Bolehkah Gunakan Pinjol dalam Kondisi Terdesak?

Salma Fathuraini
5 Min Read
Foto: Freepik

DALAM kehidupan, terkadang seseorang berada dalam kondisi sulit.

Ada kebutuhan mendadak.

Ada biaya pengobatan.

Ada keperluan keluarga.

Ada usaha yang membutuhkan tambahan modal.

Saat keadaan terdesak, seseorang sering mencari jalan tercepat untuk mendapatkan uang.

Salah satu pilihan yang banyak muncul saat ini adalah pinjaman online atau yang sering disebut pinjol.

Prosesnya mudah.

Tidak perlu datang ke tempat tertentu.

Cukup melalui aplikasi, uang dapat masuk dalam waktu singkat.

Namun, muncul sebuah pertanyaan.

Apakah menggunakan pinjaman online dalam kondisi terdesak adalah pilihan yang tepat?

Atau justru dapat membawa masalah baru?

BACA JUGA: Fenomena Utang Pinjol untuk Main Judol: Lingkaran Setan yang Menghancurkan

Kemudahan yang Tidak Selalu Berarti Kebaikan

Perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan.

Termasuk dalam bidang keuangan.

Namun, sesuatu yang mudah didapat tidak selalu berarti aman.

Banyak orang tergoda mengambil pinjaman karena prosesnya cepat.

Tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar.

Tanpa memahami seluruh aturan yang ada.

Akhirnya, masalah yang awalnya ingin diselesaikan justru bertambah besar.

https://s.shopee.co.id/2LW7k00t4k

Utang yang seharusnya menjadi solusi berubah menjadi beban.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, seseorang perlu berpikir panjang.

Bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan uang.

Tetapi juga bagaimana mengembalikannya.

Utang Dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, utang bukan sesuatu yang dilarang.

Bahkan memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan termasuk perbuatan baik.

Utang dapat menjadi bentuk tolong-menolong.

Namun, Islam memberikan aturan agar utang tidak menjadi jalan untuk merugikan salah satu pihak.

Allah SWT berfirman:

“Dan jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi orang yang sedang mengalami kesulitan.

Utang harus dibangun dengan prinsip keadilan dan kebaikan.

Bukan mengambil keuntungan dengan cara yang memberatkan.

Masalah Pinjaman Online dalam Perspektif Syariat

Dalam beberapa kasus, pinjaman online menjadi masalah karena adanya tambahan pembayaran yang bersifat bunga atau riba.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa pinjaman yang mengandung unsur riba dan praktik yang merugikan pihak peminjam tidak sesuai dengan prinsip syariat. MUI juga menyoroti praktik penagihan yang menggunakan ancaman atau membuka aib peminjam sebagai tindakan yang tidak dibenarkan.

Dalam Islam, riba termasuk perkara yang dilarang karena dapat menimbulkan ketidakadilan.

Utang seharusnya membantu seseorang keluar dari kesulitan.

Bukan membuat seseorang semakin terjebak.

Ketika Terdesak, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Kondisi terdesak memang tidak mudah.

Namun, mengambil keputusan saat sedang panik dapat membuat seseorang kurang berpikir jernih.

Sebelum memilih pinjaman online, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

gaji, kredit, rupiah, dolar, masyarakat desa, bank, riba, gaji, Pinjol
Foto: Freepik

Pertama, apakah kebutuhan tersebut benar-benar mendesak?

Kedua, apakah ada pilihan lain yang lebih aman?

Ketiga, apakah kita mampu membayar kembali?

Berbicara dengan keluarga.

Meminta bantuan orang terpercaya.

Mencari solusi lain.

Terkadang menjadi langkah yang lebih baik daripada langsung mengambil utang.

Utang Juga Membutuhkan Tanggung Jawab

Jika seseorang sudah memiliki utang, maka tanggung jawab untuk membayar tetap harus dijaga.

Rasulullah SAW sangat memperhatikan persoalan utang.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa urusan utang adalah perkara yang serius.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang Muslim perlu berhati-hati dalam mengambil tanggungan.

Jangan sampai seseorang terbiasa mengambil utang hanya karena ingin memenuhi keinginan sesaat.

Utang bukan sekadar masalah uang.

Tetapi juga berkaitan dengan amanah.

Belajar Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu penyebab seseorang mudah terjebak utang adalah sulit membedakan kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan adalah sesuatu yang memang diperlukan.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang ingin dimiliki meskipun belum tentu dibutuhkan.

Membeli kebutuhan pokok tentu berbeda dengan berutang demi mengikuti gaya hidup.

Karena itu, mengatur keuangan juga menjadi bagian dari menjaga diri.

BACA JUGA: Kenapa Pemain Judol Malah Makin Miskin?

Penutup: Bijak Sebelum Memilih Jalan

Pinjaman online bukan sekadar tentang mendapatkan uang dengan cepat.

Ada tanggung jawab yang harus dipikirkan.

Dalam kondisi tertentu, seseorang memang membutuhkan bantuan keuangan.

Namun, setiap keputusan harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Jangan sampai solusi sementara berubah menjadi masalah yang panjang.

Islam mengajarkan manusia untuk saling membantu.

Tetapi juga mengajarkan kehati-hatian dalam bermuamalah.

Sebab rezeki bukan hanya tentang jumlah yang diperoleh.

Tetapi juga tentang keberkahan dari cara mendapatkannya. []

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *