Pernah Zina Sebelum Nikah, Apakah Pernikahan Tidak Akan Bahagia?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Freepik

ADA orang yang menyimpan masa lalu yang sangat berat sebelum menikah. Ia pernah melakukan zina, kemudian benar-benar menyesal, bertaubat, dan berusaha meninggalkan kehidupan tersebut. Namun setelah menikah, muncul rasa takut: “Apakah karena saya pernah zina, rumah tangga saya nanti tidak akan bahagia?”

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Seseorang yang pernah melakukan dosa besar bisa saja terus dihantui rasa bersalah, bahkan ketika kehidupannya sudah berubah. Ia takut masa lalu akan menjadi kutukan yang terus mengikuti, seolah-olah orang yang pernah berzina tidak mungkin mendapatkan pasangan yang baik, rumah tangga yang harmonis, atau kehidupan keluarga yang penuh keberkahan.

Padahal, dalam Islam, dosa masa lalu bukan berarti seseorang tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Allah membuka pintu taubat selama seseorang masih hidup. Karena itu, jangan sampai seseorang yang telah benar-benar bertaubat justru berputus asa dari rahmat Allah.

BACA JUGA: Benarkah Acara Reuni Sekolah Sering Jadi Pintu Zina?

Zina memang dosa besar

Pertama-tama, kita tidak boleh meremehkan zina. Al-Qur’an dengan tegas melarang mendekatinya karena zina bukan hanya persoalan hubungan seksual, tetapi juga berkaitan dengan rusaknya kehormatan, nasab, keluarga, dan moral manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 32 agar kaum Muslimin tidak mendekati zina. Larangan tersebut bahkan menggunakan ungkapan “jangan mendekati”, menunjukkan bahwa Islam juga memerintahkan manusia menjauhi berbagai jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut.

Jadi, seseorang yang pernah berzina memang harus mengakui bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa dan melakukan taubat dengan sungguh-sungguh. Jangan mencari pembenaran terhadap maksiat yang telah dilakukan.

Namun, mengakui dosa bukan berarti seseorang harus menganggap dirinya tidak akan pernah menjadi baik lagi.

Allah masih membuka pintu taubat

Inilah bagian yang sangat penting. Seberat apa pun dosa seseorang, selama ia benar-benar bertaubat kepada Allah, jangan mengatakan bahwa hidupnya sudah hancur selamanya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia.

Taubat yang benar bukan hanya mengucapkan istighfar di mulut. Seseorang harus meninggalkan dosa tersebut, menyesalinya, dan mempunyai tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka persoalan hak tersebut juga harus diselesaikan sesuai ketentuannya.

Karena itu, orang yang pernah zina kemudian meninggalkan perbuatan tersebut dan benar-benar bertaubat tidak seharusnya terus hidup dalam keputusasaan.

Apakah masa lalu pasti membuat rumah tangga tidak bahagia?

Tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa seseorang yang pernah zina pasti akan mempunyai rumah tangga yang tidak bahagia.

Kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh satu peristiwa masa lalu saja. Rumah tangga dibangun oleh iman, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, komunikasi, kesetiaan, kesabaran, serta usaha suami dan istri dalam menjalankan hak dan kewajiban masing-masing.

Orang yang pernah melakukan dosa bisa berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik setelah mendapatkan hidayah dan bertaubat. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah melakukan zina pun tetap bisa mempunyai rumah tangga yang penuh masalah jika ia tidak memiliki akhlak yang baik, tidak bertanggung jawab, suka berbohong, atau tidak menjalankan kewajibannya.

Jadi, jangan menyimpulkan masa depan seseorang hanya berdasarkan kesalahan yang pernah dilakukan sebelum ia berubah.

Tetapi bagaimana jika pasangan mengetahui masa lalu itu?

Ini persoalan yang lebih rumit. Dalam memilih pasangan, kejujuran dan keterbukaan memang penting, tetapi Islam juga mengajarkan agar aib yang telah Allah tutupi tidak diumbar tanpa alasan yang dibenarkan.

Seseorang yang pernah melakukan dosa kemudian telah bertaubat tidak seharusnya menjadikan masa lalunya sebagai bahan kebanggaan atau cerita yang disebarkan kepada banyak orang. Dosa yang telah ditinggalkan tidak perlu dipamerkan kepada dunia.

Namun, jika terdapat persoalan yang menyangkut hak pasangan, kondisi kesehatan, nasab, atau perkara lain yang secara nyata memengaruhi hak dan keputusan pernikahan, persoalannya menjadi lebih kompleks dan sebaiknya dikonsultasikan kepada ustaz atau ahli fikih yang terpercaya.

Yang jelas, jangan menjadikan “menjaga aib” sebagai alasan untuk terus melakukan kebohongan dalam perkara yang memang menjadi hak pasangan untuk mengetahuinya.

Jangan menghukum orang yang sudah berubah

Ada perbedaan besar antara orang yang masih melakukan zina dengan orang yang pernah melakukannya lalu meninggalkan dosa tersebut dan bertaubat.

Kalau seseorang masih melakukan maksiat, tentu ia harus dinasihati dan didorong untuk bertaubat. Tetapi jika seseorang telah meninggalkan dosa dan memperbaiki kehidupannya, jangan terus-menerus memperlakukannya seolah-olah ia masih menjadi orang yang sama.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengunci seseorang di dalam kesalahan masa lalunya. Bahkan kehidupan para sahabat menunjukkan bahwa orang-orang yang sebelumnya hidup dalam berbagai keadaan kemudian berubah setelah mendapatkan petunjuk Islam.

Maka, jangan berkata kepada seseorang, “Kamu pernah zina, jadi kamu tidak pantas mendapatkan pasangan yang baik.” Kalimat seperti itu bisa menghancurkan semangat orang yang sedang berusaha memperbaiki diri.

https://s.shopee.co.id/10wN94gXf1

Bagaimana jika suami atau istri merasa tidak tenang?

Jika seseorang mengetahui bahwa pasangannya memiliki masa lalu yang kelam, perasaan kaget, kecewa, atau marah mungkin saja muncul. Perasaan tersebut manusiawi. Tetapi setelah emosi mereda, perlu dilihat bagaimana keadaan orang tersebut sekarang.

Apakah ia masih melakukan dosa tersebut? Apakah ia sudah benar-benar meninggalkan kehidupan lamanya? Apakah ia menjaga batasan dengan lawan jenis? Apakah ia sekarang menjadi pasangan yang setia dan bertanggung jawab?

Inilah yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dalam kehidupan rumah tangga hari ini.

Masa lalu memang tidak boleh diubah. Tetapi manusia masih bisa mengubah dirinya mulai hari ini.

Jangan merasa pasti akan mendapat pasangan buruk

Sebagian orang memiliki pemahaman yang keliru: “Karena saya pernah zina, nanti saya pasti mendapatkan pasangan yang juga buruk.” Anggapan semacam ini tidak boleh dijadikan keyakinan mutlak.

Allah memang menyebut dalam QS. An-Nur ayat 3 mengenai kesesuaian orang yang berzina dengan pasangan tertentu dalam konteks ayat tersebut. Para ulama memberikan pembahasan dan rincian tentang makna serta hukum ayat ini, sehingga tidak tepat mengambil satu potongan ayat lalu membuat kesimpulan sederhana bahwa setiap orang yang pernah berzina pasti hanya boleh menikah dengan orang yang pernah berzina.

Terlebih lagi, keadaan seseorang bisa berubah. Orang yang dahulu berbuat dosa bisa bertaubat dan menjadi orang yang bertakwa.

Karena itu, jangan menjadikan masa lalu sebagai vonis permanen terhadap seseorang.

Yang harus dilakukan setelah bertaubat

Jika seseorang pernah zina sebelum menikah, kemudian ingin membangun rumah tangga yang baik, fokus utamanya bukan terus menangisi masa lalu. Fokusnya adalah memastikan taubatnya benar dan kehidupannya setelah itu benar-benar berubah.

Perbaiki shalat, jaga pergaulan, tinggalkan lingkungan yang membawa kepada maksiat, hindari hubungan terlarang dengan lawan jenis, dan bangun rumah tangga berdasarkan ketakwaan. Jangan pula menyimpan hubungan dengan mantan pasangan zina setelah menikah karena hal tersebut dapat membuka kembali pintu fitnah dan pengkhianatan.

Pernikahan harus menjadi awal kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar cara untuk menutupi kehidupan lama.

Masa lalu bukan alasan untuk mengulangi dosa

Ada satu hal yang harus sangat diwaspadai. Jangan sampai seseorang berpikir, “Saya sudah pernah zina, jadi sekalian saja.” Ini merupakan jebakan yang sangat berbahaya.

Seorang Muslim tidak boleh menjadikan dosa masa lalu sebagai alasan untuk terus melakukan dosa. Justru jika pernah terjatuh, ia harus belajar agar tidak kembali jatuh di lubang yang sama.

Begitu pula setelah menikah. Pernikahan tidak otomatis membuat seseorang menjadi kebal dari godaan. Kesetiaan harus dijaga. Hubungan dengan lawan jenis harus memiliki batas. Mata, hati, komunikasi, dan pergaulan harus dijaga agar tidak membuka pintu menuju perselingkuhan dan zina kembali.

Pernikahan yang bahagia dibangun setelah akad

Jadi, apakah orang yang pernah zina sebelum menikah pasti tidak akan bahagia? Tidak.

Pernah melakukan zina memang merupakan dosa besar yang harus ditaubati. Tetapi seseorang yang benar-benar meninggalkan zina, menyesal, dan kembali kepada Allah tidak boleh menganggap dirinya telah kehilangan seluruh kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang baik.

BACA JUGA: Mana yang Lebih Berbahaya: Riba, Judi, atau Zina?

Kebahagiaan rumah tangga bukan hadiah khusus bagi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kebahagiaan rumah tangga merupakan sesuatu yang harus dibangun dengan iman, taubat, kesetiaan, tanggung jawab, komunikasi, dan akhlak yang baik.

Jangan biarkan dosa masa lalu membuat seseorang berputus asa dari Allah. Tetapi jangan pula menjadikan harapan atas ampunan Allah sebagai alasan untuk meremehkan dosa.

Kalau masa lalu penuh dosa, perbaikilah masa depan. Kalau dahulu pernah jatuh, bangkitlah. Sebab yang menentukan kualitas kehidupan seorang Muslim bukan hanya bagaimana ia pernah hidup, tetapi juga bagaimana ia bertaubat dan menjalani hidup setelah menyadari kesalahannya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *