PERNAH nggak kita disakiti seseorang?
Dikhianati. Dikecewakan. Dibohongi. Atau diperlakukan tidak adil. Rasanya tentu tidak enak. Kadang kita ingin menangis. Kadang ingin marah.
Bahkan kadang muncul keinginan untuk mendoakan orang tersebut agar merasakan sakit yang sama. Namun, bolehkah kita mendoakan orang lain ketika hati masih dipenuhi rasa sakit hati?
Sakit Hati Itu Manusiawi
Sakit hati adalah sesuatu yang manusiawi.
Ketika seseorang memperlakukan kita dengan buruk, hati tentu bisa terluka. Islam tidak mengajarkan kita untuk pura-pura kuat. Kita boleh menangis. Kita boleh merasa kecewa. Kita juga boleh mengadu kepada Allah.
Allah bahkan memberikan ruang bagi orang yang dizalimi untuk mengungkapkan keburukan yang dialaminya. Dalam QS. An-Nisa ayat 148, Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menyukai ucapan buruk yang disampaikan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi.
Jadi, menjadi orang yang terluka bukan berarti kita berdosa.
Yang perlu dijaga adalah apa yang kita lakukan setelah terluka.
BACA JUGA: Doa Tanda Taufik
Doa Orang yang Dizalimi
Ada hal penting yang perlu kita ingat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. ([Muslim.or.id][1])
Hadis tersebut menunjukkan bahwa orang yang dizalimi memiliki kedudukan khusus dalam urusan doa. Karena itu, jangan menzalimi orang lain. Tetapi bagi orang yang sedang terluka, hadis ini juga menjadi pengingat agar kita berhati-hati menggunakan kesempatan tersebut.
Jangan sampai doa yang keluar hanya karena emosi.
Bolehkah Mendoakan Keburukan?
Dalam kondisi tertentu, orang yang benar-benar dizalimi memiliki keringanan untuk mendoakan keburukan kepada orang yang menzaliminya. Sejumlah ulama menjelaskan bahwa hal tersebut termasuk hak orang yang terzalimi.
Namun, ada pilihan yang jauh lebih baik. Yaitu menyerahkan urusan kepada Allah. Misalnya dengan berdoa:
“Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang telah terjadi. Jika aku benar-benar dizalimi, berikanlah aku keadilan. Jika dia bersalah, berikanlah dia kesadaran. Dan sembuhkanlah hatiku dari luka ini.”
Doa seperti ini tidak menunjukkan bahwa kita lemah. Justru kita sedang belajar percaya kepada Allah.Jangan Sampai Doa Menjadi Pelampiasan.
Ada perbedaan antara meminta keadilan dan melampiaskan dendam. Meminta keadilan berarti kita menyerahkan persoalan kepada Allah. Sedangkan dendam membuat kita ingin melihat orang lain menderita.
Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya mengendalikan marah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Ini bukan berarti kita harus membiarkan diri terus dizalimi.
Kita tetap boleh menjauh.
Kita boleh membuat batas.
Kita boleh mencari pertolongan.
Tetapi hati jangan sampai berubah menjadi tempat tinggal kebencian.
Dari Sisi Kesehatan
Menariknya, menjaga hati dari kemarahan berlebihan juga memiliki alasan dari sisi kesehatan.
Harvard Health menjelaskan bahwa kemarahan merupakan respons fisiologis. Ketika marah, tubuh dapat mengalami peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan aliran darah sebagai bagian dari respons stres.
Penelitian yang dibahas Harvard Health pada 2024 juga menemukan bahwa episode kemarahan singkat dapat mengganggu fungsi pembuluh darah untuk sementara. Dalam penelitian tersebut, efek gangguan fungsi pembuluh darah terlihat hingga sekitar 40 menit setelah peserta mengingat pengalaman yang membuat mereka marah.
Artinya, melepaskan kemarahan bukan hanya tentang menjadi orang baik.
Tetapi juga tentang menjaga diri sendiri.
Memaafkan Tidak Berarti Melupakan
Memaafkan sering kali dianggap mudah.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada luka yang membutuhkan waktu.
Memaafkan juga tidak berarti kita harus kembali dekat dengan orang yang menyakiti kita.
Kita tetap boleh menjaga jarak.
Kita tetap boleh berhati-hati.
Memaafkan berarti kita tidak ingin luka tersebut terus mengendalikan hidup kita.
Harvard Health juga membahas bahwa mempertahankan kemarahan dan kebencian dapat membebani kondisi psikologis dan tubuh. Sebaliknya, proses memaafkan dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan. ([Harvard Health][4])
Doakan Diri Sendiri Dahulu
Ketika sedang sakit hati, mungkin kita belum mampu mendoakan orang yang menyakiti kita dengan penuh kasih.
Tidak apa-apa. Mulailah dari mendoakan diri sendiri.
“Ya Allah, sembuhkan hatiku.”
“Ya Allah, kuatkan aku.”
“Ya Allah, jangan biarkan rasa sakit ini membuatku menjadi orang yang buruk.”
BACA JUGA: Bolehkah Memperpanjang Sujud untuk Berdoa?
“Ya Allah, berikan aku keadilan tanpa membuatku menjadi zalim.”
Doa seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, bisa menjadi jalan untuk perlahan melepaskan luka. Pada akhirnya, kita tidak harus memenangkan pertengkaran dengan membalas sakit hati.
Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil sembuh.
Kita pernah disakiti. Tetapi kita tidak memilih untuk menyakiti balik.
Kita pernah dikecewakan. Tetapi kita tidak membiarkan kekecewaan mengubah akhlak kita. Dan kita pernah menangis karena seseorang.
Tetapi akhirnya kita bisa berkata:
“Ya Allah, aku serahkan dia kepada-Mu. Urusanku juga aku serahkan kepada-Mu.”
Sebab Allah lebih tahu siapa yang salah. Allah juga lebih tahu seberapa dalam luka yang kita sembunyikan. Maka, jika hati sedang sakit, berdoalah. Tetapi jangan biarkan sakit hati menentukan siapa diri kita. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

