Kenapa Banyak Orang Takut Miskin, Tapi Tidak Takut Riba?

Yudi
By Yudi
7 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK orang takut hidup miskin. Takut tidak punya rumah. Takut tidak mampu membeli kendaraan. Takut tidak bisa menyekolahkan anak. Takut tidak memiliki tabungan ketika tua. Bahkan karena takut kekurangan, sebagian orang rela mengambil utang dengan bunga atau melakukan berbagai cara yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip agama.

Ironisnya, kita bisa sangat takut kehilangan uang, tetapi tidak terlalu takut ketika uang itu diperoleh melalui riba.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

BACA JUGA: Mending Kredit Rumah dengan Cara Riba, atau Ngontrak?

1. Kemiskinan terlihat, sedangkan dosa tidak terlihat

Salah satu penyebabnya adalah karena kemiskinan bisa langsung kita rasakan.

Tidak punya uang membuat kita khawatir.

Tidak mampu membayar cicilan membuat kita stres.

Tidak memiliki rumah membuat kita merasa tertinggal.

Sementara dosa riba tidak selalu memberikan dampak yang langsung terlihat di depan mata.

Seseorang mungkin merasa, “Saya baik-baik saja.”

Padahal, dalam pandangan Islam, persoalan riba bukan hanya tentang keuntungan atau kerugian secara materi. Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap praktik riba.

Allah berfirman:

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)

Karena itu, seorang muslim seharusnya tidak hanya memikirkan apakah suatu transaksi menguntungkan secara finansial, tetapi juga apakah transaksi tersebut halal.

2. Kita terlalu takut dengan standar kehidupan orang lain

Kadang-kadang penyebab seseorang terjebak riba bukan karena kebutuhan yang benar-benar mendesak, tetapi karena ingin mengikuti gaya hidup.

Tetangga punya mobil baru, kita ingin punya mobil baru.

Teman membeli rumah, kita merasa harus segera memiliki rumah.

Orang lain berlibur ke luar negeri, kita merasa kehidupan kita kurang.

Akhirnya, demi mengejar standar kehidupan orang lain, seseorang berani mengambil utang yang mengandung riba.

Padahal kehidupan setiap orang berbeda.

Jangan sampai kita mengejar gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu kita bayar.

Hidup sederhana tetapi tenang bisa jauh lebih baik daripada hidup terlihat mewah tetapi setiap bulan dihantui utang.

3. Riba sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa

Karena praktik pinjaman berbunga sudah sangat umum di masyarakat, sebagian orang akhirnya menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.

“Semua orang juga melakukan.”

“Kalau tidak pakai cicilan, bagaimana bisa punya rumah?”

“Kalau tidak berutang, bagaimana bisa punya kendaraan?”

Kalimat-kalimat seperti ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sering dilakukan memang bisa terasa biasa.

Namun, banyak dilakukan bukan berarti otomatis menjadi halal.

Seorang muslim tetap perlu berhati-hati dan mempelajari akad yang digunakan dalam suatu transaksi, karena tidak semua bentuk cicilan atau pembiayaan otomatis sama hukumnya.

4. Takut miskin membuat kita lupa bahwa rezeki bukan hanya soal angka

Kita sering berpikir bahwa hidup aman adalah ketika memiliki banyak uang.

Padahal keamanan hidup tidak selalu ditentukan oleh jumlah kekayaan.

Ada orang yang memiliki penghasilan besar tetapi pengeluarannya juga besar.

Ada orang yang memiliki rumah mewah tetapi terlilit utang.

Ada orang yang penghasilannya sederhana tetapi hidupnya tenang karena kebutuhannya terkendali.

Islam mengajarkan manusia untuk berusaha mencari rezeki, tetapi juga mengajarkan tawakal kepada Allah.

Bukan berarti kita boleh bermalas-malasan dan hanya menunggu rezeki.

