SHALAT adalah ibadah yang paling agung setelah syahadat. Ia bukan sekadar rutinitas yang dilakukan lima kali sehari, tetapi perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Karena itu, shalat tidak cukup hanya dikerjakan. Ia juga harus dilakukan dengan benar, sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Sayangnya, ada berbagai kesalahan dalam shalat yang sering dilakukan, baik karena ketidaktahuan, kebiasaan, maupun karena menganggapnya sebagai perkara kecil.
Berikut beberapa di antaranya.
1. Tidak Menyempurnakan Wudhu
Kesalahan dalam shalat terkadang bermula bahkan sebelum seseorang berdiri menghadap kiblat.
Wudhu merupakan salah satu syarat sah shalat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim)
Karena itu, seorang Muslim perlu memastikan wudhunya dilakukan dengan benar, termasuk membasuh anggota wudhu secara sempurna.
Jangan sampai ada bagian yang seharusnya terkena air tetapi terlewat karena terburu-buru.
BACA JUGA: Mana Lebih Utama: Shalat Tahajud atau Membantu Orang yang Kesusahan?
2. Shalat Terlalu Cepat
Ini merupakan kesalahan yang sangat sering terjadi.
Seseorang berdiri, membaca takbir, kemudian rukuk, sujud, dan bangkit dengan gerakan yang begitu cepat seolah-olah sedang mengejar sesuatu.
Padahal, tuma’ninah merupakan bagian penting dalam shalat.
Rasulullah ﷺ pernah melihat seseorang shalat dengan tergesa-gesa. Beliau kemudian memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seseorang melakukan rukuk hingga benar-benar tuma’ninah, kemudian bangkit hingga berdiri tegak, lalu sujud hingga tuma’ninah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat bukan perlombaan.
Yang dicari bukan sekadar selesai, tetapi ketundukan.
3. Tidak Tuma’ninah dalam Rukuk dan Sujud
Sebagian orang menganggap rukuk dan sujud cukup dilakukan dengan sekadar menundukkan badan dan menyentuhkan dahi ke tempat sujud.
Padahal, setiap gerakan shalat memiliki ketenangan.
Ketika rukuk, seseorang hendaknya benar-benar berada dalam posisi rukuk dengan tenang.
Ketika bangkit dari rukuk, ia juga tidak langsung turun sujud sebelum berdiri dengan sempurna.
Demikian pula ketika sujud.
Jangan sampai tubuh belum benar-benar tenang, tetapi sudah berpindah ke gerakan berikutnya.
4. Membaca Al-Fatihah dengan Tidak Benar
Al-Fatihah merupakan bacaan yang sangat penting dalam shalat.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya memperhatikan makhraj dan bacaan ayat-ayatnya.
Kesalahan dalam pengucapan huruf atau kata, terutama jika sampai mengubah makna, tidak boleh dianggap remeh.
Belajarlah membaca Al-Fatihah dengan benar.
Tidak perlu malu belajar meskipun sudah berusia tua.
Sebab, memperbaiki bacaan shalat adalah bagian dari usaha memperbaiki ibadah kepada Allah.
5. Tidak Menjaga Posisi Tubuh Saat Berdiri
Dalam shalat terdapat ketertiban gerakan dan posisi tubuh.
Ketika berdiri, seseorang tidak seharusnya bermain-main dengan tangannya, terus-menerus menggaruk tubuh, melihat ke kanan dan kiri, atau melakukan gerakan yang tidak diperlukan.
Shalat adalah ibadah yang membutuhkan kekhusyukan.
Semakin banyak gerakan yang tidak diperlukan, semakin besar pula peluang hati kehilangan konsentrasi.
6. Menoleh Tanpa Keperluan
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang menoleh dalam shalat.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai menoleh dalam shalat. Beliau menjelaskan bahwa itu merupakan sesuatu yang dicuri oleh setan dari shalat seorang hamba. (HR. Bukhari)
Karena itu, biasakan pandangan tetap tertuju pada tempat sujud atau sebagaimana tuntunan yang diajarkan dalam shalat.
Jika ada kebutuhan atau kondisi tertentu, tentu hukumnya berbeda.
Namun, menoleh hanya karena ingin melihat siapa yang datang atau apa yang terjadi di belakang kita adalah kebiasaan yang sebaiknya ditinggalkan.
7. Bermain-main dengan Pakaian atau Tubuh
Ada orang yang ketika shalat sibuk membetulkan peci, menarik-narik baju, memainkan jenggot, menggaruk kepala, atau memainkan jari.
Padahal, semakin banyak gerakan yang tidak diperlukan, semakin berkurang ketenangan dalam shalat.
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim menghadirkan kekhusyukan.
Maka, sebelum takbiratul ihram, selesaikan terlebih dahulu hal-hal kecil yang mungkin mengganggu konsentrasi.
8. Tidak Memahami Apa yang Dibaca
Banyak orang mampu membaca bacaan shalat dengan lancar, tetapi tidak mengetahui maknanya.
Akibatnya, lisannya membaca, sementara pikirannya berjalan ke mana-mana.
Memahami arti bacaan shalat dapat membantu menghadirkan hati.
Ketika membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, kita sedang memuji Allah.
Ketika membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, kita menyatakan bahwa hanya kepada Allah kita beribadah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.
Bagaimana mungkin hati tidak tersentuh jika seseorang benar-benar memahami apa yang sedang ia ucapkan di hadapan Rabb-nya?
9. Tidak Memperhatikan Saf
Bagi shalat berjamaah, memperhatikan saf juga merupakan bagian dari adab yang penting.
Jangan membiarkan saf renggang tanpa alasan.
Jangan pula sengaja berdiri jauh dari jamaah padahal masih tersedia tempat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Luruskanlah saf-saf kalian, karena lurusnya saf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, sebelum imam bertakbir, hendaknya jamaah memperhatikan kerapian saf.

10. Mendahului Imam
Dalam shalat berjamaah, makmum diperintahkan mengikuti imam.
Jangan mendahului imam dalam rukuk, sujud, maupun gerakan lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, makmum hendaknya menunggu gerakan imam, kemudian mengikutinya dengan tenang.
11. Membiarkan Pikiran Terus Mengembara
Kesalahan yang paling sulit mungkin bukan kesalahan gerakan, tetapi hati yang tidak hadir.
Tubuh berdiri di atas sajadah, tetapi pikiran sibuk memikirkan pekerjaan.
Ketika rukuk, memikirkan urusan dunia.
Ketika sujud, mengingat masalah yang belum selesai.
Ini memang manusiawi. Pikiran bisa saja terlintas tanpa disengaja.
Namun, jangan biarkan diri kita menyerah begitu saja.
Setiap kali pikiran melayang, kembalikan kepada Allah.
Setiap kali hati lalai, ingat kembali bahwa kita sedang berdiri di hadapan-Nya.
BACA JUGA: Bolehkah Berdoa Ketika Sedang Sujud dalam Shalat?
Penutup: Jangan Hanya Mengejar Selesainya Shalat
Shalat bukan sekadar kewajiban yang harus dicentang lima kali dalam sehari.
Ia adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari dunia dan kembali kepada Allah.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Sudahkah aku shalat?”
Tetapi tanyakan juga:
“Sudahkah aku shalat dengan benar?”
Sudahkah rukuk dan sujudku dilakukan dengan tuma’ninah?
Sudahkah bacaanku diperbaiki?
Sudahkah aku berusaha menghadirkan hati?
Dan sudahkah shalat itu memberikan pengaruh kepada akhlak dan kehidupanku?
Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Maka, mari memperbaiki shalat sedikit demi sedikit.
Sebab boleh jadi, selama ini kita bukan kekurangan waktu untuk beribadah.
Kita hanya perlu belajar menghadirkan hati ketika menghadap Allah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

