Suami Istri Pernah Punya Anak di Luar Nikah, Taubatnya Bagaimana?

Yudi
By Yudi
7 Min Read
Foto: Freepik

ADA pasangan suami istri yang menyimpan kisah masa lalu yang tidak mudah diceritakan kepada siapa pun. Sebelum menikah, mereka pernah terjerumus dalam hubungan yang dilarang Allah hingga lahirlah seorang anak di luar pernikahan. Setelah bertahun-tahun menjalani rumah tangga, mereka kemudian bertanya apakah masih ada kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah.

Pertanyaan tersebut memang berat, tetapi jawabannya tidak boleh membuat seseorang kehilangan harapan. Islam mengajarkan bahwa zina adalah dosa besar, namun Islam juga mengajarkan luasnya rahmat Allah bagi orang yang benar-benar bertaubat. Dalam QS. Al-Furqan ayat 68–71, Allah menyebut bahwa orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh mendapatkan kesempatan untuk memperoleh ampunan-Nya.

BACA JUGA: Apakah Zina Sebelum Menikah Pasti Bikin Hidup Sengsara?

Langkah pertama dalam taubat adalah mengakui kesalahan. Suami dan istri harus menyadari bahwa hubungan sebelum pernikahan tersebut merupakan perbuatan yang dilarang dan tidak boleh dicari-cari pembenarannya. Menikah setelah perbuatan itu tidak otomatis membuat dosa masa lalu menjadi halal, tetapi pernikahan yang kemudian dijalani dengan benar dapat menjadi bagian dari usaha memperbaiki kehidupan.

Setelah mengakui kesalahan, harus ada penyesalan yang sungguh-sungguh. Penyesalan bukan berarti seseorang harus terus-menerus membenci dirinya sendiri atau merasa tidak layak mendapatkan kebahagiaan. Penyesalan berarti menyadari bahwa dahulu telah melakukan sesuatu yang salah dan memiliki keinginan kuat untuk tidak mengulanginya.

Taubat juga harus diikuti dengan meninggalkan dosa dan segala jalan yang dapat mengantarkan kembali kepadanya. Jika dahulu zina terjadi karena pergaulan bebas, komunikasi yang tidak terjaga, atau kebiasaan berduaan dengan lawan jenis, maka kebiasaan tersebut harus dihentikan. Jangan mengatakan sudah bertaubat tetapi masih mempertahankan pintu-pintu yang sama menuju perbuatan tersebut.

Setelah itu, perbanyak amal saleh. Jaga shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, bersedekah, mencari nafkah dengan cara halal, menjaga kehormatan, serta mendidik anak dengan baik. Rumah tangga yang dahulu mungkin dimulai dengan kesalahan harus berusaha dilanjutkan dengan ketaatan dan perbaikan.

Hal yang sangat penting adalah jangan menyalahkan anak yang lahir dari hubungan tersebut. Anak tidak pernah memilih bagaimana ia dilahirkan dan tidak memiliki tanggung jawab atas dosa orang tuanya. Karena itu, jangan pernah memberikan stigma, penghinaan, atau perlakuan buruk kepada anak hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Anak tersebut tetap memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan pengasuhan yang baik. Jangan sampai rasa malu orang tua terhadap masa lalu justru membuat anak tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak berharga. Kesalahan orang tua tidak boleh dijadikan beban dosa bagi seorang anak.

Orang tua juga perlu berhati-hati dalam membicarakan masa lalu di depan anak. Tidak semua detail kesalahan masa lalu harus diceritakan kepada anak, terutama jika tidak ada kebutuhan yang jelas. Yang lebih penting adalah memberikan pendidikan agama dan akhlak agar anak tumbuh menjadi manusia yang baik dan tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya.

https://s.shopee.co.id/8Kobhzx1lq

Lalu, apakah dosa tersebut harus diceritakan kepada semua orang? Tidak perlu menjadikan dosa masa lalu sebagai konsumsi publik jika Allah telah menutup aib tersebut dan seseorang sudah benar-benar bertaubat. Tidak ada manfaatnya menceritakan dosa kepada tetangga, teman, keluarga besar, atau media sosial hanya untuk membuat orang lain mengetahui masa lalu.

Namun, jika terdapat persoalan yang menyangkut nasab, hak anak, administrasi, atau hukum tertentu, masalah tersebut harus ditangani secara jujur dan hati-hati. Untuk persoalan fikih yang sangat spesifik mengenai nasab dan hak-hak anak, sebaiknya berkonsultasi dengan ulama atau ahli fikih yang memahami masalah tersebut. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi singkat dari media sosial.

Hal lain yang perlu dipahami adalah jangan terus-menerus menghukum diri sendiri setelah bertaubat. Ada orang yang setiap hari masih mengatakan, “Saya manusia kotor,” atau “Allah pasti tidak akan mengampuni saya.” Pikiran seperti itu dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah dan kehilangan harapan.

Allah justru memerintahkan hamba-Nya agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Selama taubat dilakukan dengan sungguh-sungguh, seseorang harus berusaha percaya bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Taubat seharusnya membuat manusia semakin dekat kepada Allah, bukan membuatnya semakin tenggelam dalam keputusasaan.

Namun, jangan pula menjadikan luasnya ampunan Allah sebagai alasan untuk sengaja melakukan dosa. Tidak benar seseorang mengatakan, “Nanti saja bertaubat,” sementara ia terus mengulangi kesalahan yang sama. Taubat yang sungguh-sungguh harus disertai keinginan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki kehidupan.

Bagi pasangan yang pernah melakukan kesalahan tersebut, rumah tangga sekarang harus menjadi bukti perubahan. Suami berusaha menjadi pasangan yang lebih bertanggung jawab, sedangkan istri juga berusaha menjaga kehormatan dan ketaatan. Keduanya perlu saling mengingatkan dalam ibadah dan menjadikan keluarga sebagai tempat tumbuh dalam kebaikan.

Masa lalu memang tidak dapat diubah. Anak yang sudah lahir tidak dapat dikembalikan ke masa sebelum kelahirannya dan sejarah kehidupan tidak dapat dihapus begitu saja. Tetapi manusia masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana ia menjalani hari ini dan masa depannya.

Jangan sampai kesalahan masa lalu membuat seseorang merasa bahwa seluruh hidupnya telah hancur. Justru jadikan kesalahan tersebut sebagai pelajaran agar kehidupan berikutnya lebih dekat dengan Allah. Orang yang benar-benar bertaubat harus menunjukkan perubahan dalam perilaku, bukan hanya perubahan dalam ucapan.

BACA JUGA: Pacaran Adalah Jalan Menuju Zina, Setuju?

Jadi, bagaimana taubat suami istri yang pernah memiliki anak di luar nikah? Keduanya perlu menyesali dosa tersebut, meninggalkan segala bentuk maksiat yang berkaitan dengannya, memohon ampun kepada Allah, bertekad tidak mengulanginya, dan memperbanyak amal saleh. Pada saat yang sama, anak harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan tidak boleh dibebani kesalahan yang bukan miliknya.

Jangan terus hidup dengan kalimat, “Kami sudah terlanjur kotor.” Lebih baik katakan, “Kami pernah salah, tetapi kami ingin benar-benar kembali kepada Allah.” Masa lalu adalah pelajaran, sedangkan taubat adalah kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *