DULU, perkara ranjang adalah sesuatu yang sangat pribadi. Bahkan antara suami dan istri pun ada hal-hal yang hanya boleh diketahui oleh keduanya. Namun, di era media sosial, pembicaraan mengenai kehidupan seksual rumah tangga semakin mudah ditemukan di ruang publik. Tidak sedikit perempuan yang menceritakan persoalan ranjang, pengalaman pribadi, kekurangan suami, bahkan hal-hal yang seharusnya menjadi rahasia keluarga kepada ribuan orang yang tidak mereka kenal.
Pertanyaannya, kenapa bisa terjadi? Apakah karena rasa malu mulai berkurang? Apakah karena media sosial membuat orang merasa bebas berbicara tentang apa saja? Atau karena sebagian orang tidak lagi memahami bahwa hubungan suami istri juga memiliki batasan privasi yang harus dijaga?
BACA JUGA: Bolehkah Suami Membicarakan Soal Urusan Ranjang kepada Teman?
Dalam Islam, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan rasa malu, tetapi juga amanah. Suami dan istri saling mengetahui sesuatu yang sangat pribadi tentang pasangannya. Ketika rahasia tersebut kemudian dibawa keluar rumah dan disampaikan kepada orang lain, apalagi kepada publik di media sosial, maka persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras tentang hal tersebut. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menyebut orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami istri sebagai salah satu manusia yang memiliki kedudukan buruk di sisi Allah pada hari kiamat. Larangan tersebut berlaku bukan hanya bagi suami, tetapi juga bagi istri.
Artinya, bukan hanya laki-laki yang dilarang membuka rahasia ranjang; perempuan juga memiliki kewajiban yang sama untuk menjaganya. Jadi, persoalannya bukan “kenapa muslimah tidak malu?”, melainkan mengapa ada sebagian Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, yang menganggap rahasia rumah tangga sebagai sesuatu yang pantas dijadikan konsumsi publik.
Salah satu penyebabnya mungkin adalah perubahan budaya komunikasi. Media sosial membuat seseorang terbiasa menceritakan kehidupan pribadi kepada orang lain. Makan apa dibagikan, pergi ke mana dibagikan, sedang marah kepada siapa dibagikan, bahkan persoalan rumah tangga pun terkadang ikut dipublikasikan. Ketika kebiasaan membuka kehidupan pribadi semakin normal, batas antara sesuatu yang pantas diketahui publik dan sesuatu yang seharusnya disimpan sendiri menjadi semakin tipis.
Ada pula orang yang membuka perkara ranjang karena ingin mendapatkan perhatian. Cerita yang sensitif biasanya lebih mudah mengundang komentar, dibagikan, dan mendapatkan respons. Akhirnya muncul godaan untuk menceritakan sesuatu yang sebenarnya sangat pribadi hanya karena ingin mendapatkan banyak penonton.
Masalahnya, banyak komentar bukan berarti sebuah cerita layak untuk diceritakan. Sesuatu yang membuat sebuah unggahan viral belum tentu membuatnya menjadi baik. Bahkan semakin banyak orang yang mengetahui rahasia tersebut, semakin besar pula kerugian yang mungkin dialami pasangan.
Bayangkan seorang istri menceritakan kelemahan suaminya di hadapan ribuan pengikut. Mungkin saat mengunggahnya ia sedang marah dan merasa lega karena mendapatkan dukungan. Tetapi setelah emosinya reda, informasi tersebut sudah terlanjur tersebar. Orang-orang yang membaca mungkin tidak mengenal suaminya, tetapi mereka telah mengetahui sesuatu yang sebenarnya hanya menjadi hak privasi pasangan tersebut.
Lebih buruk lagi jika cerita tersebut mengandung penghinaan terhadap pasangan. Suami yang dianggap kurang mampu, memiliki kekurangan fisik, memiliki masalah kesehatan seksual, atau memiliki persoalan pribadi lainnya bisa menjadi bahan candaan publik. Padahal, pasangan yang sedang memiliki kekurangan seharusnya mendapatkan perlindungan dan dukungan, bukan dipermalukan di hadapan orang banyak.
Islam mengajarkan suami dan istri untuk saling menjaga kehormatan. Hubungan pernikahan bukan hanya tentang mendapatkan hak, tetapi juga menjaga amanah pasangan. Ketika seseorang mengetahui sisi paling pribadi dari pasangannya, seharusnya pengetahuan itu membuatnya semakin berhati-hati, bukan semakin bebas bercerita.
Namun, apakah berarti semua persoalan rumah tangga tidak boleh diceritakan kepada siapa pun? Tidak selalu demikian. Ada keadaan ketika seseorang memang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah yang serius. Misalnya, persoalan kekerasan dalam rumah tangga, masalah kesehatan, konflik berat, atau persoalan hukum dan agama yang membutuhkan penjelasan.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat mencari bantuan dari orang yang memang kompeten dan dipercaya, dengan menyampaikan informasi sebatas yang diperlukan. Sejumlah penjelasan ulama membedakan antara membuka rahasia untuk kebutuhan yang memiliki maslahat dan menceritakannya sekadar untuk hiburan, kebanggaan, lelucon, atau mencari perhatian.
Jadi, seorang istri yang memiliki masalah serius dengan suaminya tidak harus memendam semuanya sendirian. Ia boleh mencari nasihat dari orang yang amanah, seperti orang tua yang bijaksana, konselor, dokter, ustaz yang kompeten, atau pihak berwenang jika diperlukan. Yang harus dihindari adalah mengubah masalah pribadi menjadi tontonan publik tanpa kebutuhan yang dibenarkan.
Ada perbedaan besar antara meminta pertolongan dan membuka aib. Jika seorang istri berkata kepada konselor, “Saya mengalami masalah dalam hubungan dengan suami dan membutuhkan bantuan,” itu berbeda dengan membuat unggahan yang menceritakan detail kehidupan ranjang agar mendapatkan komentar dari netizen.
Demikian pula ketika seseorang ingin bertanya tentang hukum Islam. Tidak perlu menceritakan detail yang tidak diperlukan. Cukup sampaikan persoalannya dengan bahasa yang sopan dan sebatas informasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan jawaban. Para ulama juga menjelaskan adanya pengecualian ketika pembicaraan mengenai persoalan ranjang memang dibutuhkan untuk menjelaskan hukum atau menyelesaikan masalah.
Karena itu, sebelum menekan tombol “posting”, seorang Muslimah sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah informasi ini memang perlu diketahui orang lain? Apakah suami saya rela rahasianya diketahui publik? Apakah unggahan ini menyelesaikan masalah atau justru mempermalukan pasangan? Apakah saya akan tetap berani mengunggahnya jika suami dan keluarga saya duduk di samping saya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bisa menjadi rem sebelum seseorang membagikan sesuatu yang seharusnya tidak dibagikan.
Menariknya, menjaga rahasia pasangan sebenarnya bukan berarti menjadi orang yang tertutup. Justru itu merupakan bentuk kasih sayang. Ketika suami sedang memiliki kelemahan, istri menutupinya. Ketika istri memiliki kekurangan, suami melindunginya. Keduanya tidak saling menjadikan kelemahan pasangan sebagai bahan untuk mendapatkan popularitas.
Media sosial memang memberikan ruang yang luas untuk berbicara, tetapi tidak semua yang boleh dibicarakan berarti pantas dipublikasikan. Ada cerita yang cukup disampaikan kepada dokter. Ada masalah yang cukup dibicarakan dengan pasangan. Ada persoalan yang perlu dibawa kepada ulama atau konselor. Dan ada rahasia yang memang sebaiknya tetap terkunci di antara suami dan istri.
Pada akhirnya, rasa malu dalam Islam bukan berarti seseorang tidak boleh berbicara tentang persoalan keluarga sama sekali. Rasa malu berarti mengetahui batas. Mengetahui kapan harus berbicara, kepada siapa berbicara, dan seberapa banyak informasi yang boleh disampaikan.
BACA JUGA: 8 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Suami kepada Istri di Ranjang
Maka, kalau ada Muslimah yang terbiasa membicarakan perkara ranjang di media sosial, sebaiknya bukan sekadar ditanya, “Kenapa tidak malu?” tetapi juga diingatkan bahwa ada kehormatan pasangan yang sedang dipertaruhkan. Jangan sampai demi beberapa komentar, tawa, atau popularitas sesaat, sebuah amanah rumah tangga justru berubah menjadi konsumsi ribuan orang.
Sebab ketika sebuah rahasia sudah keluar ke internet, kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana rahasia itu akan pergi.
Yang terjadi di dalam rumah tangga tidak semuanya harus menjadi cerita di media sosial. Ada hal-hal yang justru menjadi indah karena hanya diketahui oleh dua orang: suami dan istri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

