KETIKA memilih pasangan hidup, banyak orang merasa bingung antara memilih laki-laki yang pekerja keras tetapi tidak pernah shalat, atau laki-laki yang pekerjaannya biasa saja dan terlihat santai tetapi selalu menjaga shalat lima waktu. Sekilas, pilihan pertama tampak lebih menjanjikan secara ekonomi karena dia rajin bekerja dan memiliki semangat mencari nafkah. Sementara pilihan kedua mungkin dianggap kurang meyakinkan karena penghasilannya tidak sebesar laki-laki pertama. Tetapi dalam Islam, apakah ukuran suami yang baik cukup dilihat dari seberapa keras dia bekerja?
Pertanyaan ini penting karena pernikahan bukan hanya tentang bagaimana memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga tentang bagaimana membangun kehidupan bersama dalam jangka panjang. Seorang suami memang memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada keluarganya. Namun, nafkah bukan satu-satunya tanggung jawab seorang suami. Dia juga memiliki tanggung jawab agama, akhlak, kepemimpinan, pendidikan keluarga, serta kewajiban menjaga dirinya dan keluarganya dari perkara yang tidak diridai Allah.
BACA JUGA: Suami Hobi Nonton Film Haram, Bagaimana Sikap Istri?
Laki-laki yang pekerja keras tentu memiliki nilai positif. Dia tidak malas, mau berusaha, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karakter seperti ini tentu sangat penting dalam rumah tangga. Akan tetapi, jika di balik kerja keras tersebut dia meninggalkan shalat lima waktu, ada persoalan yang jauh lebih mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Shalat merupakan salah satu kewajiban paling utama dalam Islam. Shalat bukan sekadar aktivitas tambahan yang dikerjakan ketika seseorang sedang memiliki waktu luang. Seorang Muslim diwajibkan menjaga shalat lima waktu dalam keadaan apa pun selama syarat dan rukunnya terpenuhi. Karena itu, seseorang yang mampu bekerja berjam-jam setiap hari tetapi selalu mengatakan tidak punya waktu untuk shalat perlu menjadi bahan pertimbangan serius ketika hendak dijadikan pasangan hidup.
Bayangkan jika seorang perempuan menikah dengan laki-laki yang sangat sukses dalam pekerjaan tetapi tidak menjaga shalat. Pada awal pernikahan mungkin semuanya terlihat baik. Penghasilan cukup, kebutuhan rumah terpenuhi, rumah bagus, kendaraan ada, dan gaya hidup nyaman. Namun, bagaimana dengan suasana keagamaan di rumah? Bagaimana jika kelak mereka memiliki anak dan anak tersebut bertanya, “Ayah kenapa tidak shalat?”
Di sinilah pentingnya melihat pasangan bukan hanya dari apa yang mampu dia berikan secara materi, tetapi juga dari nilai apa yang akan dia bawa ke dalam rumah. Suami adalah salah satu sosok yang sangat berpengaruh terhadap suasana keluarga. Jika dia menjaga shalat, dia memiliki peluang lebih besar untuk menjadi teladan dalam urusan ibadah. Anak-anak dapat melihat langsung bagaimana ayahnya berusaha menghentikan aktivitas ketika azan berkumandang dan berdiri menghadap Allah.
Lalu bagaimana dengan laki-laki yang pekerjaannya santai tetapi tidak pernah meninggalkan shalat? Apakah berarti dia otomatis lebih baik dan pasti menjadi suami ideal? Jawabannya juga tidak sesederhana itu. Shalat adalah perkara yang sangat penting, tetapi seorang calon suami tetap harus memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah sesuai kemampuan. Jangan menjadikan ibadah sebagai alasan untuk bermalas-malasan, tidak mau bekerja, atau membebankan seluruh kebutuhan keluarga kepada istrinya.
Ada perbedaan besar antara “pekerjaan santai” dan “tidak bertanggung jawab”. Seseorang mungkin memiliki pekerjaan yang terlihat sederhana, jam kerjanya tidak panjang, dan penghasilannya tidak besar, tetapi dia tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya sesuai kemampuan. Orang seperti ini berbeda dengan laki-laki yang sengaja tidak mau bekerja keras padahal mampu, tidak memiliki tanggung jawab, dan mengharapkan istrinya menanggung semua kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, jangan terjebak pada pilihan yang terlalu hitam putih. Bukan berarti perempuan harus memilih laki-laki miskin asal rajin shalat, dan bukan pula berarti laki-laki kaya pasti buruk karena sibuk bekerja. Yang perlu dicari adalah laki-laki yang memiliki agama, akhlak, tanggung jawab, sekaligus kemauan untuk berusaha.
Jika harus membandingkan dua kondisi tersebut, maka jangan menjadikan uang sebagai satu-satunya alasan untuk memilih laki-laki yang meninggalkan shalat. Penghasilan besar tidak otomatis membuat rumah tangga menjadi berkah. Sebaliknya, penghasilan sederhana bukan berarti kehidupan rumah tangga pasti tidak bahagia. Rezeki dapat berubah, pekerjaan dapat hilang, bisnis dapat bangkrut, tetapi karakter dan komitmen seseorang terhadap agama merupakan perkara yang sangat penting untuk diperhatikan.
Namun, perlu dibedakan juga antara orang yang memang meninggalkan shalat dengan orang yang sedang berusaha memperbaiki diri. Ada laki-laki yang sebelumnya lalai, kemudian benar-benar bertaubat, mulai menjaga shalat, dan berusaha memperbaiki kehidupannya. Proses perubahan seperti ini tentu perlu dilihat secara objektif. Jangan hanya mendengar janji, tetapi lihat konsistensi perilakunya dalam waktu yang cukup.
Calon pasangan sebaiknya juga tidak hanya bertanya tentang pekerjaan dan penghasilan. Tanyakan bagaimana dia menjalankan shalat, bagaimana hubungannya dengan orang tua, bagaimana sikapnya ketika marah, bagaimana cara dia menyelesaikan masalah, bagaimana pandangannya tentang nafkah, dan bagaimana rencananya mendidik anak. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar bertanya, “Gajimu berapa?”
Sebab, rumah tangga akan menghadapi banyak keadaan. Ada masa ketika uang banyak, tetapi ada juga masa ketika penghasilan berkurang. Ada masa ketika pekerjaan lancar, tetapi ada pula masa ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Dalam keadaan seperti itu, karakter suami akan sangat terlihat. Apakah dia tetap sabar, bertanggung jawab, mau berusaha, menjaga ibadah, dan mengajak keluarganya mendekat kepada Allah?
Laki-laki yang menjaga shalat tetapi tidak mau berusaha tentu juga perlu diperbaiki. Shalat seharusnya tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha mencari rezeki yang halal. Karena itu, calon suami ideal bukan sekadar orang yang rajin ke masjid, tetapi juga orang yang mau bekerja, bertanggung jawab, jujur, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.
Begitu pula laki-laki yang pekerja keras tetapi belum menjaga shalat seharusnya tidak langsung dianggap tidak memiliki harapan. Jika dia menyadari kesalahannya dan sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, itu adalah perkara yang patut diperhatikan. Tetapi calon istri jangan menikah dengan harapan, “Nanti setelah menikah pasti saya bisa mengubahnya.” Perubahan seseorang harus berasal dari kesadaran dirinya sendiri, bukan sekadar karena tekanan pasangan.
Pada akhirnya, memilih suami bukan seperti memilih antara gaji besar dan gaji kecil. Ini adalah memilih seseorang yang kelak akan menjadi pasangan dalam menjalani kehidupan, ayah bagi anak-anak, dan orang yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Karena itu, agama, akhlak, tanggung jawab, kemampuan mencari nafkah, dan kesungguhan memperbaiki diri semuanya perlu diperhatikan.
Kalau ada laki-laki yang rajin bekerja sekaligus menjaga shalat, tentu itulah pilihan yang jauh lebih ideal. Jangan merasa harus memilih antara “pekerja keras” dan “ahli ibadah” seolah-olah keduanya tidak mungkin ada dalam satu diri. Carilah laki-laki yang mau bekerja keras tanpa meninggalkan kewajibannya kepada Allah, karena keluarga membutuhkan nafkah, tetapi keluarga juga membutuhkan teladan agama.
BACA JUGA: Suami Istri Tak Lagi Jima Padahal Usia Masih 40 Tahun, Bagaimana?
Jadi, kalau harus memilih antara laki-laki yang sangat sukses secara materi tetapi meninggalkan shalat, dan laki-laki yang penghasilannya sederhana namun menjaga shalat serta tetap bertanggung jawab mencari nafkah, jangan hanya melihat jumlah uang yang dibawa pulang. Lihat siapa yang lebih memiliki dasar agama, akhlak, tanggung jawab, dan kesungguhan membangun keluarga. Sebab, tujuan pernikahan bukan hanya memiliki rumah yang besar dan rekening yang banyak, tetapi membangun rumah tangga yang memiliki ketenangan, tanggung jawab, dan keberkahan.
Menurut Anda, kalau harus memilih, lebih penting mana: suami yang penghasilannya besar tetapi tidak menjaga shalat, atau suami yang penghasilannya sederhana tetapi selalu menjaga shalat? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

