MUNAFIK adalah salah satu sifat yang sangat berbahaya bagi seorang Muslim. Sebab, kemunafikan tidak selalu tampak dari luar. Seseorang bisa terlihat baik, rajin beribadah, bahkan dikenal sebagai orang saleh, tetapi di dalam dirinya tersimpan sifat-sifat yang menyerupai perilaku orang munafik.
Karena itu, pembahasan tentang kemunafikan bukan semata-mata untuk menunjuk orang lain. Justru yang paling penting adalah bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan sebagian sifat itu ada dalam diri kita?
Allah Swt. memberikan peringatan keras tentang orang-orang munafik. Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa: 145)
Rasulullah Muhammad ﷺ juga menjelaskan beberapa tanda kemunafikan dalam sabdanya:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lainnya, Rasulullah Muhammad ﷺ menyebutkan tanda-tanda tambahan. Dari berbagai dalil tersebut, kita dapat mengambil pelajaran tentang beberapa sifat yang wajib kita waspadai.
BACA JUGA: 5 Alasan Menjadi Orang Munafik Itu Sangat Merugikan Diri Sendiri
Pertama, berdusta.
Kebiasaan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan adalah penyakit hati yang serius. Dusta yang terus dipelihara dapat menghilangkan kepercayaan dan menyeret seseorang kepada dosa lainnya.
Kedua, mengingkari janji.
Janji dianggap ringan. Mudah mengucapkannya, tetapi tidak serius menunaikannya. Padahal seorang Muslim seharusnya menjaga lisannya.
Ketiga, berkhianat terhadap amanah.
Amanah bukan hanya harta. Jabatan, pekerjaan, rahasia, tanggung jawab, bahkan waktu juga merupakan amanah.
Keempat, berbuat curang ketika berselisih.
Ketika hubungan baik, seseorang terlihat santun. Namun ketika marah atau berselisih, ia mulai melampaui batas, memutarbalikkan fakta, bahkan melakukan kebohongan.
Kelima, berbuat keji ketika bertengkar.
Pertengkaran membuka karakter seseorang. Ada orang yang ketika marah mengeluarkan kata-kata kasar, mencela, menghina, dan membuka aib saudaranya.
Keenam, malas mengerjakan shalat.
Allah berfirman:
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ
“Dan apabila mereka berdiri untuk melaksanakan salat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa: 142)
Malas beribadah harus menjadi alarm bagi hati kita.
Ketujuh, beribadah karena ingin dilihat manusia.
Orang munafik sangat memperhatikan penilaian manusia. Allah menyebut mereka melakukan ibadah dengan maksud memperlihatkan amal kepada manusia.
Kedelapan, sedikit mengingat Allah.
Allah berfirman:
وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (QS. An-Nisa: 142)
Hati yang terlalu sibuk dengan dunia perlu diperiksa kembali. Jangan sampai kita begitu hafal urusan dunia, tetapi lalai mengingat Allah.
Kesembilan, suka menunda-nunda kebaikan.
Setiap kali datang kesempatan beramal, selalu ada alasan untuk menundanya. Padahal kita tidak pernah tahu apakah kesempatan itu akan datang kembali.
Kesepuluh, membenci nasihat yang benar.
Ketika dinasihati, hati langsung tersinggung. Bukan memperbaiki diri, tetapi justru mencari kesalahan orang yang menasihati.
Kesebelas, senang melihat orang lain gagal.
Hati yang sakit sulit menerima keberhasilan saudaranya. Ia merasa senang ketika orang lain jatuh dan kecewa ketika orang lain mendapatkan nikmat.
Kedua belas, menyebarkan aib orang lain.
Membicarakan keburukan seseorang dapat menjadi hiburan bagi lisan yang tidak terjaga. Padahal seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga kehormatan saudaranya.
Ketiga belas, memiliki dua wajah.
Di hadapan seseorang ia memuji, tetapi ketika berada di belakangnya ia mencela. Sikap seperti ini sangat berbahaya karena menunjukkan ketidakjujuran dalam hubungan.
