HUBUNGAN suami istri merupakan perkara yang halal dalam pernikahan. Islam tidak melarang pasangan suami istri menikmati kedekatan dan kasih sayang selama dilakukan dalam batas-batas yang dibenarkan syariat. Namun, ada adab yang perlu diperhatikan, termasuk menjaga privasi agar aktivitas rumah tangga tidak mengganggu atau terdengar oleh orang lain.
Lantas, bagaimana jika ketika berhubungan suami istri muncul suara yang cukup keras? Apakah hal tersebut otomatis menjadi dosa? Jawabannya perlu dilihat dari keadaan dan dampaknya.
Hubungan suami istri adalah perkara yang bersifat privat
Kehidupan seksual suami istri termasuk perkara yang seharusnya dijaga kerahasiaannya. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras kepada orang yang membocorkan rahasia hubungan suami istri kepada orang lain.
BACA JUGA: Suami Istri Sudah Lama Tidak Jima, Apakah Pernikahannya Masih Sehat?
Karena itu, pasangan suami istri hendaknya memiliki kesadaran bahwa hubungan tersebut adalah urusan pribadi. Bukan hanya percakapannya yang perlu dijaga, tetapi juga hal-hal yang dapat membuat aktivitas tersebut diketahui atau didengar oleh orang lain.
Suami dan istri tentu tidak perlu merasa bersalah karena menjalankan hak masing-masing dalam pernikahan. Akan tetapi, mereka tetap perlu memperhatikan adab dan kondisi lingkungan sekitar.
Kalau suara terdengar oleh tetangga bagaimana?
Jika suara hubungan suami istri sampai terdengar oleh tetangga karena dinding rumah tipis, posisi kamar berdekatan, atau kondisi bangunan tertentu, sebaiknya pasangan berusaha mengurangi suara tersebut.
Bukan berarti setiap suara yang tidak sengaja terdengar langsung menjadikan hubungan mereka haram. Namun, jika seseorang mengetahui bahwa suaranya sangat mudah terdengar oleh orang lain tetapi tetap sengaja mengeraskannya, hal tersebut tidak mencerminkan sikap menjaga privasi dan dapat mengganggu kenyamanan orang lain.
Terlebih jika suara tersebut terdengar jelas oleh keluarga, anak-anak, atau tetangga. Dalam kondisi seperti ini, menjaga suara merupakan bagian dari menjaga kehormatan dan rasa malu.
Bagaimana jika anak-anak ada di rumah?
Ini menjadi perhatian yang jauh lebih penting. Anak-anak, terutama yang sudah cukup besar untuk memahami sesuatu, sebaiknya tidak sampai mendengar aktivitas seksual orang tuanya.
Orang tua mempunyai kewajiban menjaga pendidikan dan perkembangan anak. Membiarkan anak mendengar suara hubungan seksual secara jelas dapat menimbulkan rasa ingin tahu yang tidak sesuai dengan usianya.
Karena itu, suami istri sebaiknya memilih waktu dan tempat yang benar-benar memberikan privasi. Pastikan pintu tertutup dan kondisi rumah memungkinkan pasangan menjalankan hak mereka tanpa mengganggu atau mengekspos anak-anak terhadap sesuatu yang belum waktunya mereka ketahui.
Bagaimana jika suara muncul secara spontan?
Manusia tidak selalu bisa mengendalikan setiap suara secara sempurna. Dalam hubungan suami istri, terkadang seseorang mengeluarkan suara secara spontan tanpa bermaksud agar didengar orang lain.
Jika demikian, jangan langsung menganggap bahwa dirinya telah melakukan dosa. Yang menjadi perhatian adalah kesengajaan dan usaha menjaga privasi.
Jika kemudian menyadari bahwa suara tersebut terdengar oleh orang lain, pasangan dapat berusaha lebih berhati-hati pada kesempatan berikutnya. Islam tidak membebani manusia terhadap sesuatu yang berada di luar kemampuan kendalinya.
Jangan sengaja memperdengarkan kepada orang lain
Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan suara atau aktivitas hubungan suami istri sebagai sesuatu yang sengaja diperlihatkan atau diperdengarkan kepada orang lain.
Hubungan seksual merupakan perkara yang sangat pribadi. Bahkan menceritakan detail hubungan suami istri kepada orang lain saja telah mendapatkan peringatan dalam hadis.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang melakukan hubungan dengan istrinya, kemudian menyebarkan rahasia istrinya.
Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Islam dalam menjaga privasi kehidupan seksual pasangan.
Bagaimana jika rumah berdempetan?
Bagi pasangan yang tinggal di rumah kontrakan, apartemen, kos keluarga, atau rumah dengan dinding yang sangat tipis, persoalan ini perlu mendapat perhatian khusus.
Tidak semua bangunan memiliki tingkat kedap suara yang baik. Karena itu, pasangan sebaiknya mempertimbangkan kondisi tempat tinggal sebelum melakukan hubungan suami istri.
Jika mengetahui bahwa kamar mereka berbatasan langsung dengan kamar orang lain, terutama kamar anak atau tetangga, menjaga suara menjadi semakin penting. Tujuannya bukan karena hubungan suami istri itu sesuatu yang buruk, tetapi karena aktivitas tersebut memang seharusnya berlangsung secara tertutup.
Apakah suara keras otomatis haram?
Tidak tepat membuat kesimpulan bahwa setiap suara yang terdengar ketika suami istri berhubungan otomatis haram. Tidak ada ukuran sederhana seperti “suara sekian desibel pasti haram”.
Yang perlu dilihat adalah apakah ada unsur sengaja memperdengarkan, mengganggu orang lain, membuka aurat atau rahasia kepada orang lain, atau menimbulkan mudarat.
Jika suara muncul secara tidak sengaja dan pasangan sudah berusaha menjaga privasi, maka tidak semestinya mereka dibebani dengan rasa bersalah berlebihan.
Namun jika pasangan mengetahui bahwa suara mereka mengganggu atau terdengar jelas oleh orang lain, sebaiknya mereka melakukan upaya untuk menguranginya.
Bagaimana jika tetangga mengeluh?
Jika suatu hari tetangga mengatakan bahwa mereka mendengar suara dari kamar, jangan langsung marah atau mempermalukan tetangga tersebut. Bisa jadi rumah memang memiliki dinding yang sangat tipis sehingga suara mudah merambat.
Pasangan dapat meminta maaf karena telah mengganggu kenyamanan dan kemudian mencari solusi. Misalnya, memilih waktu yang lebih tepat, memindahkan posisi tempat tidur dari dinding yang berbatasan langsung dengan kamar tetangga, atau melakukan langkah lain untuk mengurangi suara.
Sikap seperti ini lebih baik daripada justru mempertahankan kebiasaan tersebut dengan alasan, “Kami kan suami istri, jadi terserah kami.”
Memang hubungan suami istri halal, tetapi hak orang lain untuk mendapatkan ketenangan juga perlu dihormati.
Bagaimana dengan rumah sendiri yang jauh dari tetangga?
Jika pasangan tinggal di rumah yang sangat privat dan tidak ada orang lain yang dapat mendengar atau terganggu, persoalannya tentu berbeda. Mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan kehidupan rumah tangganya secara pribadi.
Meskipun demikian, adab tetap penting. Islam mengajarkan rasa malu, menjaga kehormatan, dan menutup rahasia rumah tangga.
Jadi, bukan berarti suami istri harus merasa kaku atau takut dalam menjalankan hubungan yang halal. Mereka hanya perlu memastikan bahwa perkara tersebut tetap berada dalam ruang privat pasangan.
BACA JUGA: Suami Istri Tak Lagi Jima Padahal Usia Masih 40 Tahun, Bagaimana?
Suami istri pada dasarnya boleh melakukan hubungan intim karena hubungan tersebut halal dalam pernikahan. Namun, menjaga suara agar tidak terdengar oleh anak-anak, keluarga, tetangga, atau orang lain merupakan bagian dari menjaga privasi dan adab rumah tangga.
Jika suara terdengar secara tidak sengaja, pasangan tidak perlu panik atau merasa bahwa hubungan mereka otomatis menjadi dosa. Tetapi apabila suara sengaja dibuat keras sehingga orang lain dapat mendengar, terlebih sampai mengganggu atau membuka rahasia hubungan suami istri, maka sikap tersebut sebaiknya ditinggalkan.
Pernikahan memberikan ruang bagi suami dan istri untuk menikmati kedekatan secara halal. Tetapi sesuatu yang halal pun tetap memiliki adab. Nikmati hak sebagai pasangan, tetapi tetap jaga privasi, kehormatan, dan kenyamanan orang lain. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

