Sudah Miskin Tak Mau Tegakkan Shalat 5 Waktu, Gimana Tuh?

Yudi
By Yudi
12 Min Read
Foto: Freepik

HIDUP dalam keadaan serba kekurangan tentu tidak mudah. Ketika penghasilan pas-pasan, kebutuhan keluarga banyak, utang menumpuk, pekerjaan sulit didapat, bahkan untuk makan saja harus berpikir keras, seseorang bisa merasa hidupnya sangat berat. Tetapi ada satu hal yang jangan sampai ikut hilang karena kesulitan ekonomi, yaitu shalat lima waktu.

Pertanyaannya kemudian menjadi cukup menusuk: sudah hidup susah, mengapa masih meninggalkan shalat? Apakah karena merasa Allah belum memberikan rezeki sehingga tidak perlu beribadah? Atau justru karena terlalu sibuk memikirkan kebutuhan dunia sampai lupa bahwa ada kewajiban kepada Allah?

Shalat lima waktu bukan kewajiban yang hanya berlaku bagi orang kaya. Orang miskin, orang kaya, orang sehat, orang yang sedang menghadapi kesulitan, semuanya tetap memiliki kewajiban shalat selama memenuhi syaratnya. Kementerian Agama menegaskan bahwa shalat lima waktu merupakan kewajiban yang harus dikerjakan setiap hari dan memiliki waktu yang telah ditentukan.

BACA JUGA: Shalat tapi Ga Temukan Arah Kiblat, Harus Bagaimana?

Miskin bukan alasan meninggalkan shalat

Kemiskinan memang bisa menjadi ujian yang sangat berat. Ketika seseorang tidak memiliki uang, pikirannya bisa dipenuhi persoalan makanan, tempat tinggal, biaya sekolah anak, cicilan, pekerjaan, dan kebutuhan sehari-hari.

Namun, jangan sampai kesulitan ekonomi membuat seseorang merasa tidak memiliki alasan untuk mendekat kepada Allah. Justru ketika hidup sedang sulit, shalat seharusnya menjadi salah satu tempat seorang Muslim mencari ketenangan dan kekuatan.

Shalat memang bukan jaminan bahwa seseorang akan langsung menjadi kaya setelah selesai beribadah. Jangan pula memahami ibadah seperti transaksi, “Saya shalat supaya besok dapat uang.” Shalat adalah kewajiban seorang hamba kepada Allah, sementara rezeki merupakan bagian dari ketetapan Allah yang harus dicari melalui usaha yang halal.

Jangan menunggu kaya untuk rajin shalat

Ada orang yang berpikir, “Nanti kalau sudah punya pekerjaan bagus, saya akan rajin shalat.” Ada juga yang berkata, “Kalau sudah punya rumah sendiri, hidup sudah tenang, saya akan lebih dekat dengan agama.”

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kehidupan akan berubah. Orang yang hari ini miskin bisa saja besok mendapatkan rezeki yang luas, tetapi orang yang hari ini kaya juga bisa kehilangan hartanya dalam waktu singkat.

Kalau seseorang menunggu kaya untuk mulai memperbaiki hubungan dengan Allah, kapan ia akan memulainya? Jangan sampai kekayaan datang tetapi shalat tetap ditinggalkan karena sudah terbiasa hidup tanpa shalat.

Kita harus memahami bahwa shalat bukan hadiah setelah seseorang menjadi sukses. Shalat adalah kewajiban dalam keadaan apa pun.

Justru saat susah, jangan jauh dari Allah

Ketika seseorang sedang kesulitan, setan bisa membisikkan berbagai pikiran buruk. Seseorang bisa mulai merasa bahwa hidupnya tidak adil, menganggap doanya tidak pernah dikabulkan, bahkan akhirnya kecewa kepada Allah.

Di sinilah shalat memiliki peran yang sangat penting. Ketika berdiri menghadap Allah, seorang Muslim bisa mengadukan kesulitannya, memohon pertolongan, meminta kekuatan, dan mengingat bahwa persoalan dunia bukanlah seluruh kehidupan.

Bukan berarti setelah shalat semua masalah otomatis selesai. Tetapi shalat dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak sendirian menghadapi ujian kehidupan.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 153 agar orang-orang beriman meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Artinya, ketika hidup terasa berat, salah satu sikap yang diajarkan agama adalah semakin mendekat kepada Allah, bukan justru semakin menjauh.

Jangan menganggap rezeki hanya berupa uang

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mengukur rezeki hanya dari jumlah uang. Ketika seseorang tidak punya banyak uang, ia merasa dirinya tidak mendapatkan rezeki.

Padahal kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang masih menyayangi kita adalah rezeki. Anak yang sehat adalah rezeki. Masih memiliki kesempatan untuk bekerja adalah rezeki. Bahkan masih diberikan kesempatan untuk bangun pada pagi hari dan melakukan shalat juga merupakan nikmat yang tidak boleh dianggap kecil.

Kementerian Agama dalam penjelasan tafsir QS Al-‘Ashr mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.

Karena itu, jangan sampai seseorang sibuk menghitung berapa rupiah yang belum dimilikinya tetapi lupa menghitung berapa banyak nikmat yang sudah diberikan kepadanya.

Tetapi apakah orang miskin yang tidak shalat pasti miskin karena Allah murka?

Tidak boleh kita mengatakan seperti itu secara sembarangan. Kondisi ekonomi seseorang tidak bisa dijadikan bukti pasti bahwa Allah sedang murka kepadanya.

Ada orang saleh yang hidup sederhana. Ada pula orang yang sangat kaya tetapi kehidupannya jauh dari ketaatan. Kekayaan dan kemiskinan sama-sama bisa menjadi ujian.

Orang miskin diuji dengan kesabaran dan keterbatasan. Orang kaya diuji dengan harta, kekuasaan, dan kesempatan. Yang menentukan kemuliaan seseorang bukan sekadar berapa banyak uang yang ada di rekeningnya, tetapi bagaimana ia menggunakan hidupnya untuk taat kepada Allah.

Jadi, jangan mengatakan, “Dia miskin karena tidak shalat.” Kita tidak mengetahui perkara gaib dan tidak berhak memastikan penyebab seseorang mendapatkan kondisi tertentu. Yang jelas, meninggalkan shalat adalah persoalan serius yang harus diperbaiki.

https://s.shopee.co.id/2BCiKTbPUr

Meninggalkan shalat bukan perkara kecil

Shalat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. NU Online menjelaskan bahwa kewajiban shalat lima waktu tidak gugur hanya karena seseorang berada dalam keadaan sulit. Bahkan shalat tetap menjadi kewajiban dalam berbagai kondisi selama seseorang memenuhi persyaratan.

Karena itu, seseorang tidak boleh menganggap, “Saya sedang miskin, jadi Allah pasti memaklumi kalau saya tidak shalat.”

Kalau benar-benar ada kondisi tertentu yang membuat seseorang tidak mampu melaksanakan shalat dengan cara normal, Islam memiliki berbagai ketentuan dan keringanan sesuai keadaan. Tetapi kesulitan ekonomi pada dirinya sendiri bukan alasan untuk meninggalkan shalat lima waktu.

Justru orang yang sedang kesulitan perlu mempelajari bagaimana tetap shalat sesuai kemampuan dan kondisi yang dihadapinya.

Jangan hanya berdoa minta uang

Ada hal yang juga perlu direnungkan. Kadang seseorang rajin berdoa ketika membutuhkan uang, tetapi ketika azan berkumandang justru tidak beranjak dari tempatnya.

Ia meminta pekerjaan kepada Allah, meminta dagangan laris, meminta utang lunas, meminta anak sukses, tetapi kewajiban shalat yang lima kali sehari malah ditinggalkan.

Tentu kita tidak mengatakan bahwa doa orang tersebut tidak akan dikabulkan. Allah memiliki kehendak-Nya sendiri. Tetapi seorang Muslim harus mengevaluasi hubungannya dengan Allah secara menyeluruh.

Jangan hanya mencari Allah ketika membutuhkan sesuatu. Datanglah kepada Allah juga ketika mendapatkan sesuatu.

Bekerja keras tetap harus dilakukan

Shalat bukan alasan untuk bermalas-malasan. Kalau seseorang miskin, jangan hanya berkata, “Saya sudah berdoa, Allah pasti memberi rezeki.”

Islam juga mengajarkan ikhtiar. Carilah pekerjaan yang halal. Tingkatkan kemampuan. Jangan malu melakukan pekerjaan yang baik meskipun sederhana. Jika belum mendapatkan pekerjaan, teruslah mencari sambil berdoa dan memperbaiki diri.

Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara usaha dan ibadah. Bekerja mencari nafkah adalah bagian dari ikhtiar, sementara shalat adalah kewajiban yang tidak boleh dikorbankan.

Jangan sampai seseorang bekerja dari pagi sampai malam demi mencari uang, tetapi tidak menyisihkan waktu untuk menghadap Allah.

Kalau sudah lama meninggalkan shalat, bagaimana?

Jangan merasa sudah terlalu jauh untuk kembali. Sebanyak apa pun shalat yang pernah ditinggalkan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berhenti meninggalkan shalat mulai sekarang.

Segeralah bertaubat kepada Allah, menyesali kelalaian, dan bertekad untuk menjaga shalat. Mengenai kewajiban mengqadha shalat yang sengaja ditinggalkan, terdapat pembahasan fikih yang perlu diperhatikan; dalam pandangan yang dijelaskan NU Online, shalat yang tertinggal tetap perlu ditunaikan sebagai qadha.

Jangan menunggu sampai merasa menjadi orang baik baru mau shalat. Justru shalat adalah salah satu jalan untuk memperbaiki diri.

Kalau hari ini masih sering bolong, mulai perbaiki satu per satu. Kalau Subuh sering tertinggal, perbaiki kebiasaan tidur. Kalau Zuhur dan Ashar sering terlewat karena bekerja, cari kesempatan untuk melaksanakannya. Kalau Maghrib dan Isya sering ditinggalkan karena sibuk dengan telepon atau hiburan, letakkan aktivitas tersebut ketika waktu shalat tiba.

Jangan malu kepada Allah karena hidup sedang miskin

Ada orang yang malu datang ke masjid karena bajunya sederhana. Ada yang merasa minder karena tidak memiliki kendaraan bagus. Ada pula yang merasa tidak pantas berada di antara orang-orang yang kehidupannya lebih berkecukupan.

Padahal masjid bukan tempat khusus orang kaya. Di hadapan Allah, yang membedakan manusia bukan kendaraan, pakaian, rumah, atau saldo rekening.

Kalau hidup sedang susah, jangan menjauh dari masjid. Kalau uang sedang sedikit, jangan meninggalkan shalat. Kalau pekerjaan belum ada, jangan berhenti berdoa dan berusaha.

Bisa jadi justru dalam keadaan paling sulit itulah seseorang menemukan jalan untuk menjadi lebih dekat dengan Allah.

Jangan sampai miskin harta sekaligus miskin ibadah

Kemiskinan harta memang berat, tetapi jangan sampai seseorang mengalami kemiskinan yang lebih berbahaya, yaitu miskin rasa syukur, miskin kesabaran, dan miskin hubungan dengan Allah.

Bukan berarti orang yang meninggalkan shalat otomatis menjadi manusia paling buruk. Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang. Bisa jadi ia sedang jatuh, sedang kehilangan arah, atau belum memahami agamanya dengan baik.

Karena itu, jika melihat orang miskin yang tidak shalat, jangan langsung menghina. Nasihati dengan lembut. Ajak ke masjid. Bantu kebutuhannya jika mampu. Tunjukkan bahwa agama tidak hanya berbicara tentang kewajiban, tetapi juga tentang kasih sayang dan kepedulian.

Sebab terkadang seseorang membutuhkan pertolongan terlebih dahulu sebelum mampu bangkit secara spiritual.

BACA JUGA: Kapan Waktu Terbaik untuk Melaksanakan Shalat Dhuha?

Pada akhirnya, miskin bukan alasan untuk meninggalkan shalat lima waktu. Justru ketika hidup sedang sulit, seorang Muslim perlu semakin mendekat kepada Allah, sambil tetap berusaha mencari rezeki yang halal.

Jangan menunggu kaya untuk shalat. Jangan menunggu masalah selesai untuk sujud. Jangan menunggu hidup nyaman untuk mengingat Allah.

Karena kita tidak pernah tahu, mungkin saja kehidupan yang kita anggap penuh kekurangan hari ini sebenarnya sedang menjadi jalan bagi kita untuk belajar sabar, bersyukur, dan semakin dekat kepada Allah.

Dan yang paling penting, jangan sampai kita mengejar rezeki sampai lupa kepada Sang Pemberi rezeki. Sebab harta yang banyak belum tentu membuat hidup berkah, tetapi hati yang dekat kepada Allah akan memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar banyaknya uang. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *