SHALAT merupakan salah satu ibadah paling penting dalam kehidupan seorang Muslim. Lima kali sehari seorang Muslim berdiri menghadap Allah, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, rukuk, sujud, dan memohon petunjuk serta ampunan. Namun, terkadang ada orang yang rajin shalat tetapi masih memiliki kebiasaan menggunjing, membicarakan aib orang lain, atau menikmati cerita tentang keburukan seseorang. Lalu muncul pertanyaan: kalau shalatnya rajin, mengapa lisannya masih sulit dijaga?
Pertama-tama, kita tidak boleh terburu-buru mengatakan bahwa shalat orang tersebut sia-sia atau tidak diterima. Diterima atau tidaknya suatu amal merupakan perkara yang hanya Allah ketahui. Kita sebagai manusia tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa ibadah seseorang ditolak hanya karena kita melihat ia masih melakukan dosa.
BACA JUGA: Menggunjing Penguasa Dzalim, Apakah Termasuk Ghibah?
Namun, Al-Qur’an memberikan peringatan bahwa shalat seharusnya memiliki pengaruh terhadap perilaku. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 bahwa shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Karena itu, ketika seseorang rajin shalat tetapi masih senang melakukan dosa, ia perlu melakukan introspeksi: apakah shalatnya sudah benar-benar dihayati atau baru sebatas rutinitas gerakan dan bacaan?
Ghibah sendiri bukan perkara ringan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai jika mendengarnya. Bahkan jika yang dibicarakan itu benar, tetap dapat menjadi ghibah. Jika informasi tersebut ternyata tidak benar, persoalannya menjadi lebih berat karena dapat berubah menjadi tuduhan atau fitnah.
Mengapa orang yang rajin shalat masih bisa terjerumus ke dalam ghibah? Salah satu penyebabnya adalah karena lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang sangat mudah digunakan untuk berbuat dosa. Seseorang mungkin mampu menjaga shalat, puasa, dan sedekah, tetapi belum tentu mampu mengendalikan ucapan ketika sedang berkumpul dengan teman.
Ghibah sering kali terasa ringan karena tidak membutuhkan tenaga. Tidak perlu mengeluarkan uang, tidak perlu melakukan perjalanan, bahkan terkadang hanya membutuhkan beberapa kalimat. Seseorang bisa memulai dengan kalimat, “Saya sebenarnya tidak bermaksud menjelekkan, tapi…” lalu pembicaraan berubah menjadi pembahasan panjang tentang keburukan orang lain.
Lingkungan pergaulan juga memiliki pengaruh besar. Jika seseorang terbiasa berada di lingkungan yang menjadikan aib orang lain sebagai bahan hiburan, ia akan lebih mudah mengikuti kebiasaan tersebut. Awalnya mungkin hanya mendengarkan, kemudian tertawa, memberikan komentar, dan akhirnya ikut menyebarkan cerita.
Media sosial membuat masalah ini semakin besar. Ghibah tidak lagi harus dilakukan dengan duduk bersama beberapa orang. Seseorang dapat membicarakan keburukan orang lain melalui grup percakapan, komentar, unggahan, atau pesan pribadi. Bahkan satu komentar dapat dilihat dan disebarkan oleh banyak orang.
Karena itu, menjaga lisan di zaman sekarang menjadi semakin penting. Jangan merasa bahwa mengetik lebih aman daripada berbicara. Jika sebuah tulisan berisi penghinaan atau pembicaraan tentang aib orang lain yang termasuk ghibah, dosa tidak otomatis hilang hanya karena dilakukan melalui ponsel.
Penyebab lainnya adalah seseorang mungkin belum memahami makna shalat yang sebenarnya. Ia mengerjakan shalat karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, tetapi tidak benar-benar menghadirkan hati ketika menghadap Allah. Bacaan shalat diucapkan, tetapi pikiran melayang ke berbagai hal. Akibatnya, shalat belum memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilakunya di luar shalat.
Ini bukan berarti kita boleh meninggalkan shalat karena masih melakukan dosa. Justru sebaliknya, jangan pernah berkata, “Saya masih suka ghibah, jadi buat apa shalat?” Pernyataan tersebut keliru. Shalat tetap wajib dikerjakan, sementara kebiasaan ghibah harus diperbaiki. Seseorang tidak boleh meninggalkan satu kewajiban hanya karena masih terjatuh dalam dosa yang lain.
Bisa jadi seseorang memang sedang berjuang memperbaiki dirinya. Ia sudah meninggalkan banyak dosa, tetapi masih kesulitan mengendalikan lisannya. Perjalanan menuju perbaikan tidak selalu berlangsung dalam satu malam. Yang penting adalah jangan menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk terus mempertahankan dosa.
Jika seseorang sadar bahwa dirinya suka ghibah, salah satu cara memperbaikinya adalah membatasi pembicaraan tentang kehidupan pribadi orang lain. Ketika teman mulai membicarakan keburukan seseorang, kita bisa mengubah topik pembicaraan. Jika tidak mampu menghentikan pembicaraan, setidaknya jangan ikut menambahkan cerita atau menyebarkannya kepada orang lain.
Kita juga perlu belajar bertanya kepada diri sendiri sebelum berbicara: apakah perkataan ini benar-benar diperlukan? Apakah orang yang dibicarakan akan merasa terhina jika mengetahuinya? Apakah pembicaraan ini membawa manfaat atau hanya memberikan hiburan sesaat? Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu seseorang lebih berhati-hati menjaga lisannya.
Selain itu, mengingat kematian dan kehidupan akhirat dapat membantu mengurangi kecenderungan melakukan ghibah. Bayangkan jika seluruh perkataan yang kita ucapkan dicatat dan kelak diperlihatkan di hadapan Allah. Sesuatu yang terasa lucu ketika dibicarakan bersama teman mungkin menjadi perkara yang sangat kita sesali ketika seluruh catatan amal dibuka.
Ada pula hal yang lebih penting: jangan merasa lebih baik hanya karena mengetahui keburukan orang lain. Terkadang ghibah membuat seseorang merasa dirinya lebih saleh. Ia membicarakan dosa orang lain sambil lupa bahwa dirinya juga memiliki banyak kekurangan yang mungkin tidak diketahui siapa pun.
Padahal bisa jadi orang yang sedang kita bicarakan memiliki dosa yang sedang ia perjuangkan untuk ditinggalkan, sementara kita memiliki dosa lain yang belum kita sadari. Karena itu, mengetahui keburukan orang lain seharusnya membuat kita lebih banyak mendoakan dan memperbaiki diri, bukan semakin bangga dengan diri sendiri.
Jika ghibah sudah terlanjur dilakukan, bertaubatlah kepada Allah dan berusahalah menghentikan kebiasaan tersebut. Jika perkataan itu merusak kehormatan seseorang, pertimbangkan dengan bijak bagaimana memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan tanpa justru membuka aib yang lebih besar. Dalam perkara seperti ini, seseorang dapat meminta nasihat kepada ulama atau orang berilmu yang terpercaya agar langkah taubatnya tepat.
Yang juga perlu diingat adalah bahwa tidak semua pembicaraan mengenai keburukan seseorang otomatis menjadi ghibah. Ada keadaan tertentu yang dibolehkan dalam syariat, misalnya mengadukan kezaliman, meminta bantuan untuk menghentikan kemungkaran, meminta fatwa, atau memberikan peringatan agar seseorang terhindar dari bahaya. Tetapi pengecualian tersebut memiliki batas dan tidak boleh dijadikan alasan untuk bebas membicarakan keburukan orang lain.
Jadi, apa yang salah jika seseorang rajin shalat tetapi masih suka ghibah? Bisa jadi masalahnya bukan pada kewajiban shalatnya, tetapi pada bagaimana ia menghayati dan mengamalkan nilai-nilai shalat dalam kehidupannya. Shalat tetap harus dijaga, sementara penyakit lisan harus terus diperbaiki.
Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai menjaga lisan. Mulailah dari sekarang. Kurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, tinggalkan obrolan yang penuh ghibah, dan biasakan berbicara tentang sesuatu yang membawa kebaikan.
Rajin shalat seharusnya membuat seseorang semakin malu kepada Allah ketika hendak melakukan dosa. Setiap kali berdiri dalam shalat, ia mengingat bahwa dirinya sedang menghadap Rabb yang mengetahui seluruh perkataan dan perbuatannya. Jika kesadaran itu semakin kuat, perlahan lisannya pun akan belajar menjadi lebih terjaga.
BACA JUGA: Bagaimana Cara Menghilangkan Korupsi di Suatu Negeri?
Pada akhirnya, jangan hanya menghitung berapa kali kita sudah shalat hari ini. Tanyakan juga: apakah setelah shalat kita menjadi lebih baik dalam berbicara? Apakah kita semakin sulit mencela orang lain? Apakah kita semakin takut membuka aib saudara kita?
Sebab shalat bukan sekadar rutinitas lima kali sehari. Ia seharusnya menjadi jalan yang membentuk hati dan akhlak. Jika lisan kita masih sering tergelincir, jangan tinggalkan shalat. Justru teruslah shalat sambil terus memperbaiki diri, karena seorang Muslim bukan dituntut untuk tidak pernah jatuh, tetapi untuk terus berusaha bangkit dan kembali kepada Allah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

