INDONESIA dikenal sebagai salah satu negara dengan pengguna internet dan media sosial yang sangat aktif. Hampir setiap hari, masyarakat menggunakan TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, X, dan berbagai platform lainnya untuk berbagi informasi, memberikan komentar, berdebat, hingga menyampaikan pendapat.
Namun, ada satu anggapan yang sering muncul: benarkah netizen Indonesia terkenal galak?
Kalau kita melihat kolom komentar di media sosial, anggapan tersebut memang terkadang terasa ada benarnya. Sebuah unggahan yang dianggap salah bisa langsung dibanjiri kritik. Kesalahan kecil seorang publik figur dapat menjadi bahan perdebatan panjang. Bahkan, orang yang baru dikenal publik beberapa menit saja bisa langsung mendapatkan ribuan komentar.
Tetapi apakah itu berarti semua netizen Indonesia memang galak? Tentu tidak.
BACA JUGA: Berapa Gaji Seorang Menteri di Indonesia?
Mengapa netizen Indonesia sering dianggap galak?
Salah satu penyebabnya adalah budaya berkomentar yang sangat aktif.
Masyarakat Indonesia dikenal memiliki budaya komunikasi yang kuat. Ketika melihat sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan nilai atau pendapat mereka, banyak orang merasa terdorong untuk memberikan tanggapan.
Masalahnya, komunikasi di internet berbeda dengan komunikasi tatap muka.
Ketika berbicara langsung, kita bisa melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang lain. Kita bisa mengetahui apakah seseorang sedang bercanda, serius, kecewa, atau tersinggung.
Di internet, yang terlihat hanya tulisan. Akibatnya, kalimat yang sebenarnya dimaksudkan sebagai kritik biasa bisa terbaca sebagai serangan.
Media sosial membuat orang lebih berani
Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu jarak dan anonimitas. Ketika seseorang bertemu langsung dengan orang lain, biasanya ada pertimbangan sosial sebelum mengeluarkan kata-kata kasar.
Namun ketika berada di balik layar ponsel, sebagian orang merasa lebih berani. Mereka bisa menulis sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mereka katakan jika berhadapan langsung.
Inilah yang membuat kolom komentar terkadang berubah menjadi tempat orang melampiaskan emosi.
Seseorang sedang marah karena masalah pribadi, melihat sebuah unggahan, kemudian ikut berkomentar dengan nada keras. Orang lain membalas. Kemudian muncul perdebatan. Dalam waktu singkat, persoalan yang sebenarnya kecil menjadi besar.
Kritik tidak selalu berarti galak
Kita juga harus membedakan antara kritik dan kemarahan. Netizen yang mengkritik kebijakan pemerintah, kesalahan seorang tokoh, atau sebuah produk tidak otomatis berarti galak.
Kritik justru diperlukan dalam masyarakat. Yang menjadi persoalan adalah ketika kritik berubah menjadi penghinaan, fitnah, ancaman, perundungan, atau serangan terhadap pribadi seseorang.
Misalnya, mengatakan “Menurut saya kebijakan ini kurang tepat karena…” adalah kritik.
Tetapi menyerang fisik, keluarga, kehormatan, atau kehidupan pribadi seseorang hanya karena berbeda pendapat adalah sesuatu yang berbeda.
Jadi, bukan kritiknya yang harus dihilangkan, melainkan cara menyampaikan kritiknya yang perlu diperbaiki.
Kenapa komentar negatif lebih mudah terlihat?
Ada satu hal yang sering kita lupakan. Di media sosial, komentar yang paling kasar biasanya lebih mudah menarik perhatian. Komentar yang sopan mungkin hanya mendapatkan sedikit respons.
Sebaliknya, komentar yang kontroversial bisa mendapatkan ratusan balasan. Akibatnya, kita merasa netizen Indonesia sangat galak karena komentar-komentar keras terlihat lebih menonjol.
Padahal, bisa jadi di antara ribuan komentar tersebut, mayoritas orang sebenarnya hanya membaca, menyukai, atau memberikan komentar biasa. Dengan kata lain, yang paling berisik belum tentu yang paling banyak.
Netizen Indonesia juga terkenal karena solidaritasnya
Kalau berbicara tentang netizen Indonesia, jangan hanya melihat sisi negatifnya. Masyarakat Indonesia juga sering menunjukkan solidaritas yang luar biasa di internet.
Ketika ada orang yang mengalami musibah, banyak netizen ikut membantu. Ketika ada penggalangan dana untuk orang sakit atau korban bencana, masyarakat bisa bergerak dengan cepat.
Ketika seseorang diperlakukan tidak adil, banyak orang ikut menyuarakan kepedulian.
Artinya, energi besar yang dimiliki netizen sebenarnya bisa digunakan untuk hal positif. Masalahnya bukan pada banyaknya orang yang bersuara. Masalahnya adalah bagaimana suara tersebut digunakan.
Jangan mudah percaya dengan keramaian di kolom komentar
Ada hal lain yang perlu diperhatikan. Ketika melihat ribuan komentar marah terhadap seseorang, jangan langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut pasti bersalah.
Media sosial sering membuat sebuah masalah terlihat sederhana, padahal kenyataannya belum tentu demikian.
Sebuah potongan video bisa kehilangan konteks. Sebuah judul bisa dibuat provokatif. Sebuah pernyataan bisa dipotong sehingga maknanya berubah.
Karena itu, sebelum ikut marah, sebaiknya cari informasi yang lebih lengkap.
Jangan sampai kita menjadi bagian dari kerumunan yang menghukum seseorang berdasarkan informasi yang belum tentu benar.
Belajar menjadi netizen yang tegas tetapi beradab
Menjadi netizen yang baik bukan berarti harus diam terhadap kesalahan. Kita tetap boleh mengkritik.
Kita tetap boleh tidak setuju. Kita tetap boleh menyampaikan kemarahan terhadap sesuatu yang memang salah. Tetapi semuanya harus dilakukan dengan akal sehat dan tanggung jawab.
Sebelum menekan tombol kirim komentar, coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah informasi ini benar?
Apakah komentar saya memang diperlukan? Apakah saya sedang mengkritik perbuatannya atau menyerang orangnya?
Kalau orang yang saya komentari berdiri di depan saya, apakah saya berani mengatakan hal yang sama dengan cara yang sama?
Pertanyaan sederhana seperti ini bisa mencegah kita menyesal di kemudian hari.
Jadi, benarkah netizen Indonesia galak?
Jawabannya, tidak tepat jika semua netizen Indonesia disebut galak.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa netizen Indonesia sangat aktif, ekspresif, dan memiliki keberanian tinggi dalam menyampaikan pendapat di ruang digital. Sebagian memang bisa bersikap keras, tetapi banyak pula yang santun, peduli, dan suka membantu.
BACA JUGA: Gaji Rp10 Juta Per Bulan, Bisa Apa Aja di Indonesia?
Pada akhirnya, karakter netizen bukan ditentukan oleh kewarganegaraannya saja. Di balik setiap akun ada manusia.
Kalau manusianya terbiasa menjaga ucapan, media sosial bisa menjadi tempat berbagi ilmu dan kebaikan.
Kalau manusianya mudah marah dan tidak mau memeriksa fakta, media sosial bisa berubah menjadi tempat pertengkaran.
Karena itu, daripada bertanya apakah netizen Indonesia galak atau tidak, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Ketika kita menjadi netizen, sudahkah kita menggunakan jempol dengan bijak?”
Sebab satu komentar hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis, tetapi dampaknya terhadap orang lain bisa jauh lebih lama. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
