Amalan Apa yang Membuat Seorang Muslim Masuk Surga, Tapi Bukan Tahajud?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK orang mengira bahwa jalan menuju surga harus selalu ditandai dengan amalan-amalan sunnah yang berat. Tahajud, puasa sunnah, membaca Al-Qur’an berlembar-lembar, bersedekah dalam jumlah besar, dan berbagai ibadah lainnya memang memiliki keutamaan yang luar biasa. Tetapi, kisah para sahabat Nabi SAW menunjukkan bahwa ada amalan yang terlihat sederhana, bahkan sering diremehkan, tetapi ternyata sangat tinggi nilainya di sisi Allah.

Salah satu kisah yang menarik terdapat dalam riwayat tentang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Nabi Muhammad SAW pernah memberi kabar bahwa seorang lelaki yang akan datang adalah termasuk penghuni surga. Para sahabat tentu penasaran, karena mereka ingin mengetahui amalan luar biasa apa yang dilakukan orang tersebut sehingga mendapatkan kabar menggembirakan dari Rasulullah SAW.

BACA JUGA: Meraih Surga Saat Menghadapi Suami yang Marah

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash kemudian mengikuti lelaki tersebut selama beberapa hari untuk mengetahui apa yang diamalkannya. Ia bahkan meminta izin untuk tinggal bersamanya karena mengatakan sedang berselisih dengan ayahnya. Namun, setelah memperhatikan selama beberapa malam, Abdullah tidak melihat lelaki itu melakukan ibadah malam yang luar biasa. Ia tidak melihatnya melakukan tahajud sepanjang malam atau melakukan amalan sunnah yang tampak sangat berat.

Karena penasaran, Abdullah akhirnya mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia mengikuti lelaki tersebut. Ia mengatakan bahwa dirinya ingin mengetahui amalan yang membuat lelaki itu mendapatkan kabar sebagai penghuni surga. Lelaki tersebut kemudian menjelaskan bahwa ia tidak memiliki amalan yang luar biasa seperti yang dibayangkan Abdullah.

Namun, ada satu hal yang sangat penting. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak menyimpan kebencian atau kedengkian terhadap seorang Muslim dan tidak merasa iri terhadap kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain. Kisah ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan sejumlah kitab hadis dengan pembahasan tentang keutamaan membersihkan hati.

Pelajaran besar dari kisah tersebut adalah bahwa kualitas hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Seseorang mungkin tidak dikenal sebagai ahli ibadah malam, tetapi ia menjaga hatinya dari dengki, kebencian, dendam, dan keinginan buruk kepada sesama Muslim. Amalan seperti ini memang tidak selalu terlihat oleh manusia, tetapi Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.

Bayangkan ada seseorang yang setiap hari melihat temannya mendapatkan rezeki lebih banyak. Jika hatinya dipenuhi iri, ia mungkin merasa tidak senang dan berharap kenikmatan tersebut hilang. Sebaliknya, seorang Muslim yang berusaha membersihkan hatinya akan mengatakan, “Semoga Allah memberkahinya dan memberikan aku rezeki yang baik.” Ia tidak perlu kehilangan nikmat orang lain untuk merasa bahagia.

Inilah salah satu amalan yang sangat sulit dilakukan. Menahan lapar ketika puasa mungkin terasa berat, tetapi membersihkan hati dari iri kepada orang lain juga membutuhkan perjuangan. Mengangkat tangan untuk bersedekah mungkin mudah dilakukan, tetapi mendoakan kebaikan bagi orang yang pernah membuat kita sakit hati jauh lebih berat.

Karena itu, jangan hanya mengevaluasi ibadah dari apa yang terlihat. Bisa jadi seseorang rajin menghadiri majelis ilmu, banyak membaca Al-Qur’an, dan sering melakukan ibadah sunnah, tetapi masih menyimpan kebencian kepada saudaranya. Sebaliknya, ada orang yang ibadah sunnahnya tidak sebanyak kita lihat, tetapi hatinya lembut, mudah memaafkan, tidak iri, dan tidak senang melihat orang lain mendapatkan kesusahan.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Bukan berarti tahajud tidak penting. Sama sekali bukan demikian. Tahajud adalah ibadah yang sangat mulia dan memiliki keutamaan besar. Namun, kisah sahabat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh hanya mengejar amalan yang tampak hebat secara lahiriah, sementara penyakit hati dibiarkan tumbuh di dalam dirinya.

Ada beberapa penyakit hati yang perlu diperhatikan, seperti hasad, dendam, sombong, meremehkan orang lain, senang melihat orang lain gagal, dan tidak suka ketika orang lain mendapatkan keberhasilan. Penyakit seperti ini bisa merusak hubungan antarmanusia sekaligus mengurangi kualitas amal seseorang.

Memaafkan juga merupakan amalan yang sangat mulia. Ketika seseorang disakiti, tentu sangat manusiawi jika muncul rasa marah. Namun, seorang Muslim diajarkan untuk tidak membiarkan kemarahan berubah menjadi dendam yang terus dipelihara. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi melepaskan diri dari keinginan untuk terus menyimpan kebencian.

Selain itu, jangan suka membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kita sering melihat seseorang membeli rumah, mendapatkan pekerjaan bagus, memiliki pasangan yang baik, mempunyai anak yang sukses, atau memperoleh rezeki berlimpah. Jika hati tidak dijaga, semua itu bisa berubah menjadi sumber iri hati.

Padahal, rezeki setiap manusia sudah Allah atur dengan hikmah-Nya. Ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, biasakan mengucapkan doa keberkahan. Daripada sibuk bertanya, “Kenapa dia dapat, sedangkan saya tidak?” lebih baik bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar Allah ridha dengan hidup saya?”

Kisah tersebut juga mengajarkan pentingnya tidak meremehkan amalan yang tidak terlihat. Ada orang yang mungkin tidak banyak berbicara tentang ibadahnya, tetapi setiap malam ia berusaha memaafkan orang lain. Ada yang tidak dikenal sebagai ahli tahajud, tetapi ia tidak pernah tega melihat orang lain kesusahan. Ada pula yang sederhana dalam ibadah sunnahnya, tetapi selalu berusaha menjaga lisannya dan hatinya dari keburukan terhadap sesama.

Tentu kita tidak boleh menyimpulkan bahwa seseorang pasti masuk surga hanya karena memiliki satu amalan tertentu. Masuk surga adalah karunia Allah, dan seorang Muslim tetap wajib menjalankan kewajiban agama serta menjauhi larangan-Nya. Kisah para sahabat tersebut justru menjadi pelajaran agar kita tidak menganggap remeh amalan hati yang sering tidak mendapatkan perhatian.

Maka, jika selama ini kita sibuk mengejar banyaknya ibadah sunnah, jangan lupa mengejar kebersihan hati. Coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah kita masih iri ketika melihat teman berhasil? Apakah kita masih senang ketika orang yang kita tidak sukai mengalami kegagalan? Apakah kita masih menyimpan dendam bertahun-tahun? Apakah kita sulit memaafkan kesalahan orang lain?

BACA JUGA: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?

Bisa jadi tantangan terbesar kita bukan menambah jumlah ibadah, tetapi memperbaiki hati. Sebab hati yang bersih akan mendorong seseorang berbuat baik kepada orang lain, mudah memaafkan, tidak iri, senang melihat saudaranya mendapatkan kebaikan, dan selalu berusaha menjaga hubungan sesama Muslim.

Jadi, jangan hanya mengejar amalan yang membuat kita terlihat saleh di mata manusia, tetapi kejarlah amalan yang membuat hati kita bersih di hadapan Allah. Tahajud sangat mulia, tetapi kisah sahabat Nabi SAW mengingatkan kita bahwa menjaga hati dari dengki dan kebencian juga bukan perkara kecil. Bisa jadi amalan yang tidak pernah kita pamerkan justru menjadi salah satu sebab datangnya rahmat Allah kepada kita.

Pertanyaannya sekarang: kalau tidak ada seorang pun yang mengetahui ibadah kita, apakah hati kita tetap mau berbuat baik? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *