Bolehkah Membalas Perlakuan Buruk dengan Perlakuan Buruk Juga?

Salma Fathuraini
5 Min Read
Foto: Freepik

DALAM kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan.

Ada yang pernah dihina.

Ada yang dikecewakan.

Ada yang diperlakukan tidak adil.

Bahkan terkadang, orang yang menyakiti kita justru berasal dari lingkungan terdekat.

Ketika hal itu terjadi, reaksi pertama manusia biasanya adalah ingin membalas.

“Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan melakukan hal yang sama.”

“Biar dia tahu rasanya.”

Perasaan seperti itu sebenarnya manusiawi.

Ketika seseorang terluka, hati ingin mencari keadilan.

Namun, pertanyaannya adalah, apakah membalas perlakuan buruk dengan perlakuan yang sama selalu menjadi pilihan yang benar?

BACA JUGA:  Bagaimana Cara Bersikap Baik kepada Orang yang Jahat kepada Kita?

Antara Membela Diri dan Membalas Dendam

Dalam kehidupan, ada perbedaan antara membela diri dan membalas dendam.

Membela diri dilakukan untuk melindungi diri dari sesuatu yang merugikan.

Sedangkan membalas dendam biasanya muncul karena keinginan membuat orang lain merasakan sakit yang sama.

Manusia sering kali sulit membedakan keduanya karena emosi sedang menguasai pikiran.

Menurut psikologi, ketika seseorang merasa disakiti, otak dapat memunculkan respons alami berupa marah atau keinginan melakukan perlawanan.

Perasaan marah bukan sesuatu yang salah.

Namun, bagaimana seseorang mengendalikan kemarahan tersebut menjadi hal yang penting.

Sebab tindakan yang dilakukan saat emosi sering kali membawa penyesalan di kemudian hari.

https://s.shopee.co.id/4fvJLSSCoq

Islam Mengajarkan Keadilan, Tetapi Juga Mengajarkan Maaf

Dalam Islam, seseorang tidak diperintahkan untuk menerima kezaliman begitu saja.

Ada hak untuk mendapatkan keadilan.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa memaafkan memiliki kedudukan yang mulia.

Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Ayat ini mengajarkan bahwa membalas keburukan dengan cara yang lebih baik adalah akhlak yang tinggi.

Rasulullah ﷺ juga dikenal sebagai pribadi yang tidak membalas keburukan dengan keburukan. Beliau tidak dikenal sebagai orang yang suka mencaci atau berkata kasar kepada orang lain.

Kekuatan Sebenarnya Ada pada Mengendalikan Diri

Banyak orang menganggap kuat adalah ketika mampu membalas.

Padahal, dalam Islam, kekuatan terbesar seseorang adalah ketika mampu mengendalikan dirinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukan selalu tentang mengalahkan orang lain.

Kadang kemenangan terbesar adalah ketika seseorang mampu mengalahkan emosinya sendiri.

Karena tidak semua perkataan harus dibalas.

Tidak semua perlakuan buruk harus dijawab dengan cara yang sama.

Apakah Berarti Kita Harus Diam Saja?

Memaafkan bukan berarti membiarkan diri terus disakiti.

Ada kondisi ketika seseorang perlu memberikan batasan.

Jika sebuah hubungan terus membawa kerusakan, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang bijak.

Islam mengajarkan keseimbangan.

Tidak membalas dengan kejahatan.

Tetapi juga tidak membiarkan diri terus berada dalam keadaan yang merugikan.

Kebijaksanaan diperlukan agar seseorang mampu memilih tindakan yang tepat.

Takziyah, Amal Paling Berat, Teman
Foto: Freepik

Belajar Melihat Dampak dari Sebuah Balasan

Ketika seseorang membalas keburukan dengan keburukan, sering kali masalah tidak selesai.

Justru muncul masalah baru.

Satu perkataan kasar dibalas dengan perkataan yang lebih kasar.

Satu kesalahan dibalas dengan kesalahan lainnya.

Akhirnya, permusuhan semakin panjang.

Seperti api yang disiram dengan minyak.

Bukannya padam, tetapi semakin besar.

Karena itu, memilih untuk menahan diri bukan berarti kalah.

Terkadang itu adalah bentuk kedewasaan.

BACA JUGA:  Bolehkah Mendoakan Keburukan kepada Orang yang Zalim?

Penutup: Menjadi Lebih Baik dari Perlakuan yang Kita Terima

Setiap orang memiliki pilihan ketika disakiti.

Kita bisa membalas dengan cara yang sama.

Atau kita bisa memilih cara yang lebih baik.

Membalas perlakuan buruk memang terkadang terasa memuaskan sesaat.

Namun, memaafkan dan mengendalikan diri sering kali memberikan ketenangan yang lebih panjang.

Sebab manusia tidak selalu bisa mengatur bagaimana orang lain memperlakukannya.

Tetapi manusia selalu bisa memilih bagaimana ia akan bersikap.

Dan terkadang, kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membalas.

Melainkan ketika kita berhasil tetap menjadi orang baik meskipun pernah disakiti. []

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *