DI zaman sekarang, hampir setiap aktivitas bisa dibagikan melalui media sosial.
Momen bahagia.
Perjalanan.
Pencapaian.
Bahkan kegiatan berbagi kepada orang lain.
Tidak sedikit orang yang mengunggah kegiatan sedekahnya.
Ada yang membagikan foto ketika memberi bantuan.
Ada yang membuat video berbagi makanan.
Ada yang menunjukkan kegiatan sosial bersama orang lain.
Lalu muncul sebuah pertanyaan.
Apakah mengunggah sedekah ke media sosial diperbolehkan?
Apakah hal tersebut termasuk riya?
Atau justru bisa menjadi cara untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan melihat tindakannya.
Tetapi juga perlu melihat niat di baliknya.
BACA JUGA: Apa Beda Infak dan Sedekah?
Antara Pamer dan Menginspirasi
Dalam Islam, niat memiliki kedudukan yang sangat penting.
Sebuah amal bisa bernilai berbeda tergantung tujuan seseorang melakukannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang mengunggah sedekah karena ingin mendapatkan pujian tentu berbeda dengan seseorang yang membagikannya untuk mengajak orang lain berbuat baik.
Media sosial hanyalah sebuah alat.
Nilai dari penggunaan alat tersebut bergantung pada tujuan penggunanya.
Seperti pisau.
Pisau bisa digunakan untuk memasak makanan.
Tetapi juga bisa digunakan untuk menyakiti.
Begitu pula media sosial.
Ia dapat menjadi jalan kebaikan, tetapi juga dapat menjadi tempat mencari pengakuan.
Sedekah yang Tersembunyi dan Sedekah yang Terlihat
Dalam Islam, sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memiliki keutamaan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa jika sedekah diberikan secara terang-terangan, itu adalah hal yang baik. Namun, jika diberikan secara sembunyi-sembunyi dan diberikan kepada orang yang membutuhkan, hal tersebut juga memiliki keutamaan. (QS. Al-Baqarah: 271)
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang terlihat maupun yang tersembunyi memiliki tempatnya masing-masing.
Tidak semua yang terlihat berarti salah.
Dan tidak semua yang tersembunyi berarti lebih baik.
Yang paling penting adalah menjaga hati dari keinginan untuk dipuji.
Ketika Unggahan Menjadi Jalan Kebaikan
Di sisi lain, mengunggah sedekah juga dapat memberikan manfaat.
Sebuah unggahan bisa menginspirasi orang lain.
Seseorang yang melihatnya mungkin terdorong untuk ikut membantu.
Sebuah gerakan sosial bisa menjadi lebih luas karena adanya media digital.
Dalam hal ini, berbagi kebaikan dapat menjadi bentuk dakwah.
Namun, tetap ada batas yang perlu diperhatikan.
Jangan sampai kebaikan seseorang justru membuat penerima sedekah merasa malu.
Jangan sampai orang yang dibantu kehilangan kehormatannya karena fotonya tersebar tanpa pertimbangan.
Kebaikan juga membutuhkan adab.
Memikirkan Perasaan Orang yang Dibantu
Kadang seseorang terlalu fokus pada niat ingin berbagi, tetapi lupa melihat perasaan orang yang menerima bantuan.
Bagi sebagian orang, menerima sedekah bukan hal yang mudah.
Ada rasa malu.
Ada rasa tidak nyaman.
Ada perasaan ingin tetap menjaga harga diri.
Karena itu, membantu orang lain tidak hanya membutuhkan keikhlasan.
Tetapi juga membutuhkan empati.
Memberi bukan berarti membuat orang lain merasa rendah.
Memberi adalah bentuk kepedulian.

Belajar Ikhlas di Tengah Dunia yang Suka Dilihat
Media sosial membuat banyak hal mudah terlihat.
Termasuk kebaikan.
Namun, seorang Muslim tetap perlu menjaga hati.
Karena tujuan utama sedekah bukan mendapatkan komentar atau jumlah suka.
Tujuan utama sedekah adalah mencari ridha Allah.
Para ulama mengingatkan bahwa seseorang harus berhati-hati terhadap penyakit hati seperti riya, yaitu melakukan sesuatu agar mendapatkan pujian manusia.
Sebab terkadang manusia lebih sibuk menunjukkan kebaikan kepada orang lain daripada memperbaiki hubungan dengan Allah.
BACA JUGA: Kenapa Harus Sedekah Shubuh?
Penutup: Boleh Dilakukan, Tetapi Jaga Niat
Mengunggah sedekah ke media sosial pada dasarnya bukan tentang boleh atau tidak boleh saja.
Yang lebih penting adalah alasan di baliknya.
Jika unggahan tersebut bertujuan menginspirasi, mengajak kebaikan, dan tetap menjaga kehormatan penerima bantuan, maka hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Namun, jika tujuan utamanya hanya mencari pujian, maka kebaikan itu perlu diperiksa kembali.
Karena sedekah bukan tentang siapa yang melihat.
Tetapi tentang siapa yang menjadi tujuan.
Dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan yang tetap bernilai, baik ketika diketahui manusia maupun ketika hanya Allah yang mengetahuinya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

