Demi Suami Beli Rokok, Anak Jadi Kurang Gizi, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

BAYANGKAN sebuah keluarga dengan penghasilan pas-pasan. Setiap hari ibu harus memikirkan uang untuk membeli beras, lauk, susu, biaya sekolah, listrik, dan kebutuhan anak. Namun di tengah keterbatasan itu, sebagian uang justru harus disisihkan untuk membeli rokok suami. Jika kebutuhan rokok akhirnya membuat makanan bergizi untuk anak dikurangi, tentu ada persoalan yang harus segera dibenahi.

Rokok bukan sekadar persoalan kebiasaan pribadi ketika uang yang digunakan berasal dari pendapatan keluarga. Ketika pengeluaran rokok mengambil porsi besar dari anggaran rumah tangga, dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak. Kementerian Kesehatan pernah mencatat bahwa pengeluaran rumah tangga untuk rokok dapat menggeser kebutuhan lain, termasuk makanan bergizi, dan penelitian Kementerian Kesehatan juga menemukan hubungan antara pengeluaran rokok rumah tangga dengan status gizi balita.

BACA JUGA: Syarat Menikah: Calon Suami Tidak Boleh Merokok, Bolehkah?

Anak seharusnya menjadi prioritas

Dalam keluarga, kebutuhan anak bukanlah sesuatu yang seharusnya dikalahkan oleh keinginan orang tua. Anak membutuhkan makanan yang cukup dan bergizi untuk tumbuh, belajar, bermain, serta menjaga kesehatannya. Jika kondisi ekonomi memang terbatas, maka keluarga harus membedakan mana kebutuhan yang benar-benar penting dan mana pengeluaran yang sebenarnya masih bisa dihentikan.

Misalnya, seorang ayah mengatakan bahwa ia tidak bisa berhenti membeli rokok karena sudah kecanduan. Pada saat yang sama, istrinya harus mengurangi telur, ikan, daging, susu, atau makanan bergizi lainnya karena uang belanja tidak mencukupi. Dalam situasi seperti ini, yang perlu dipertanyakan bukan hanya berapa harga rokok, tetapi mengapa kebutuhan anak harus dikorbankan untuk mempertahankan kebiasaan orang dewasa.

Kementerian Kesehatan pada 2025 menyebut bahwa berdasarkan Susenas 2023, porsi pengeluaran keluarga untuk rokok dan tembakau cukup besar dan pada berbagai kelompok pengeluaran berada pada kisaran yang hampir menyamai pengeluaran untuk protein hewani.

“Tapi suami sudah bekerja keras”

Ada suami yang mungkin berkata, “Saya sudah bekerja dari pagi sampai malam, masa saya tidak boleh menikmati rokok?” Memang, seseorang yang bekerja keras tentu membutuhkan waktu istirahat dan memiliki keinginan pribadi. Namun, ketika penghasilan keluarga terbatas, menikmati sesuatu tetap harus mempertimbangkan kondisi seluruh anggota keluarga.

Jangan sampai seorang ayah merasa berhak membeli rokok setiap hari, sementara anaknya hanya makan seadanya. Jangan sampai uang untuk kebutuhan pribadi dianggap sebagai hak mutlak, sedangkan uang untuk makanan anak dianggap sebagai pengeluaran yang bisa dikurangi. Dalam keluarga, kebahagiaan satu orang tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan kebutuhan dasar anggota keluarga lainnya.

Apalagi anak tidak pernah memilih dilahirkan dalam keluarga dengan kondisi ekonomi tertentu. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk mencari penghasilan sendiri. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi semampu mereka.

Istri jangan hanya diam

Bagaimana jika seorang istri berada dalam kondisi seperti ini? Istri tidak seharusnya hanya diam sambil melihat kebutuhan anak semakin terabaikan. Namun, menyampaikan masalah juga sebaiknya dilakukan dengan cara yang bijak, bukan dengan mempermalukan atau menghina suami.

Istri bisa mengajak suami menghitung pengeluaran secara terbuka. Berapa uang yang masuk setiap bulan, berapa biaya makanan, pendidikan, listrik, transportasi, dan kebutuhan anak, kemudian berapa banyak uang yang dihabiskan untuk rokok. Kadang-kadang ketika pengeluaran tersebut dihitung secara keseluruhan, seseorang baru menyadari bahwa jumlahnya ternyata sangat besar.

Misalnya, jika pengeluaran rokok mencapai Rp20.000 per hari, dalam satu bulan jumlahnya sekitar Rp600.000. Jika Rp600.000 tersebut dialihkan untuk kebutuhan keluarga, uang itu bisa digunakan untuk membeli telur, ikan, ayam, buah, sayuran, atau kebutuhan anak lainnya. Jumlahnya mungkin terlihat kecil setiap hari, tetapi menjadi besar ketika dikumpulkan selama berbulan-bulan.

Kementerian Kesehatan juga pernah menyebut bahwa rumah tangga miskin dapat menghabiskan ratusan ribu rupiah per bulan untuk rokok, sementara pada saat yang sama kebutuhan makanan bergizi anak belum terpenuhi.

https://s.shopee.co.id/7VFUiVYWLS

Jangan menunggu anak sakit

Persoalan gizi tidak seharusnya baru diperhatikan ketika anak sudah terlihat sangat kurus atau mengalami gangguan kesehatan. Kebutuhan gizi anak harus dipikirkan sejak sekarang, karena masa pertumbuhan merupakan periode penting dalam kehidupan mereka.

Kementerian Kesehatan bahkan mengingatkan bahwa di rumah tangga perokok dapat ditemukan anak dengan masalah gizi, termasuk stunting dan kurang gizi. Ini tentu tidak berarti setiap anak dari keluarga perokok pasti mengalami masalah gizi, tetapi menunjukkan bahwa pengeluaran rokok dapat menjadi salah satu persoalan ekonomi rumah tangga yang perlu diperhatikan.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap remeh uang yang keluar setiap hari untuk rokok. Ketika pendapatan keluarga cukup besar dan seluruh kebutuhan dasar sudah terpenuhi, persoalannya mungkin berbeda. Tetapi ketika penghasilan sangat terbatas dan anak kekurangan makanan bergizi, pengeluaran tersebut harus dievaluasi secara serius.

Dari sudut pandang agama

Dalam Islam, seorang suami memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Nafkah bukan hanya soal memberikan uang, tetapi memastikan kebutuhan dasar keluarga dipenuhi sesuai kemampuan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 233 bahwa kewajiban ayah adalah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang patut. Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya tanggung jawab seorang ayah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itu, seorang suami perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah uang yang saya gunakan untuk rokok lebih penting daripada makanan anak saya? Apakah kebiasaan saya pantas dipertahankan ketika istri harus berutang untuk membeli kebutuhan rumah? Apakah saya rela anak mengurangi makanan bergizi sementara saya tetap mempertahankan pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terasa menyakitkan, tetapi justru penting untuk menyadarkan seseorang.

Berhenti atau setidaknya mulai mengurangi

Jika berhenti merokok secara langsung terasa sangat sulit, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Langkah pertama bisa dimulai dengan mengurangi konsumsi dan mengalokasikan uang yang berhasil dihemat untuk kebutuhan keluarga.

Namun, tujuan akhirnya sebaiknya bukan sekadar menghemat uang, melainkan meninggalkan kebiasaan merokok. Dengan berhenti merokok, keluarga bukan hanya berpotensi memiliki lebih banyak uang untuk kebutuhan lain, tetapi juga mengurangi paparan asap rokok bagi anggota keluarga.

Suami juga perlu memahami bahwa berhenti merokok bukan berarti kehilangan kenikmatan hidup. Bisa jadi justru sebaliknya, berhenti merokok membuat seseorang memiliki lebih banyak kesempatan menikmati kesehatan, kebersamaan dengan anak, dan kondisi ekonomi keluarga yang lebih baik.

Jangan jadikan rokok sebagai kebutuhan pokok

Ada sebuah kekeliruan yang sering terjadi dalam keluarga: rokok dianggap sebagai “kebutuhan”, sementara makanan bergizi dianggap sebagai sesuatu yang bisa disesuaikan. Padahal, kebutuhan dasar anak seharusnya ditempatkan jauh lebih tinggi daripada kebiasaan konsumtif orang tua.

Jika harus memilih antara membeli rokok atau membeli telur untuk lauk anak, tentu kebutuhan anak harus didahulukan. Jika harus memilih antara mempertahankan jumlah rokok harian atau memastikan anak mendapatkan makanan bergizi, maka seorang ayah seharusnya berani mengorbankan kebiasaannya sendiri.

BACA JUGA: Benarkah Perempuan Merokok Itu Perempuan Nakal?

Menjadi kepala keluarga bukan hanya soal mencari uang. Menjadi ayah berarti belajar mengendalikan keinginan pribadi ketika ada kebutuhan keluarga yang lebih penting.

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar “suami merokok”. Persoalannya adalah ketika kebiasaan tersebut membuat anak kehilangan haknya untuk mendapatkan kebutuhan yang layak. Jangan sampai seorang ayah rela mengeluarkan uang setiap hari untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan tubuhnya, tetapi merasa berat ketika harus mengeluarkan uang untuk makanan yang dibutuhkan tubuh anaknya.

Kalau uang untuk rokok sampai membuat anak kekurangan makanan bergizi, yang perlu dikurangi bukan makanan anaknya, tetapi rokoknya. Sebab anak tidak seharusnya membayar harga dari kebiasaan orang tuanya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *