SHALAT adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting. Dalam kehidupan seorang muslim, shalat bukan sekadar aktivitas rutin yang dilakukan ketika memiliki waktu luang, melainkan kewajiban yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam agama. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang mengaku sebagai muslim tetapi meninggalkan shalat lima waktu.
Fenomena ini tentu mengundang pertanyaan besar. Bagaimana mungkin seseorang ingin mendapatkan keberkahan hidup, tetapi kewajiban paling mendasar dalam agamanya justru sering ditinggalkan? Mengapa ada orang yang begitu takut kehilangan pekerjaan, kehilangan uang, atau kehilangan jabatan, tetapi tidak merasa takut ketika meninggalkan shalat?
BACA JUGA: Apakah Boleh Mengganti Shalat Sunnah Qabliyah Subuh yang Tertinggal?
Sebenarnya, persoalan meninggalkan shalat tidak selalu karena seseorang tidak tahu bahwa shalat itu wajib. Banyak orang sudah mengetahuinya sejak kecil. Mereka pernah belajar mengaji, pernah mendengar ceramah, bahkan mungkin hafal bahwa shalat adalah rukun Islam. Namun pengetahuan saja ternyata belum tentu membuat seseorang mau melaksanakan.
Tahu Itu Wajib, Tapi Tidak Dikerjakan
Ada perbedaan antara mengetahui kewajiban dan benar-benar menjadikan kewajiban tersebut sebagai prioritas. Seseorang bisa tahu bahwa shalat itu wajib, tetapi karena terlalu sibuk bekerja, bermain, menonton, berkumpul dengan teman, atau menggunakan ponsel, akhirnya waktu shalat terlewat.
Awalnya mungkin hanya sekali. Kemudian menjadi beberapa kali dalam seminggu. Lama-kelamaan, meninggalkan shalat terasa biasa saja. Yang lebih berbahaya, hati bisa menjadi tidak lagi merasa bersalah ketika mendengar azan tetapi memilih tetap melakukan aktivitas lain.
Padahal waktu yang digunakan untuk shalat sebenarnya sangat singkat dibandingkan waktu yang kita habiskan untuk berbagai urusan dunia. Kita bisa menghabiskan berjam-jam menonton film, bermain media sosial, bermain game, bekerja, atau mengobrol. Tetapi ketika diminta meluangkan beberapa menit untuk menghadap Allah, tiba-tiba terasa berat.
Mengapa Shalat Terasa Berat?
Salah satu penyebabnya adalah hati yang terlalu sibuk mengejar dunia. Ketika pikiran dipenuhi pekerjaan, uang, hiburan, dan berbagai keinginan, ibadah bisa dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu aktivitas.
Ada pula orang yang merasa shalat bisa ditunda. Ketika azan berkumandang, muncul pikiran, “Nanti saja, masih ada pekerjaan.” Setelah pekerjaan selesai, muncul aktivitas lain. Akhirnya waktu shalat habis tanpa disadari.
Kebiasaan menunda inilah yang perlu diwaspadai. Karena setan tidak selalu menggoda seseorang dengan mengatakan, “Jangan shalat.” Kadang godaannya jauh lebih halus, yaitu membuat seseorang berpikir, “Shalat nanti saja.”
Kalau Ada Waktu untuk Semua, Mengapa Tidak untuk Shalat?
Coba perhatikan rutinitas sehari-hari. Kita bisa menyediakan waktu untuk sarapan, bekerja, makan siang, minum kopi, membuka media sosial, menonton televisi, bahkan sekadar rebahan. Hampir semua aktivitas memiliki ruang dalam jadwal kita.
Lalu mengapa shalat sering tidak mendapatkan tempat yang sama?
Mungkin masalahnya bukan tidak punya waktu, tetapi belum menjadikan shalat sebagai prioritas. Jika shalat benar-benar dianggap penting, maka aktivitas lain yang menabrak waktu shalat seharusnya yang disesuaikan, bukan shalat yang terus-menerus dikorbankan.
Seorang muslim perlu belajar membalik pola pikir tersebut. Jangan menunggu pekerjaan selesai baru shalat. Justru aturlah pekerjaan agar tidak membuat kita meninggalkan shalat.
Jangan Menunggu Menjadi Orang Baik untuk Shalat
Ada juga orang yang merasa dirinya masih banyak dosa sehingga malu untuk shalat. Mereka berpikir, “Saya masih suka maksiat, percuma shalat.” Ini adalah pemikiran yang keliru.
