Mengajarkan Anak Akan Makna Larangan

Nasrulloh Baksolahar
5 Min Read
Foto: freepik

MENGAPA orang tua perlu melarang anak melakukan sesuatu?

Bukankah lebih mudah membiarkan anak melakukan apa pun yang ia sukai?

Mengapa dalam mendidik selalu ada batasan, aturan, dan larangan?

Untuk memahami makna sebuah larangan, marilah kita kembali kepada kisah manusia pertama.

Allah memberikan kepada Nabi Adam dan istrinya seluruh kenikmatan surga.

Lalu Allah hanya menetapkan satu larangan.

Allah berfirman,

«”Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga. Makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.'”
(QS. Al-Baqarah: 35)»

Perhatikanlah.

Allah tidak memenuhi kehidupan Adam dengan berbagai larangan.

Sebaliknya, hampir seluruh kenikmatan surga dibolehkan untuk dinikmati.

Hanya satu pohon yang tidak boleh didekati.

BACA JUGA: Bagaimana Agar Anak Selalu Tertarik Mendengarkan Kisah-kisah dari Orang Tuanya?

Mengapa hanya satu?

Karena sejak awal Allah hendak mengajarkan bahwa kebebasan bukanlah berarti tanpa batas.

Selalu ada aturan yang harus dihormati.

Selalu ada batas yang tidak boleh dilanggar.

Di situlah letak pendidikan.

Bukankah seorang anak tidak akan belajar disiplin jika semua keinginannya selalu dipenuhi?

Bukankah ia tidak akan memahami arti ketaatan apabila tidak pernah mendengar kata, “Tidak”?

Larangan bukanlah tanda bahwa orang tua tidak menyayangi anaknya.

https://s.shopee.co.id/2LWWIAjXnN

Justru larangan adalah salah satu bentuk kasih sayang.

Melalui larangan, anak belajar mengendalikan dirinya.

Ia belajar bahwa tidak semua yang diinginkan boleh dilakukan.

Ia belajar menunda keinginan.

Ia belajar menghormati aturan.

Dan yang paling penting, ia belajar taat kepada Allah.

Tanpa adanya sesuatu yang dilarang, bagaimana seorang anak belajar memilih antara taat dan melanggar?

Bagaimana ia belajar mengendalikan hawa nafsunya?

Bagaimana ia memahami bahwa setiap kebebasan selalu disertai tanggung jawab?

Inilah pelajaran besar dari kisah Nabi Adam.

Allah juga mengajarkan bahwa bahaya sering kali tidak dimulai dari pelanggaran besar, tetapi dari langkah-langkah kecil yang mendekatinya.

Karena itu Allah berfirman,

«”Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu, sehingga keduanya dikeluarkan dari keadaan semula.”
(QS. Al-Baqarah: 36)»

Al-Qur’an menggunakan kata “azallahumā”, yaitu setan menggelincirkan keduanya.

Betapa indah pilihan kata ini.

Setan tidak mendorong Adam dengan paksa.

Ia hanya membuat langkahnya tergelincir sedikit demi sedikit hingga akhirnya jatuh.

Bukankah demikian pula yang sering terjadi pada anak-anak?

Kesalahan besar hampir tidak pernah dimulai dari pelanggaran besar.

Ia bermula dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele.

Karena itulah Allah tidak mengatakan, “Jangan makan pohon itu,” melainkan,

«”Jangan dekati pohon itu.”»

Islam tidak hanya melarang dosa, tetapi juga melarang jalan yang mengantarkan kepada dosa.

Prinsip inilah yang perlu diajarkan kepada anak sejak dini.

Jangan mendekati kebohongan.

Jangan mendekati pergaulan yang buruk.

Jangan mendekati tontonan yang merusak.

Jangan mendekati kebiasaan yang dapat menyeret kepada kemaksiatan.

Sebab, kejatuhan seseorang hampir selalu diawali oleh langkah-langkah kecil yang tidak dijaga.

Lalu bagaimana jika anak melakukan kesalahan?

Kisah Nabi Adam memberikan jawaban yang menenangkan.

Adam memang tergelincir.

Namun, beliau tidak terus-menerus berada dalam kesalahan.

Beliau mengakui dosanya, menyesal, lalu kembali kepada Allah dengan bertobat.

Anak, Makna Larangan
Foto: Freepik

Di sinilah pelajaran penting bagi setiap orang tua.

Tujuan pendidikan bukanlah membesarkan anak yang tidak pernah salah.

Itu mustahil.

Tujuan pendidikan adalah membentuk anak yang ketika salah, ia berani mengakui kesalahannya, mau bertobat, memperbaiki diri, dan kembali kepada jalan Allah.

Karena itu, ketika anak melanggar aturan, jangan hanya bertanya,

“Mengapa kamu melakukannya?”

Tetapi bantulah ia bertanya kepada dirinya sendiri,

“Apa yang bisa aku pelajari dari kesalahan ini, dan bagaimana aku kembali kepada Allah?”

BACA JUGA:  Mendidik Pola Makan Anak: Membangun Generasi Tangguh dari Meja Makan

Inilah makna larangan yang sesungguhnya.

Larangan bukan untuk mengekang.

Larangan adalah sarana membentuk karakter.

Larangan mengajarkan disiplin.

Larangan melatih kesabaran.

Larangan membangun kemampuan mengendalikan diri.

Dan larangan menumbuhkan ketaatan kepada Allah.

Sebagaimana Allah mendidik Nabi Adam dengan satu larangan di tengah begitu banyak kenikmatan, demikian pula orang tua mendidik anak-anaknya.

Bukan dengan memperbanyak larangan tanpa alasan, tetapi dengan menghadirkan aturan yang penuh hikmah agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu membedakan antara yang halal dan yang haram, antara yang boleh dan yang tidak boleh, serta antara mengikuti petunjuk Allah atau mengikuti bisikan setan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *