Kecanduan Judi Online Tapi Masih Shalat, Masih Ada Harapan Sembuh?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ADA orang yang setiap hari masih mengerjakan shalat lima waktu, tetapi diam-diam juga kecanduan judi online. Setelah azan berkumandang, ia meninggalkan permainan dan berdiri menghadap Allah. Namun setelah selesai shalat, tangannya kembali membuka situs atau aplikasi judi. Ia tahu judi itu haram, tahu uangnya semakin habis, tahu keluarganya mulai kecewa, tetapi berkali-kali berjanji berhenti dan berkali-kali pula kembali bermain.

Lalu muncul pertanyaan yang sangat penting: kalau seseorang masih melakukan shalat tetapi juga kecanduan judi online, apakah masih ada harapan untuk sembuh?

Jawabannya: ada, dan jangan pernah merasa bahwa pintu taubat sudah tertutup.

Justru kenyataan bahwa seseorang masih mau shalat bisa menjadi salah satu tanda bahwa ia belum sepenuhnya meninggalkan hubungan dengan Allah. Jangan mengatakan, “Percuma shalat kalau masih berjudi.” Kalimat seperti itu bisa membuat seseorang semakin jauh dari agama. Yang benar adalah mengatakan, “Jangan tinggalkan shalat, tetapi tinggalkan juga judi.”

BACA JUGA: Bagaimana Judi Slot Menghancurkan Hidup Seseorang?

Shalat jangan ditinggalkan

Seseorang yang terjerumus dalam dosa tidak boleh menjadikan dosanya sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah. Shalat tetap wajib dikerjakan meskipun seseorang sedang berjuang melawan dosa dan kebiasaan buruk.

Jangan sampai setan membisikkan, “Kamu masih berjudi, jadi tidak pantas shalat.” Itu adalah jebakan. Justru ketika seseorang sedang berada dalam kondisi lemah, ia semakin membutuhkan pertolongan Allah melalui ibadah, doa, istighfar, dan taubat.

Shalat bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari seluruh dosa. Tetapi shalat dapat menjadi salah satu jalan untuk memperbaiki diri. Karena itu, orang yang kecanduan judi hendaknya tetap menjaga shalat sambil sungguh-sungguh berusaha meninggalkan perjudian.

Judi tetap merupakan dosa besar

Mempertahankan shalat bukan berarti judi menjadi halal. Keduanya adalah perkara yang berbeda.

Allah dengan tegas menyebut perjudian sebagai perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan dan memerintahkan orang-orang beriman untuk menjauhinya. Judi juga disebut dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian serta menghalangi manusia dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat.

Karena itu, seseorang tidak boleh berkata, “Yang penting saya masih shalat, jadi judi tidak masalah.”

Shalat tidak bisa dijadikan pembenaran untuk mempertahankan judi. Sebaliknya, shalat seharusnya menjadi salah satu kekuatan untuk membantu seseorang keluar dari perjudian.

Kecanduan bukan sekadar masalah kurang iman

Ada orang yang mudah mengatakan kepada pecandu judi, “Kalau imanmu kuat, pasti bisa berhenti.”

Nasihat untuk memperkuat iman memang penting, tetapi persoalannya tidak selalu sesederhana itu. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa gangguan perjudian atau gambling disorder dapat dikategorikan sebagai gangguan mental dan memiliki karakteristik seperti sulit mengendalikan dorongan berjudi, berulang kali gagal berhenti, terus mengejar kerugian, serta mengalami gangguan dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, orang yang sudah kecanduan mungkin benar-benar mengalami kesulitan mengendalikan perilakunya. Ini bukan berarti dosa tersebut menjadi halal atau tanggung jawabnya hilang, tetapi kita perlu memahami bahwa pemulihan terkadang membutuhkan bantuan lebih dari sekadar nasihat.

Sama seperti orang yang mengalami kecanduan lainnya, ia membutuhkan kemauan untuk berubah sekaligus strategi yang tepat untuk memutus kebiasaan tersebut.

Jangan mengejar uang yang sudah hilang

Salah satu jebakan terbesar dalam judi adalah keinginan mendapatkan kembali uang yang sudah kalah.

Seseorang kalah Rp500 ribu. Ia kemudian berpikir, “Saya harus bermain lagi supaya uang itu kembali.” Ketika kalah lagi, ia menambah taruhan. Setelah kehilangan jutaan rupiah, ia semakin yakin bahwa satu kemenangan besar akan mengembalikan semuanya.

Padahal, justru pola seperti inilah yang dapat membuat kerugian semakin besar. Kementerian Kesehatan menyebut bahwa pecandu judi dapat kembali berjudi setelah mengalami kerugian dengan harapan mendapatkan kembali uang yang telah hilang.

Karena itu, salah satu langkah penting adalah menerima kenyataan bahwa uang yang sudah hilang memang sudah hilang. Jangan menggunakan judi untuk mencoba mengembalikannya.

Jika seseorang terus bermain demi “balik modal”, ia sebenarnya sedang mempertaruhkan uang baru untuk mengejar uang lama yang sudah hilang.

Taubat harus dibuktikan dengan tindakan

Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar setelah kalah berjudi.

Taubat harus disertai penyesalan dan usaha meninggalkan perbuatan tersebut. Jika seseorang benar-benar ingin sembuh dari judi online, ia perlu mengambil langkah nyata.

Hapus aplikasi judi. Tutup akun yang digunakan untuk berjudi. Blokir akses yang menjadi pintu masuk. Jangan menyimpan saldo khusus untuk bermain. Hindari teman atau grup yang terus mengajak berjudi. Jika perlu, mintalah orang yang dipercaya membantu mengawasi pengelolaan uang sementara waktu.

Jangan hanya berkata, “Mulai besok saya berhenti.” Buatlah keputusan yang bisa diwujudkan hari ini.

https://s.shopee.co.id/4fvJLSSCoq

Jangan menyimpan uang terlalu bebas jika itu menjadi pemicu

Bagi sebagian pecandu, memiliki akses mudah terhadap uang dapat menjadi pemicu untuk kembali berjudi. Karena itu, pengelolaan keuangan perlu diperbaiki.

Jika sudah menikah, bicarakan masalah ini dengan pasangan secara jujur dan cari solusi bersama. Jika belum menikah, mintalah bantuan orang tua, saudara, atau orang yang dipercaya untuk membantu mengawasi kondisi keuangan.

Hal ini bukan berarti seseorang harus kehilangan seluruh kebebasan finansialnya selamanya. Tujuannya adalah membuat penghalang selama proses pemulihan.

Kecanduan judi sering berkaitan dengan masalah keuangan, kebohongan, kerusakan hubungan keluarga, dan ketergantungan kepada orang lain akibat utang.

Kalau kambuh, jangan menyerah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang berjudi lagi setelah beberapa minggu berhenti, lalu berkata, “Saya memang tidak akan pernah bisa sembuh.” Jangan berpikir seperti itu.

Kambuh memang harus dianggap serius, tetapi satu kali tergelincir bukan alasan untuk kembali berjudi setiap hari. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa dalam proses pemulihan, seseorang perlu kembali pada pola perubahan perilaku yang sedang dijalankan ketika mengalami slip atau relaps. Cari tahu penyebabnya.

Apakah karena sedang stres? Karena mendapatkan uang? Karena melihat promosi judi? Karena teman mengajak? Karena sedang kesepian? Atau karena ingin mengembalikan kerugian lama?

Dengan mengetahui pemicunya, seseorang dapat membuat strategi agar kejadian serupa tidak terulang.

Jangan malu mencari bantuan profesional

Jika seseorang sudah berulang kali berusaha berhenti tetapi selalu gagal, utangnya semakin besar, pekerjaannya terganggu, keluarganya hancur, atau pikirannya terus dipenuhi judi, jangan ragu mencari bantuan profesional.

Kementerian Kesehatan menyebut bahwa penanganan gangguan perjudian dapat melibatkan konseling individu dan keluarga, Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Motivational Interviewing, serta program rawat jalan maupun rawat inap sesuai kondisi pasien.

Mencari bantuan profesional bukan berarti imannya lemah. Justru itu merupakan bentuk ikhtiar.

Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha mencari jalan keluar dari masalahnya. Berdoa kepada Allah penting, tetapi ikhtiar juga harus dilakukan.

Jangan menghina orang yang sedang berjuang

Masyarakat juga perlu berhati-hati dalam menyikapi pecandu judi.

Jangan membenarkan judinya, tetapi jangan pula menghancurkan harapan orang tersebut. Ada perbedaan antara mengatakan, “Judi itu haram dan kamu harus berhenti,” dengan mengatakan, “Kamu sudah rusak dan tidak mungkin berubah.”

Kalimat pertama dapat menjadi nasihat. Kalimat kedua justru bisa membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan pulang.

Jika ada anggota keluarga yang kecanduan judi, bantu ia membuat batasan yang jelas. Dampingi prosesnya. Tetapi jangan pula terus-menerus menutupi utangnya tanpa syarat sehingga ia merasa selalu ada orang yang akan menyelamatkannya dari akibat perjudian.

Kasih sayang tidak berarti membiarkan kecanduan terus berlangsung.

Masih shalat adalah alasan untuk terus berharap

Jika hari ini seseorang masih berjudi tetapi masih shalat, jangan suruh dia meninggalkan shalat. Katakan kepadanya: teruslah shalat dan berjuanglah meninggalkan judi.

Jangan merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Jangan merasa dosa sudah terlalu banyak untuk diampuni. Selama seseorang masih hidup, pintu taubat belum tertutup.

Bisa jadi hari ini ia masih jatuh. Besok ia mencoba lagi. Lusa ia mungkin tergelincir lagi. Tetapi jangan pernah berhenti berusaha sampai kebiasaan itu benar-benar ditinggalkan.

Yang berbahaya bukan hanya orang yang jatuh ke dalam dosa. Yang lebih berbahaya adalah orang yang sudah tidak peduli lagi bahwa dirinya sedang berdosa.

Karena itu, jika hati masih merasa bersalah, masih takut kepada Allah, masih mau shalat, dan masih memiliki keinginan untuk berhenti, jangan matikan harapan itu.

Kecanduan judi online adalah masalah serius, tetapi masih ada harapan untuk sembuh. Tetap menjalankan shalat adalah hal yang harus dipertahankan, bukan ditinggalkan. Namun shalat juga harus diikuti dengan taubat dan tindakan nyata untuk memutus akses terhadap judi.

BACA JUGA: Mana yang Lebih Berbahaya: Riba, Judi, atau Zina?

Jika kecanduan sudah berat dan berulang kali gagal dihentikan, jangan hanya mengandalkan kemauan sendiri. Libatkan keluarga, orang yang dipercaya, ulama atau pembimbing agama, dan bila diperlukan tenaga profesional kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan sendiri menyediakan pendekatan pemulihan untuk gangguan perjudian, termasuk konseling dan terapi psikologis.

Jangan berkata, “Saya masih berjudi, jadi percuma saya shalat.” Katakan sebaliknya: “Saya masih shalat, maka saya harus menggunakan kesempatan ini untuk benar-benar meninggalkan judi.”

Seseorang mungkin pernah kehilangan banyak uang, merusak kepercayaan keluarga, bahkan jatuh berkali-kali. Tetapi selama ia masih mau kembali kepada Allah dan sungguh-sungguh berusaha berubah, jangan pernah menganggap bahwa hidupnya sudah berakhir. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *