Allah jauh lebih besar daripada semua persoalan yang sedang kita hadapi.
Jadi, yang penting bukan sekadar banyaknya bacaan. Hati juga harus ikut mengingat Allah.
Jangan Sampai Shalat Sunnah Membuat Kita Melupakan yang Wajib
Ini juga sangat penting. Jangan sampai seseorang bersemangat melakukan shalat tasbih tetapi shalat lima waktunya masih sering ditinggalkan.
Jangan sampai rajin melakukan berbagai shalat sunnah tetapi masih meremehkan kewajiban. Shalat wajib tetap memiliki kedudukan yang sangat utama.
Amalan sunnah seharusnya menjadi pelengkap dan penyempurna, bukan pengganti kewajiban. Karena itu, kalau ingin memperbaiki hubungan dengan Allah, mulailah dari menjaga shalat lima waktu. Setelah itu, tambahkan amalan-amalan sunnah sesuai kemampuan.
Jadi, Haruskah Kita Mencobanya?
Kalau seseorang mengikuti pendapat ulama yang menerima dan menganjurkan shalat tasbih, maka tidak ada salahnya mempelajari tata caranya dan mengerjakannya.
Bahkan bagi sebagian orang, kesempatan untuk melaksanakan shalat empat rakaat dengan memperbanyak dzikir bisa menjadi pengalaman ibadah yang sangat berharga.
Tetapi jangan mengatakan kepada orang lain:
“Kalau kamu Muslim, kamu wajib shalat tasbih sekali seumur hidup.”
Pernyataan tersebut terlalu mutlak. Yang lebih tepat adalah menjelaskan bahwa ada hadis tentang shalat tasbih yang di dalamnya disebutkan anjuran mengerjakannya, termasuk sekali seumur hidup bagi yang tidak mampu lebih sering, tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan hadis dan hukum pensyariatannya.
Jangan Sampai Umur Habis Tanpa Memperbanyak Ibadah
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai shalat tasbih, ada pelajaran yang sangat penting. Umur kita terus berjalan. Hari demi hari berlalu. Usia bertambah. Dan kesempatan beribadah tidak selamanya ada.
Karena itu, jangan merasa cukup hanya dengan ibadah wajib sementara kita sebenarnya masih memiliki banyak kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan sunnah yang memang kita yakini memiliki dasar.
Kalau kita mengikuti pendapat ulama yang membolehkan atau menganjurkan shalat tasbih, maka tidak ada salahnya menyempatkan diri mempelajarinya dan mengerjakannya.
BACA JUGA: Shalat Fardhu di Masjid Lalu Shalat Sunnah Rawatib di Rumah, Boleh Gak Sih?
Bukan karena kita menganggapnya sebagai kewajiban, tetapi sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk memperbanyak dzikir, beribadah, dan memohon ampun kepada Allah.
Satu hal yang pasti: jangan sampai kita lebih sering meluangkan waktu untuk mengejar dunia daripada meluangkan waktu untuk mengingat Allah.
Sebab harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan. Jabatan akan berakhir. Kekuatan akan berkurang. Tetapi amal yang kita kerjakan dengan ikhlas, insyaAllah menjadi bekal yang kita bawa menghadap Allah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