Keempat belas, mencari muka di hadapan manusia.
Ia berbuat baik bukan karena Allah, tetapi karena ingin mendapatkan pujian, kedudukan, pengaruh, atau keuntungan.
Kelima belas, mudah bersumpah untuk membenarkan kebohongan.
Ketika seseorang terbiasa berbohong, ia terkadang menggunakan sumpah untuk meyakinkan orang lain. Padahal nama Allah tidak boleh dijadikan alat untuk menutupi kebatilan.
Keenam belas, menghalangi orang dari kebaikan.
Ia sendiri tidak bersemangat melakukan kebaikan dan bahkan membuat orang lain ikut malas. Nasihatnya justru menjauhkan manusia dari ketaatan.
Ketujuh belas, mencari-cari alasan untuk meninggalkan kewajiban.
Ketika mendapatkan perintah agama, selalu ada alasan untuk menghindar. Namun ketika mendapatkan urusan dunia, ia mampu berusaha dengan sungguh-sungguh.
Kedelapan belas, lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah.
Penilaian manusia menjadi pertimbangan utama. Ia takut dicela manusia, tetapi tidak takut ketika melanggar aturan Allah.
Kesembilan belas, senang dengan kemaksiatan yang tersembunyi.
Di depan manusia ia menjaga penampilan, tetapi ketika tidak ada yang melihat, ia berani melakukan apa yang Allah haramkan.
Kedua puluh, sulit merasa bersalah setelah berbuat dosa.
Dosa dilakukan berulang-ulang tanpa penyesalan. Hati tidak lagi gelisah ketika bermaksiat. Inilah kondisi yang sangat perlu ditakuti.
Namun, kita harus memahami bahwa memiliki satu sifat buruk tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai munafik akidah seperti orang yang menyembunyikan kekufuran di balik keislaman. Para ulama menjelaskan adanya nifaq amali, yaitu sifat atau perilaku yang menyerupai orang munafik. Sifat-sifat tersebut harus segera ditinggalkan dan diperbaiki.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa penyakit hati sering kali lebih berbahaya daripada penyakit badan karena seseorang terkadang tidak menyadari bahwa hatinya sedang sakit.
Maka, ketika membaca daftar sifat di atas, jangan sibuk mencari siapa yang memiliki sifat tersebut.
Tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah aku masih sering berdusta?
Apakah aku mudah mengingkari janji?
Apakah aku menjaga amanah?

Apakah shalatku sudah sungguh-sungguh?
Apakah amalanku benar-benar karena Allah?
Apakah aku senang ketika saudaraku mendapatkan nikmat?
Apakah aku berbeda antara ketika dilihat manusia dan ketika sendirian?
Jika jawabannya membuat kita malu, jangan berputus asa.
Itulah kesempatan untuk kembali.
Perbanyak istighfar. Perbaiki shalat. Jaga lisan. Tunaikan amanah. Tepati janji. Tinggalkan dosa yang tersembunyi. Dan teruslah meminta kepada Allah agar hati kita disucikan.
BACA JUGA: Gembong Munafik di Zaman Nabi, Siapakah Dia?
Sebab, hati manusia dapat berubah.
Hari ini mungkin kita sedang lalai. Namun dengan pertolongan Allah, kita bisa kembali taat.
Rasulullah Muhammad ﷺ mengajarkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Semoga Allah membersihkan hati kita dari kemunafikan, kejujuran palsu, riya, khianat, dusta, dan seluruh penyakit hati.
Jangan merasa aman hanya karena kita terlihat baik di hadapan manusia.
Yang paling penting adalah bagaimana keadaan hati kita ketika hanya Allah yang melihat.
Bisa jadi orang lain mengira kita baik.
Namun, semoga Allah benar-benar menjadikan kita baik.
Dan semoga sebelum ajal datang, kita telah memperbaiki semua sifat buruk yang masih bersemayam di dalam diri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