Kita tetap harus bekerja, berusaha, meningkatkan kemampuan, dan mengatur keuangan.

Namun, dalam mencari rezeki, jangan sampai ketakutan terhadap kemiskinan membuat kita berani melanggar batas yang telah ditetapkan Allah.

https://s.shopee.co.id/60QNjLAHyP

5. Tidak semua utang itu riba

Hal ini juga penting dipahami.

Utang dan riba bukan dua hal yang selalu identik.

Seseorang bisa berutang tanpa riba, misalnya meminjam sejumlah uang dan mengembalikan sejumlah yang sama tanpa tambahan yang disyaratkan.

Sebaliknya, persoalan riba berkaitan dengan tambahan atau mekanisme tertentu dalam transaksi yang dilarang syariat.

Karena itu, ketika menghadapi kebutuhan finansial, jangan hanya bertanya, “Berapa cicilannya?”

Tanyakan juga:

“Akadnya apa?”

“Bagaimana mekanisme pembayarannya?”

“Apakah ada unsur riba?”

Jika tidak memahami suatu produk keuangan, sebaiknya pelajari terlebih dahulu atau tanyakan kepada orang yang benar-benar memahami fikih muamalah.

6. Lebih baik menunda daripada memaksakan diri

Tidak semua keinginan harus diwujudkan sekarang.

Kalau belum mampu membeli rumah, mungkin bisa menabung terlebih dahulu.

Kalau belum mampu membeli kendaraan, mungkin gunakan kendaraan yang sudah ada.

Kalau belum mampu memiliki barang tertentu, mungkin belum waktunya.

Kita hidup di zaman yang membuat segala sesuatu terasa harus dimiliki segera.

Padahal, menunda bukan berarti gagal.

Bisa jadi menunda pembelian justru membuat kita terhindar dari beban finansial yang berat.

7. Jangan sampai takut miskin membuat kita kehilangan keberkahan

Kemiskinan memang bukan sesuatu yang mudah.

Kita tetap harus berusaha agar keluarga memiliki kehidupan yang layak.

Namun, jangan sampai ketakutan terhadap kemiskinan membuat kita mengambil jalan yang haram.

Sebab seorang muslim tidak hanya mengejar banyaknya harta.

Ia juga mencari keberkahan.

Apa gunanya memiliki rumah yang bagus jika hati terus gelisah?

Apa gunanya kendaraan mewah jika diperoleh melalui transaksi yang diyakini melanggar syariat?

Apa gunanya terlihat kaya di depan manusia jika kita mengorbankan ketenangan hati dan tanggung jawab kepada Allah?

Takut miskin itu manusiawi, tetapi jangan lebih takut miskin daripada takut kepada Allah

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk hidup berkecukupan. Kita boleh bercita-cita memiliki rumah, kendaraan, pendidikan yang baik, tabungan, dan kehidupan yang nyaman.

Yang harus dijaga adalah cara kita mendapatkannya. Jangan karena ingin cepat kaya, kita mengambil jalan yang salah. Jangan karena takut dianggap miskin, kita rela terlilit utang yang mengandung riba.

BACA JUGA: Sepelekan Pinjam Uang dengan Cara Riba, Apa Ancamannya?

Dan jangan karena ingin terlihat sukses di mata manusia, kita mengorbankan prinsip agama. Pada akhirnya, kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang kita punya.

Kekayaan juga tentang bagaimana kita mendapatkan uang tersebut dan apakah hati kita tenang ketika menggunakannya.

Maka, ketika menghadapi kebutuhan finansial, jangan hanya bertanya: “Bagaimana caranya supaya saya tidak miskin?”

Tetapi tanyakan juga: “Bagaimana caranya saya mendapatkan kecukupan tanpa melanggar aturan Allah?”

Sebab hidup sederhana dengan rezeki yang halal dan penuh keberkahan jauh lebih baik daripada hidup mewah tetapi harus mengorbankan prinsip agama. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *