SHALAT adalah ibadah yang paling agung setelah syahadat. Ia menjadi tiang agama, pembeda antara seorang muslim dengan kekufuran, serta amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Namun, tidak setiap orang yang mengerjakan shalat otomatis mendapatkan pahala dan diterima amalnya di sisi Allah.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Karena itu, seorang muslim bukan hanya dituntut untuk sekadar mengerjakan shalat, tetapi juga memperhatikan syarat, rukun, adab, dan hal-hal yang dapat menyebabkan shalatnya tertolak atau tidak diterima.
Perlu dipahami, istilah “tidak diterima” dalam Al-Qur’an dan hadits memiliki beberapa makna. Ada yang berarti tidak sah sehingga wajib diulang, dan ada pula yang sah secara hukum fiqih tetapi pelakunya tidak memperoleh pahala sempurna selama sebab tersebut masih ada. Berikut penjelasannya.
1. Orang yang Berhadats dan Tidak Bersuci
Ini merupakan penyebab paling mendasar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadats hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang shalat tanpa wudhu, atau dalam keadaan junub tanpa mandi wajib, maka shalatnya tidak sah dan wajib diulang.
Karena itu, menjaga kesucian merupakan syarat utama diterimanya shalat.
BACA JUGA: Shalat Jamak + Shalat Qashar, Ini Ketentuan dan Syaratnya
2. Orang yang Sengaja Meninggalkan Thuma’ninah
Sebagian orang shalat begitu cepat hingga tidak sempat tenang dalam rukuk maupun sujud.
Padahal Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan seseorang mengulangi shalatnya berkali-kali seraya bersabda:
“Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa shalat tanpa thuma’ninah tidak sah.
Shalat bukan sekadar gerakan, tetapi ibadah yang penuh ketenangan dan kekhusyukan.
3. Orang yang Mendatangi Dukun dan Mempercayainya
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu bertanya kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim)
Yang dimaksud adalah orang yang datang kepada paranormal, peramal, atau tukang ramal untuk meminta ramalan tentang perkara gaib.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa shalatnya tetap wajib dikerjakan dan sah, tetapi ia kehilangan pahala selama ancaman tersebut berlaku apabila tidak segera bertaubat.
4. Budak yang Lari dari Tuannya
Dalam hadits disebutkan:
“Ada tiga golongan yang shalatnya tidak diterima…” salah satunya adalah budak yang melarikan diri dari tuannya. (HR. Muslim)
Konteks hadits ini berkaitan dengan sistem perbudakan yang dahulu masih berlaku.
Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa kedurhakaan, pengkhianatan terhadap amanah, dan pelanggaran hak orang lain dapat menjadi sebab terhalangnya pahala ibadah.
5. Imam yang Dibenci Makmumnya Karena Kezalimannya
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara orang yang shalatnya tidak melewati telinganya adalah:
“…seorang imam yang memimpin suatu kaum sementara mereka membencinya.” (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Yang dimaksud bukan imam yang dibenci karena menegakkan sunnah, melainkan karena kezaliman, akhlak buruk, atau sikap yang menyakiti jamaah tanpa alasan syar’i.
Seorang pemimpin shalat hendaknya menjaga amanah dan menjadi teladan.
6. Wanita yang Suaminya Marah Karena Kedurhakaannya
Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa seorang istri yang membuat suaminya marah tanpa alasan yang dibenarkan syariat termasuk orang yang terancam tidak diterima amal ibadahnya.
Namun perlu dipahami, hal ini bukan berarti suami boleh berbuat zalim atau memarahi istrinya tanpa alasan. Islam mewajibkan kedua belah pihak saling menunaikan hak dan kewajiban.
Jika kemarahan suami muncul karena kezalimannya sendiri, maka ancaman tersebut tidak berlaku.
7. Orang yang Mabuk
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”
(QS. An-Nisa: 43)
Seseorang yang shalat dalam keadaan mabuk tidak memahami bacaan maupun gerakannya.
Karena itu shalatnya tidak diterima, bahkan meminum minuman yang memabukkan sendiri termasuk dosa besar.
8. Orang yang Memakan Harta Haram
Walaupun tidak ada hadits yang secara khusus menyebut “shalatnya tidak diterima”, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah itu Mahabaik dan hanya menerima yang baik.
Beliau kemudian menyebut seseorang yang berdoa sementara makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari yang haram.
“…maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim)
Jika doa saja terhalang karena harta haram, maka sudah sepatutnya seorang muslim sangat berhati-hati terhadap sumber penghasilannya agar ibadahnya tidak kehilangan keberkahan.
9. Orang yang Shalat karena Riya’
Allah berfirman:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)
Riya’ adalah mengerjakan ibadah agar dipuji manusia.
Secara lahiriah shalatnya mungkin tampak sempurna, tetapi jika niatnya bukan karena Allah, maka amal tersebut tidak bernilai di sisi-Nya.
Ikhlas merupakan ruh seluruh ibadah.

10. Orang yang Sengaja Menunda Shalat Hingga Keluar Waktu
Allah berfirman:
“Maka datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu…”
(QS. Maryam: 59)
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya tanpa uzur merupakan dosa besar.
Sebagian ulama bahkan berpendapat shalat yang dilakukan setelah waktunya habis dengan sengaja tidak diterima dan wajib disertai taubat yang sungguh-sungguh.
Karena itu, menjaga shalat tepat waktu adalah tanda keimanan dan ketakwaan.
BACA JUGA: Shalat Fardhu Diringkas, Kok Bisa?
Bagaimana Agar Shalat Diterima?
Selain memenuhi syarat dan rukun, seorang muslim hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut:
Ikhlas hanya mengharap ridha Allah.
Menjaga wudhu dan kesucian.
Shalat pada waktunya.
Melaksanakan seluruh rukun dengan thuma’ninah.
Menghindari harta haram.
Menjauhi syirik, perdukunan, dan kemaksiatan.
Berusaha menghadirkan hati serta kekhusyukan.
Memperbanyak taubat dan istighfar.
Para ulama salaf sangat khawatir bukan karena sedikitnya amal, tetapi karena amal mereka belum tentu diterima.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
“Hendaklah kalian lebih memperhatikan diterimanya amal daripada banyaknya amal.”
Penutup
Setiap muslim tentu menginginkan shalatnya menjadi cahaya di dunia, penolong di alam kubur, dan pemberat timbangan amal pada hari kiamat. Karena itu, jangan hanya sibuk menghitung berapa kali kita telah shalat, tetapi renungkan pula apakah shalat tersebut telah memenuhi syarat diterimanya di sisi Allah.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni kekurangan dalam shalat kita, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan. Aamiin. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