Justru karena masih banyak dosa, kita semakin membutuhkan shalat. Jangan menunggu menjadi sempurna baru mendekat kepada Allah. Shalat adalah salah satu jalan untuk memperbaiki diri secara perlahan.
Jika seseorang masih melakukan kesalahan, bukan berarti dia boleh meninggalkan shalat. Sebaliknya, dia perlu terus berusaha memperbaiki diri sambil tetap menjalankan kewajibannya. Jangan biarkan dosa yang dilakukan menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban yang lain.
Shalat Bukan Hanya Saat Sedang Ada Masalah
Menariknya, banyak orang kembali rajin berdoa ketika sedang mengalami kesulitan. Ketika sakit, kehilangan pekerjaan, terlilit masalah ekonomi, atau menghadapi persoalan keluarga, mereka sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Namun ketika keadaan kembali membaik, shalat kembali ditinggalkan. Seolah-olah Allah hanya dicari ketika manusia membutuhkan sesuatu.
Padahal hubungan seorang hamba dengan Allah seharusnya tidak hanya terjadi ketika sedang terdesak. Saat sehat kita tetap perlu bersyukur. Saat kaya kita tetap membutuhkan petunjuk. Saat bahagia kita tetap membutuhkan perlindungan Allah.
Shalat adalah bentuk hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya yang dilakukan secara rutin. Karena itu, jangan sampai kita hanya mengingat Allah ketika sedang membutuhkan pertolongan.
Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Lama Meninggalkan Shalat?
Jika seseorang selama ini sering meninggalkan shalat, jangan berpikir semuanya sudah terlambat. Jangan biarkan rasa bersalah membuat kita semakin jauh dari Allah.
Langkah pertama adalah berhenti membenarkan kebiasaan meninggalkan shalat. Kemudian berusaha kembali menjaga shalat lima waktu dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Jika memiliki persoalan tentang kewajiban shalat yang telah ditinggalkan dalam jumlah banyak, seseorang dapat bertanya kepada ustaz atau ahli fikih yang terpercaya agar mendapatkan penjelasan sesuai keadaan dan mazhab yang diikuti.
Yang terpenting adalah jangan terus menunda. Jangan berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan rajin shalat.” Tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama lagi usianya.
Bisa jadi seseorang merencanakan akan berubah tahun depan, tetapi kesempatan itu tidak pernah datang. Karena itu, waktu terbaik untuk memperbaiki shalat adalah ketika kita masih diberi kesempatan hari ini.
Jangan Tunggu Azan dari Masjid untuk Mengingat Allah
Shalat lima waktu sebenarnya memberikan kesempatan yang luar biasa bagi seorang muslim untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Lima kali sehari kita diajak meninggalkan aktivitas sementara, membersihkan diri, menghadap kiblat, dan mengingat siapa yang memberikan kehidupan kepada kita.
Bayangkan jika dalam sehari kita tidak pernah berhenti untuk mengingat Allah. Kita sibuk mencari uang, mengejar target, memikirkan masa depan, dan menikmati berbagai hiburan. Tanpa disadari, dunia bisa memenuhi hati sampai membuat kita lupa kepada tujuan hidup.
Shalat menjadi salah satu pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja, membeli, memiliki, dan menikmati. Ada kehidupan setelah dunia yang juga harus dipersiapkan.
Pada akhirnya, pertanyaan “Shalat itu rukun Islam, tapi kok masih banyak muslim yang gak ngerjain?” seharusnya tidak hanya ditujukan kepada orang lain. Pertanyaan itu juga layak kita tanyakan kepada diri sendiri.
Ketika azan berkumandang, apa yang sebenarnya lebih kita prioritaskan? Ketika waktu shalat tiba, apakah kita segera memenuhi panggilan Allah atau justru mencari alasan untuk menundanya?
BACA JUGA: Sudah Usia 40 Tahun tapi Tidak Pernah Shalat 5 Waktu, Bagaimana?
Kita mungkin belum sempurna. Kita mungkin masih banyak dosa dan masih sering melakukan kesalahan. Tetapi jangan sampai ketidaksempurnaan itu membuat kita meninggalkan shalat.
Karena kita tidak perlu menjadi manusia sempurna untuk mulai shalat. Justru dengan menjaga shalat, kita sedang berusaha menjadi manusia yang lebih baik.
Bagaimana menurutmu, kenapa masih banyak orang yang mengaku muslim tetapi tetap meninggalkan shalat lima waktu? Apakah karena malas, terlalu sibuk dengan dunia, atau karena belum memahami betapa pentingnya shalat? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

